• Contact
Minggu, April 19, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Filsafat

Samin Surosentiko Menolak Kekuasaan Monolitik

Redaksi Idenera by Redaksi Idenera
Januari 2, 2026
in Filsafat, Narasi, Warga
Reading Time: 3 mins read
0

Pada tahun 1914, gelombang protes terhadap rezim Belanda di Jawa mencapai puncaknya. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Alexander Willem Frederik Idenburg, setahun sebelumnya dengan hati-hati memberikan dukungan kepada Sarekat Islam (SI).

Langkah diplomatis itu dimaksudkan untuk meredam pemberontakan di desa-desa. Namun hasilnya jauh dari harapan. Perlawanan justru semakin meluas hingga muncul ungkapan populer di kalangan orang Belanda saat itu: “salah Idenburg.”

Meskipun SI dekat dengan dan diakui rezim Belanda, organisasi itu tidak mampu memadamkan protes rakyat pedesaan. Bagi masyarakat desa, SI dipandang sebagai lambang solidaritas melawan struktur kekuasaan lokal yang monolitik. Gerakan ini menyatukan berbagai kelompok yang sama-sama tidak menyukai orang Tionghoa, golongan priyayi, mereka yang menolak menjadi anggota SI, maupun orang Belanda.

Namun, di antara berbagai perlawanan yang menyebar di Jawa, ada satu gerakan yang sangat istimewa. Gerakan itu tumbuh di Blora bagian selatan, dipimpin oleh Samin Surosentiko (1859–1914), seorang petani Jawa buta huruf. Ia menggelorakan perlawanan, bukan hanya terhadap Belanda, tetapi juga terhadap golongan priyayi.

Perlawanan Orang Samin

Samin menghimpun para petani untuk menolak segala bentuk kekuasaan dari luar, terutama peraturan kehutanan Belanda di kawasan hutan jati. Perlawanan ini membuat pejabat priyayi maupun Belanda kewalahan. Tidak seperti SI yang memiliki struktur organisasi dan digerakkan kaum terdidik, gerakan Samin lahir dari komunitas petani sederhana.

Para pengikutnya kemudian dikenal sebagai Orang Samin. Mereka menganut kepercayaan lokal yang disebut Elmu Nabi Adam—ilmu yang diyakini berasal dari Nabi Adam. Walaupun memakai nama tokoh agama, kepercayaan ini tidak terkait dengan Islam, Hindu, maupun Buddha. Hingga kini, asal-usul penamaan itu masih belum jelas.

Menurut M.C. Ricklefs, Elmu Nabi Adam berisi doktrin etika dan religius yang menekankan pentingnya kerja pertanian, pelestarian alam, perlawanan pasif (atau damai), serta keutamaan keluarga inti. Orang Samin juga menolak perekonomian uang, struktur desa hasil adaptasi luar, dan segala bentuk kekuasaan eksternal—termasuk priyayi maupun Belanda.

BacaJuga

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

April 14, 2026
Peneliti Ecoton

Fast Fashion Sumbang Mikroplastik Dalam Darah

April 9, 2026
Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

April 10, 2026
Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

April 1, 2026

Tiga bentuk perlawanan monumental mereka adalah menolak membayar pajak, menolak kerja paksa, dan menolak bersekolah di sekolah pemerintah. Penolakan terhadap sekolah ini sangat berbeda dengan SI yang justru bersemangat mendirikan sekolah hingga ke desa-desa dan perkebunan terpencil di Jawa.

Priyayi yang marah tidak mampu menghentikan Gerakan Samin. Pada 1907, Belanda turun tangan dan menangkap Samin Surantiko. Ia diasingkan ke Palembang dan wafat pada 1914—meski ada sumber lain yang menyebutkan ia meninggal di Padang.

Namun, penangkapan Samin tidak memadamkan gerakan. Perlawanan pasif terus berlanjut dan memuncak kembali pada 1914 ketika Belanda menaikkan pajak. Gerakan Orang Samin bahkan bertahan hingga 1970-an, setelah Indonesia merdeka.

Pada 1967, catatan Ricklefs menyebut kemunculan kembali gerakan petani di Blora Selatan yang dipimpin Mbah Suro (1921–1967), tokoh yang dianggap sakti. Pemerintah Indonesia menuding gerakan itu sebagai kebangkitan komunisme. Tentara dikirim, dan Mbah Suro bersama sejumlah pengikutnya tewas. Meski demikian, gerakan ini tidak bisa langsung disamakan dengan perlawanan Samin Surantiko pada awal abad ke-20.

Relevansi Sosial

Kisah perlawanan Samin Surosentiko hingga Mbah Suro tetap hidup sampai sekarang dalam berbagai versi, baik lisan maupun tulisan. Perbedaan tafsir atas cerita itu lumrah. Yang jelas, gerakan mereka pernah ada dan meninggalkan legenda.

Gerakan Samin lahir dari kebajikan lokal serta keberpihakan pada nilai-nilai hidup yang mereka yakini. Keutamaan itu antara lain menekankan pentingnya kerja pertanian sebagai dasar penghidupan, menjaga kelestarian alam sebagai warisan bersama, dan memperkuat peran keluarga inti sebagai pusat kehidupan sosial.

Selain itu, mereka menolak segala bentuk kekuasaan monolitik yang menindas, menolak perekonomian uang yang dianggap merusak tatanan sosial, serta menolak struktur-struktur luar yang menggerus kemandirian mereka.

Nilai-nilai tersebut hingga kini masih dihidupi Komunitas Adat Sedulur Sikep yang berjuang menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng.


Tulisan ini diolah dari berbagai sumber bacaan dan cerita lisan. Salah satu sumber bacaan adalah buku “Sejarah Indonesia Modern 1200-2005, M.C Ricklefs, Penerbit Serambi, 2005”. Foto : Suara Merdeka/Urip Daryanto, diolah dengan. Meta AI Generator

Tags: BloraRicklefsSamin Surosentiko
SummarizeShare234Send
Previous Post

Gus Dur, Negeri Ini Menangkap Pelajar Bernama Faiz

Next Post

Rasa Sukaku (Udah) Kadaluarsa

Redaksi Idenera

Redaksi Idenera

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kontribusi dalam bentuk tulisan opini, reportase, resensi dan cepen dapat dikirim ke: redaksi.idenera@gmail.com. Semua tulisan dikurasi sebelum dipublikasi.

Related Posts

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta
Filsafat Jawa

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

by Heru Hutomo
April 14, 2026
0

Lamun kalbu wus tamtuAnungku mikani kang amengkuRumambating eneng ening awas elingNgruwat serenging rerenguUrubmu kedhap ing panon Kandha Manyura, Heru Harjo...

Read moreDetails
Peneliti Ecoton

Fast Fashion Sumbang Mikroplastik Dalam Darah

April 9, 2026
Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

April 10, 2026
Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

April 1, 2026
Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Maret 31, 2026
Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Maret 6, 2026
Tombole: Oleh-oleh Warisan Budaya Wakatobi

Tombole: Oleh-oleh Warisan Budaya Wakatobi

Maret 6, 2026
Next Post
Rasa Sukaku (Udah) Kadaluarsa

Rasa Sukaku (Udah) Kadaluarsa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA