Pada tahun 1914, gelombang protes terhadap rezim Belanda di Jawa mencapai puncaknya. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Alexander Willem Frederik Idenburg, setahun sebelumnya dengan hati-hati memberikan dukungan kepada Sarekat Islam (SI).
Langkah diplomatis itu dimaksudkan untuk meredam pemberontakan di desa-desa. Namun hasilnya jauh dari harapan. Perlawanan justru semakin meluas hingga muncul ungkapan populer di kalangan orang Belanda saat itu: “salah Idenburg.”
Meskipun SI dekat dengan dan diakui rezim Belanda, organisasi itu tidak mampu memadamkan protes rakyat pedesaan. Bagi masyarakat desa, SI dipandang sebagai lambang solidaritas melawan struktur kekuasaan lokal yang monolitik. Gerakan ini menyatukan berbagai kelompok yang sama-sama tidak menyukai orang Tionghoa, golongan priyayi, mereka yang menolak menjadi anggota SI, maupun orang Belanda.
Namun, di antara berbagai perlawanan yang menyebar di Jawa, ada satu gerakan yang sangat istimewa. Gerakan itu tumbuh di Blora bagian selatan, dipimpin oleh Samin Surosentiko (1859–1914), seorang petani Jawa buta huruf. Ia menggelorakan perlawanan, bukan hanya terhadap Belanda, tetapi juga terhadap golongan priyayi.
Perlawanan Orang Samin
Samin menghimpun para petani untuk menolak segala bentuk kekuasaan dari luar, terutama peraturan kehutanan Belanda di kawasan hutan jati. Perlawanan ini membuat pejabat priyayi maupun Belanda kewalahan. Tidak seperti SI yang memiliki struktur organisasi dan digerakkan kaum terdidik, gerakan Samin lahir dari komunitas petani sederhana.
Para pengikutnya kemudian dikenal sebagai Orang Samin. Mereka menganut kepercayaan lokal yang disebut Elmu Nabi Adam—ilmu yang diyakini berasal dari Nabi Adam. Walaupun memakai nama tokoh agama, kepercayaan ini tidak terkait dengan Islam, Hindu, maupun Buddha. Hingga kini, asal-usul penamaan itu masih belum jelas.
Menurut M.C. Ricklefs, Elmu Nabi Adam berisi doktrin etika dan religius yang menekankan pentingnya kerja pertanian, pelestarian alam, perlawanan pasif (atau damai), serta keutamaan keluarga inti. Orang Samin juga menolak perekonomian uang, struktur desa hasil adaptasi luar, dan segala bentuk kekuasaan eksternal—termasuk priyayi maupun Belanda.

Tiga bentuk perlawanan monumental mereka adalah menolak membayar pajak, menolak kerja paksa, dan menolak bersekolah di sekolah pemerintah. Penolakan terhadap sekolah ini sangat berbeda dengan SI yang justru bersemangat mendirikan sekolah hingga ke desa-desa dan perkebunan terpencil di Jawa.
Priyayi yang marah tidak mampu menghentikan Gerakan Samin. Pada 1907, Belanda turun tangan dan menangkap Samin Surantiko. Ia diasingkan ke Palembang dan wafat pada 1914—meski ada sumber lain yang menyebutkan ia meninggal di Padang.
Namun, penangkapan Samin tidak memadamkan gerakan. Perlawanan pasif terus berlanjut dan memuncak kembali pada 1914 ketika Belanda menaikkan pajak. Gerakan Orang Samin bahkan bertahan hingga 1970-an, setelah Indonesia merdeka.
Pada 1967, catatan Ricklefs menyebut kemunculan kembali gerakan petani di Blora Selatan yang dipimpin Mbah Suro (1921–1967), tokoh yang dianggap sakti. Pemerintah Indonesia menuding gerakan itu sebagai kebangkitan komunisme. Tentara dikirim, dan Mbah Suro bersama sejumlah pengikutnya tewas. Meski demikian, gerakan ini tidak bisa langsung disamakan dengan perlawanan Samin Surantiko pada awal abad ke-20.
Relevansi Sosial
Kisah perlawanan Samin Surosentiko hingga Mbah Suro tetap hidup sampai sekarang dalam berbagai versi, baik lisan maupun tulisan. Perbedaan tafsir atas cerita itu lumrah. Yang jelas, gerakan mereka pernah ada dan meninggalkan legenda.
Gerakan Samin lahir dari kebajikan lokal serta keberpihakan pada nilai-nilai hidup yang mereka yakini. Keutamaan itu antara lain menekankan pentingnya kerja pertanian sebagai dasar penghidupan, menjaga kelestarian alam sebagai warisan bersama, dan memperkuat peran keluarga inti sebagai pusat kehidupan sosial.
Selain itu, mereka menolak segala bentuk kekuasaan monolitik yang menindas, menolak perekonomian uang yang dianggap merusak tatanan sosial, serta menolak struktur-struktur luar yang menggerus kemandirian mereka.
Nilai-nilai tersebut hingga kini masih dihidupi Komunitas Adat Sedulur Sikep yang berjuang menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng.
Tulisan ini diolah dari berbagai sumber bacaan dan cerita lisan. Salah satu sumber bacaan adalah buku “Sejarah Indonesia Modern 1200-2005, M.C Ricklefs, Penerbit Serambi, 2005”. Foto : Suara Merdeka/Urip Daryanto, diolah dengan. Meta AI Generator








