• Contact
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Filsafat

Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Fian Roger by Fian Roger
Maret 31, 2026
in Filsafat, Narasi
Reading Time: 8 mins read
0

Sejak usia dini sampai menginjak perguruan tinggi, saya dicecoki konsep ini oleh orang tua dan para guru: “Kamu harus menjadi orang yang berguna untuk masyarakat, bangsa dan negara…” Kata “berguna” menjadi kata kunci untuk mereka yang bersekolah. Orientasi sekolah adalah kerja.

Orientasi pendidikan adalah profesi. Arah pendidikan adalah kesuksesan. Kesuksesan ditakar dengan memiliki pekerjaan yang bagus, keluarga yang mapan (plus istri atau suami yang berkarier mantap), menjadi tokoh berpengaruh dalam masyarakat, dikenal banyak orang, kehidupan ekonomi yang cukup, memiliki barang-barang material yang standar kelas menengah, dsb.

Menjadi “manusia” atau “orang” didefinisikan oleh kriteria kesuksesan yang diterima sebagai pandangan umum masyarakat. Hal itu terungkap dalam frase usang, “…dia sudah jadi orang…”  Hemat saya, di balik ungkapan “berguna untuk masyarakat, bangsa dan negara” secara implisit tersembunyi suatu konsep pendidikan berorientasi pasar.

BacaJuga

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

April 14, 2026
Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

April 10, 2026
Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

April 1, 2026
Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Maret 6, 2026

Visi semacam ini menarik jika dihadapkan dengan visi UNESCO mengenai tujuan pendidikan. Menurut lembaga PBB ini, pendidikan bertujuan untuk tercapainya autonomy, equity, dan survival.  Autonomi berkaitan dengan pemberian kesadaran kepada individu atau kelompok agar dapat hidup mandiri dan hidup bersama untuk kehidupan yang lebih baik. Equity atau keadilan berarti pendidikan sedapat mungkin memberi kesempatan kepada seluruh anggota masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan budaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberikan pendidikan dasar yang sama. Dan survival berarti pendidikan kebudayaan akan diwariskan dari generasi ke generasi. (Burhanudin Salam: 1997, 12)

Saya menerima pemahaman humanistis  yang mengatakan bahwa pada dasarnya pendidikan merupakan sebuah proses pemanusiaan manusia, sebuah proses penyadaran dan pembebasan manusia, sehingga dunia semakin manusiawi. Apakah pendidikan berorientasi pasar juga merangkum visi humanistik? Dan apakah menjadi manusia harus memiliki kriteria sukses yang didikte pasar? Dalam uraian berikut, saya mengajak pembaca untuk  melihat pemikiran Herbert Marcuse dan Erich Fromm sebagai pisau analisis terhadap persoalan ini.

Instrumentalisasi dan Operasionalisasi

Herbert Marcuse (1898-1979) menulis buku One-Dimensional Man (1964) yang merupakan salah satu buku filsafat best seller pada abad ke-20. Pada pokoknya, buku ini berisi analisis Marcuse tentang masyarakat industri yang sudah maju. Menurutnya, manusia adalah makhluk yang menurut kodratnya mendambakan kebahagiaan dan berhak juga atas kebahagiaan.

Perwujudan kebahagiaan sama sekali tergantung pada pemuasan kebutuhan-kebutuhan yang sebenarnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, zaman modern ini mempunyai kemungkinan objektif untuk merealisasikan pemuasan ini; antara lain karena pekerjaan-berkat otomatisasi-sudah hampir tidak lagi bersifat menghinakan martabat manusia. Walaupun demikian, manusia modern tetap terhalang dalam merealisasikan kebutuhannya karena suasana represif (menindas) yang menandai masyarakat di mana ia hidup. Bagi Marcuse, masyarakat modern adalah masyarakat yang represif. (Bertens: 2002, 224)

Ciri yang menonjol dari masyarakat industri modern adalah peranan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasionalitas zaman ini adalah rasionalitas teknologis. Di sini masyarakat modern dicirikan oleh instrumentalisasi dan operasionalisasi. Instrumentalisasi berarti cara berpikir dan bertindak di mana manusia dan seluruh lapangan sosial, politik, dan budaya diperalat dan dimanipulasi seperti benda-benda dan mesin untuk melayani produksi. Operasionalisasi berarti konsep-konsep ilmu pengetahuan hanya berguna sejauh dapat diterapkan, sejauh bersifat operable. Hal ini nampak dalam penelitian sosial yang menyingkirkan setiap perubahan kualitatif. Perbaikan sosial hanya dibiarkan sejauh dapat dicocokan dengan sistem secara keseluruhan. (ibid., 225)

Di sini yang menjadi instrumen penindas bukan manusia atau golongan tertentu, tetapi suatu sistem totaliter yang menguasai semua orang. Sistem itu adalah rasionalitas teknologis yang merangkum seluruh realitas alamiah dan sosial. Dan dalam cengkeramannya tak ada orang yang  dapat memengaruhi sistem anonim itu. Sistem ini berlaku untuk semua orang dan semua lapisan masyarakat. Pengaruhnya tampak di segala bidang. Baik di negara-negara dunia maju maupun di negara-negara berkembang, sistem ini hampir menguasai semua bentuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Sistem teknologis sendiri membangkitkan pada manusia keinginan-keinginan yang diperlukan supaya sistem dapat langgeng dan berkembang terus. Dalam masyarakat maju manusia seakan-akan terjepit dalam sebuah lingkaran: di satu pihak produktivitas semakin besar untuk memungkinkan konsumsi semakin besar pula dan di lain pihak satu-satunya alasan bagi konsumsi ialah menjamin berlangsungnya produktivitas.

Dengan menekankan kesempatan kerja, meningkatkan produktivitas, dan kemakmuran, sistem ini seolah-olah mau memajukan pembebasan manusia, tetapi pada ujungnya hanya tertuju kepada perbudakan dan keterasingan. Manusia modern mengira bahwa ia bebas sama sekali dan bahwa ia hidup dalam dunia yang menyajikan kemungkinan-kemungkinan berlimpah-limpah untuk dipilih serta direalisasikan, namun apa yang dikehendaki manusia sebenarnya didiktekan kepadanya. Pada kenyataannya, ia diatur oleh sistem produksi dan konsumsi, media massa dan publikasi periklanan, kaum teknokratis, dsb. Manusia diperalat untuk mempertahankan sistem teknologis yang totaliter.

Orientasi Pasar

Menurut Erich Fromm (1900-1980), orientasi pasar merupakan satu orientasi yang dominan dalam era modern. (Fromm: 2004, 293) Orientasi  ini merupakan salah satu aspek dari orientasi nonproduktif selain tiga yang lain. Pertama, orientasi watak reseptif di mana orang menerima secara pasif apa saja dalam segala bidang hidupnya. Misalnya, dalam praktik pendidikan, orang hanya mengandalkan dikte dari luar dan bantuan dari luar diri, sementara dirinya pasif belaka.

Kedua, orientasi eksploitatif di mana seseorang mengambil secara aktif, bila perlu secara  kekerasan atau kelicikan apa yang diinginkannya. Dalam praktik pendidikan, hal ini setara dengan plagiatisme, menyontek, mentalitas copy-paste, pencurian hak cipta karya, dsb. Ketiga, orientasi menimbun di mana orang hanya menciptakan rasa aman diri dengan mengumpulkan atau menyimpan, entah itu barang material maupun hal rohani seperti pengetahuan. Tipe watak ini susah membagi pengetahuan. Ia hanya mengalami pendidikan sebagai modus “memiliki” bukan “menjadi”. Ia memiliki banyak koleksi buku dan informasi serta memiliki nilai-nilai yang aduhai pada saat ujian, tapi pengetahuannya  tidak diproduksi lebih lanjut. Kalau menjadi berarti ia mampu menghasilkan pengetahuan/ide baru.

Keempat, orientasi pasar yang berakar pada pengalaman terhadap diri seseorang sebagai suatu komoditas dan nilai diri seseorang sebagai nilai tukar. Pada tipe masyarakat industri dan kapitalis dewasa ini perlu dibedakan aspek “pasar”dan aspek “indiferensi” (mengabaikan keunikan setiap orang). Pada konteks masyarakat ini nilai tukar barang di pasar lebih penting daripada nilai pakai. Hidup masyarakat ditentukan oleh proses barter oleh seorang penjual kepada pembeli di dalam konteks ekonomi pasar yang mempunyai aturan-aturan barter tersendiri. Manusia pun melihat diri sebagai “barang jualan” yang dalam persaingan dengan kongruen-kongruen lain hendak menjual diri sebaik mungkin di pasar kepribadian yang senantiasa berfluktuasi. Di pasar kepribadian itu, setiap orang harus menjual diri seturut prinsip larisnya kepribadian tertentu yang dibutuhkan pada saat itu.

Hal pokok ialah penampilan kepribadian manakah yang laku di pasar. “Citra” dan “penampilan” lahiriah menjadi seolah-olah hal yang esensial dan pokok. Sementara bobot atau substansi seseorang dianggap khayalan. Kesuksesan dilihat sebagai kemampuan menjual diri, apakah ia lancar meluncurkan “kepribadiannya” dan apakah ia memiliki penampilan yang baik sesuai dengan tuntutan sektor pasar tertentu. Nilai diri manusia tergantung pada “apakah laku di pasar”. (ibid., 54)

Orientasi pasar memiliki beberapa konsekuensi: pertama, keunikan dan kekhususan individu disamakan saja dengan nilai tukar, dan yang kedua, hubungan antarmanusia menjadi dangkal dan formal. Saya adalah apa yang diinginkan orang lain (i am what you desire), bukan apa yang ingin saya jalani (i am what I have to be or to do). Dalam cara pandang ini, seseorang sangat tergantung pada kondisi-kondisi di luar kontrolnya. Jika “sukses” ia merasa bernilai, jika tidak, ia merasa dirinya tidak bernilai dan tidak laku. Tingkat ketidakamanan sangat tinggi karena dirinya selalu membutuhkan konfirmasi dari luar. Ia terasing dari daya-daya kemampuannya sendiri sebagai suatu entitas yang independen. Prestise, status, dan kesuksesan merupakan pengganti bagi identitas diri yang sejati. Di sini orang terasing dari kebahagiaan karena didikte oleh pasar.

Visi  Humanistik

Tempo mencatat bahwa di Indonesia telah berkembang banyak perguruan tinggi swasta yang menghasilkan lulusan “layak pasar”: bisa langsung terserap pasar kerja, atau lebih baik lagi dapat menjadi wirausaha pencipta lapangan kerja. (bdk. Tempo, 25 April 2010, 60) Misalnya saja, Universitas Pelita Harapan, Prasetiya Mulya Business  School, Universitas Bakrie, Universitas Ciputra, Kampus Global, Universitas Ma Chung, dsb. Mereka adalah lembaga-lembaga pendidikan yang bervisi pasar dengan menggabungkan misi komersial dan visi pendidikan untuk menjawab tuntutan-tuntutan pasar global. Para pendirinya juga adalah kaum konglomerat yang merupakan pemain-pemain pasar yang handal. Kata kuncinya yaitu pendidikan kewirausahaan yang menciptakan corporate man, pemain pasar yang sukses. Tentu saja ini merupakan perkembangan positif bagi dunia pendidikan kita. Tetapi visi pasar seperti ini tidak cukup memadai  secara antropologi filosofis kalau tidak  merangkum visi pendidikan yang humanistik.

Marcuse menunjukkan ketertundukan manusia pada rasionalitas teknologis yang menghasilkan alienasi karena manusia tercabut dari akar identitasnya, di mana ia diatur oleh mekanisme pasar. Instrumentalisasi dan operasionalisasi memang tak bisa dihindari, terlebih lagi dalam dunia pendidikan. Namun, pendidikan berorientasi pasar akan lemah karena kurang melihat efek lebih lanjut pada manusia itu sendiri.

Analisis Fromm lebih tajam; ia mencatat bahwa dalam orientasi pasar manusia akan terasing dari daya-daya kreatifnya, yakni cinta dan karya yang bisa membuatnya menjadi produktif dan menciptakan tanggapan produktif dalam diri sesama. Orientasi produktif berakar pada cinta akan kehidupan (biofilia). Itulah being (mengada/menjadi) bukan memiliki. Sementara orientasi pasar akan menghasilkan individu yang acuh tak acuh, konformis dan otomat serta cenderung menjauhkan diri dari identitas sejatinya sebagai manusia.

Akan menjadi terlampau ekstrem juga bila pasar dicap hanya sebagai lokus alienasi atau sistem tunggal yang menindas dalam rasionalitas teknologisnya. Dunia modern dengan rasionalitas teknologisnya dan juga kiblat pasar adalah sebuah kondisi riil. Secara fenomenologis, pasar merupakan “hukum alamiah” dan di dalamnya kebutuhan-kebutuhan konkret manusia diakomodasi.

Yang menjadi soal adalah bagaimana menempatkan manusia secara seimbang dalam konteks itu. Jangan sampai manusia hanya “berguna” sejauh menjadi instrumen pasar dan ditendang begitu saja ketika ia “tak bernilai” lagi. Jangan sampai keluhuran manusia hanya direduksi sebagai sarana belaka untuk melayani produksi. Jangan sampai  kiblat yang berlebihan pada pasar akan menghasilkan dehumanisasi, penindasan pada karyawan, buruh, para pensiunan, atau keterasingan para profesional dalam lingkup hidup mereka. Jangan sampai corporate man yang diciptakan hanya akan menjadi pribadi yang tidak peduli terhadap tanggung jawab etisnya terhadap sesama dan lingkungan.

Solusi

Bagaimanapun juga, pendidikan berorientasi pasar harus juga merangkum visi pendidikan humanistik, yakni pembentukan kepribadian integral. Pertama, lembaga-lembaga pendidikan harus juga merangkum prinsip konsientisasi dan liberalisasi, visi tentang manusia dan alam yang seimbang dan utuh, serta mampu mengantipasi dehumanisasi. Kedua, pendidikan yang hanya memutlakan orientasi pasar harus diseimbangkan dengan aspek religius, aspek etis, aspek budaya, selain aspek lain seperti intelektual, emosional, dan psikomotorik.

Ketiga, kesuksesan besar pribadi bukan hanya dilihat dari segi lahiriah dan material, tetapi juga sebagai sebuah langkah maju dalam mewujudkan kebaikan diri, masyarakat, dan manusia seluruhnya. Kesuksesan bukan hanya berarti karier yang gemilang, keuangan  yang stabil, laku di pasar kerja, tetapi juga menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Keempat, pendidikan yang berkiblat monoaspek akan menjadi eksklusif karena hanya dijangkau kalangan berduit. Dengan demikian, akan menyisihkan mereka yang dianggap kurang mampu baik secara intelektual maupun finansial. Untuk menjamin keadilan dan menghindari ghetto pendidikan, hendaknya mereka yang rentan dan miskin juga diakomodasi.

Bagi saya, “Menjadi manusia bukan hanya soal laku atau tidak laku, berguna atau tidak berguna, tetapi apakah saya sungguh mengaktualisir seluruh potensi kemanusiaan saya sehingga menjadi pribadi yang baik?”


Gambar ilustrasi dibuat dengan ChatGPT.


Tags: Erich FrommmHerbert MarcusePasarPendidikan
SummarizeShare235Send
Previous Post

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Next Post

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Fian Roger

Fian Roger

Penulis lepas dari Flores. Alumnus Fakultas Filsafat di Universitas Katholik Widya Mandira Kupang

Related Posts

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta
Filsafat Jawa

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

by Heru Hutomo
April 14, 2026
0

Lamun kalbu wus tamtuAnungku mikani kang amengkuRumambating eneng ening awas elingNgruwat serenging rerenguUrubmu kedhap ing panon Kandha Manyura, Heru Harjo...

Read moreDetails
Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

April 10, 2026
Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

April 1, 2026
Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Maret 6, 2026
Berjalan Kaki di Kota Surabaya Seperti Bertaruh Nyawa

Berjalan Kaki di Kota Surabaya Seperti Bertaruh Nyawa

Februari 23, 2026
Indonesia, Negeri Imajinasi

Indonesia, Negeri Imajinasi

Januari 26, 2026
Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Januari 22, 2026
Next Post
Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA