Petrus Bima Anugrah, biasa disapa Bimo atau Bimpet oleh kawan-kawannya, lahir di Malang, 24 September 1973. Ia adalah mahasiswa dan aktivis SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi). Bimo adalah anak dari pasangan Dionysius Utomo Rahardjo dan Genoneva Misiati. Ia anak kedua dari empat bersaudara.
Selain kawan satu organisasi, Bimo juga adik kelas saya di FISIP Universitas Airlangga Surabaya. Ia masuk sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 1993. Bimo kerap terlibat aktif dalam diskusi-diskusi serius tentang sejarah sosial-politik Indonesia dan teori gerakan sosial bersama Kelompok Belajar Mentari (KBM), suatu kelompok studi aktivis mahasiswa Surabaya era 90-an. Sampai kemudian, bersama kawan-kawannya mendirikan SMID Cabang Surabaya. Bimo pun menjadi salah satu pengurusnya.
Karena kecerdasan, militansi dan integritasnya dalam berorganisasi, pada pertengahan tahun 1996, Bimo ditarik ke Jakarta untuk menduduki posisi sebagai salah satu Pengurus Pusat SMID dan memperkuat perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Di tengah kesibukan sebagai aktivis gerakan mahasiswa, Bimo tidak meninggalkan bangku kuliah. Bahkan ia masih sempat menempuh studi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Kesan saya, Bimo adalah pribadi yang menyenangkan, humoris, pintar dan multitalenta. Ia rajin menulis artikel dan cakap dalam berdebat. Bahkan salah satu artikelnya pernah dimuat di harian nasional Kompas. Di mana pada saat itu, hampir tidak ada tulisan dari mahasiswa S1 semester awal yang bisa menembus harian sekelas Kompas.
Bimo juga bisa memainkan gitar dengan tarikan vokal yang enak didengar. Pada tahun 1995, bersama David Kris Baberock, Wisnu Wardhana dan Christanto Wahyu, ia mendirikan kelompok musik protes sosial yang bernama LONTAR. Lirik-lirik lagu LONTAR menyuarakan ketimpangan sosial, kritik terhadap kekuasaan otoriter Orde Baru dan juga seruan perlawanan. Meski kelompok musik ini semua personelnya adalah mahasiswa, LONTAR tidak hanya pentas dari kampus ke kampus, tapi juga dari kampung ke kampung, di permukiman buruh, dan di desa-desa, bernyanyi bersama para petani.

Setelah kerusuhan 27 Juli 1996, Bimo yang saat itu sudah berada di Jakarta menjadi target perburuan aparat militer. Puluhan aktivis SMID dan Partai Rakyat Demokratik (PRD) ditangkap dan disiksa, baik di Jakarta maupun di berbagai wilayah di Indonesia. Bimo lolos dari penangkapan. Sesaat ia bersembunyi, untuk kemudian terlibat dalam konsolidasi gerakan bawah tanah PRD.
Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 1997, terjadi perlawanan dari massa arus bawah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Mereka sudah muak dengan kepalsuan Pemilu Orde Baru yang hanya merupakan ritual politik untuk melanggengkan kekuasaan Jenderal Soeharto. Saat itulah, Bimo berbaur bersama massa PDI dan PPP. Demi menghindari endusan aparat intelijen, Bimo mengganti identitasnya, memakai nama samaran: Marcell. Ia selalu hadir dalam rapat-rapat konsolidasi. Di dalam tasnya, penuh berisi selebaran seruan politik perlawanan terhadap rezim. Ia terlibat sangat serius dalam pengorganisasian massa Mega-Bintang-Rakyat.
Pada pertengahan tahun 1997, Bimo ditangkap karena ketahuan menyebarkan selebaran kampanye Mega-Bintang-Rakyat. Namun, tidak banyak yang mengetahui penangkapan ini, bahkan orangtuanya sendiri. Ia ditahan beberapa hari di Polda Metro Jaya.
Sejak saat itu, teror bermunculan menyasar keluarga Bimo di Malang. Orang tuanya beberapa kali didatangi oleh aparat. Mereka menggertak, “Kami sudah tahu Bimo ada di mana. Anak anda terlibat gerakan subversif. Sah bagi kami untuk melakukan apa saja. Cepat atau lambat, Bimo akan kami tangkap lagi!”
Setelah tiarap agak panjang pascaoperasi militer Juli 1996, demonstrasi-demonstrasi mahasiswa mulai bermunculan kembali pada akhir 1997, dipicu oleh krisis ekonomi global. Sepanjang tahun 1997 itu, Bimo sempat dua kali berkunjung ke Surabaya untuk mengonsolidasikan kawan-kawan yang terberai karena represi keras dari aparat militer Kodam/Bakorstanasda Jawa Timur.
Aksi-aksi turun ke jalan makin membesar dan meluas. Pada awal tahun 1998, mahasiswa mulai bergabung bersama rakyat memenuhi jalan raya, menduduki kantor-kantor pemerintahan dan memaksa Radio Republik Indonesia (RRI) menyiarkan tuntutan penurunan Soeharto, mencabut Dwi Fungsi ABRI dan Paket 5 UU Politik, serta menghapus korupsi-kolusi-nepotisme dalam kekuasaan.
Jenderal Soeharto murka; tentara makin kalap. Untuk menghentikan gelombang perlawanan itu, menjelang Sidang Umum MPR 1998, operasi militer sepenuhnya dikerahkan. Pada bulan Mei, terjadi penembakan terhadap para demonstran di beberapa tempat, antara lain di Jogjakarta, Solo dan Jakarta. Satu mahasiswa UI tewas. Empat mahasiswa Trisakti meregang nyawa, tertembus peluru tajam di kampusnya sendiri. Satu orang pegawai kampus UGM terbunuh dalam sebuah aksi demonstrasi.
Kejadian demi kejadian itu seperti menyiram bensin pada bara api kemarahan rakyat. Terjadi kerusuhan sosial di Jakarta, Solo, Makassar dan beberapa wilayah lainnya. Banyak korban jiwa. Muncul provokasi-provokasi yang menyulut kerusuhan rasial. Termasuk serangan seksual yang menimpa para perempuan etnis Tionghoa.
Kematian para martir itu tidak menyurutkan aksi perlawanan mahasiswa dan rakyat. Justru sebaliknya, makin mendorong keberanian untuk segera menumbangkan kediktatoran Soeharto.
Di Istana Negara, pada tanggal 21 Mei 1998, dalam pidato yang pendek, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden. Sontak, mahasiswa dan rakyat bersorak! Sang Raja Jawa akhirnya lengser dari keprabon.

Setelah itu, barulah muncul kabar: beberapa aktivis hilang! Cak Munir langsung bergerak, memimpin tim investigasi independen untuk mencari kejelasan isu tersebut.
Beberapa aktivis yang diculik dan kemudian dibebaskan memberikan kesaksiannya di depan media massa. Mereka di antaranya: Pius Lustrilanang, Desmon Mahesa, Raharja Waluya Jati, Mugiyanto Sipin, Aan Rusdianto dan Nezar Patria. Mereka diculik, disekap dan disiksa di suatu tempat yang kemudian teridentifikasi sebagai markas Kopassus di Cijantung.
Sejumlah perwira menengah yang tergabung dalam Tim Mawar kemudian dijatuhi hukuman lewat peradilan militer. Komandan Jendral (Danjen) Kopassus Prabowo, diberhentikan melalui sidang Dewan Kehormatan Perwira (DKP).
Lalu, di mana aktivis-aktivis pro-demokrasi lainnya yang masih hilang? Di mana Petrus Bima Anugrah?
Pada 1 April 1998, Petrus Bima Anugrah terlihat untuk terakhir kali dalam pertemuan dengan Sereida Tambunan di sebuah rumah makan. Sebelum meninggalkan tempat, ia menyampaikan pesan:
“Kalau aku tidak bisa di-pager satu jam setelah pertemuan di Grogol, berarti kondisiku dalam bahaya. Kalau satu jam setelahnya masih kesulitan dihubungi, kabarkan ke kawan-kawan bahwa aku hilang.”
Setelahnya, tak ada kabar sama sekali sampai sekarang ini. Padahal Bimo sudah berjanji kepada Bapak dan ibunya bahwa ia pasti akan pulang ke rumah untuk merayakan Paskah bersama seluruh keluarga.
Penulis: Dandik Katjasungkana, kawan Petrus Bima semasa mahasiswa. Gambar utama diolah dengan ChatGPT.













