• Contact
Jumat, April 24, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Filsafat Jawa

Interkulturalisme: Tan Khoen Swie, Tionghoa, dan Kejawen

Heru Hutomo by Heru Hutomo
April 24, 2026
in Filsafat Jawa, Telusur
Reading Time: 3 mins read
0

Seiring dengan pluralisme, multikulturalisme juga merupakan sebuah isu yang terkadang masih memicu perdebatan, apalagi ketika sentimen etnis masih tampak menjadi pendekatan politik ataupun ekonomi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia.

Seumpamanya, multikulturalisme sering dianggap sebagai sebentuk sikap toleran terhadap perbedaan etnis, yang artinya bahwa dalam suatu masyarakat ataupun negara, masing-masing etnis memiliki keberadaan yang sah sebagai sesama warganegara, tanpa peduli pada seberapa besar saham yang mereka sumbangkan pada saat berdiri dan berlangsungnya kehidupan sebuah negara.

Pertanyaan besarnya, apakah pengakuan terhadap perbedaan etnis akan pula membuka ruang bagi sebentuk primordialisme dan chauvinisme, atau etnisitas radikal, mengingat pluralisme pernah juga terjebak pada kerelaan untuk menerima dan mengakui radikalisme keagamaan—bukankah pada waktu itu, yang menolak pembubaran HTI dan FPI, adalah justru kalangan aktivis yang dikenal sebagai pengusung dan pendukung pluralisme?

Ternyata, tak semua kasus berjalan demikian. Pengakuan dan penerimaan terhadap perbedaan etnis tak mesti pula melenyapkan dialog ataupun persinggungan. Tan Khoen Swie adalah seorang pribadi yang terlahir sebagai seorang Tionghoa, yang secara sepintas lalu, sama sekali mustahil untuk (1) ikut membangun peradaban Indonesia dengan mendirikan sebuah penerbitan tertua, Boekhandle Tan Khoen Swie, yang tak sebagaimana Balai Pustaka yang disokong oleh pemerintah Belanda, dan (2) berjasa dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan dan kesusastraan Jawa yang sebelum itu hanya dapat dijangkau oleh para bangsawan keraton.

Tak sekadar sebagai pencandu kebudayaan dan kesusastraan Jawa, sejarah juga mencatat bahwa Tan Khoen Swie adalah juga seorang praktisi kejawen yang, bagi kebanyakan orang, hanya patut dihidupi oleh orang-orang Jawa belaka. Bahkan pun stereotip orang Tionghoa yang cenderung eksklusif dan berorientasi pada nilai-nilai ekonomis seolah luntur ketika ia juga terlibat dalam pembangkangan terhadap Belanda dengan tak mau mencukur rambutnya ala orang-orang Eropa. Dalam pembangkangan terhadap Belanda ini, ia mendirikan Perkumpulan Kioe Kok Thwan.

Toko Soerabaia milik Tan Khoen Swie yang menjual berbagai buku Jawa, Melayu, hingga Belanda, berlokasi di Jalan Dhoho 155, Kota Kediri, Jawa Timur, pada 1925. Sumber: Boekhandel Tan Khoen Swie via Merdeka.com. Diolah dengan ChatGPT.

Pada kasus Tan Khoen Swie, barangkali orang akan menyimpulkan bahwa Tan Khoen Swie, atas pertimbangan-pertimbangan tertentu, sebagaimana sikap yang lumrah dipilih ketika berhadapan dengan politik segregasi di era Orde Baru, terpaksa “berkhianat” terhadap etnisitasnya. Atau, sebagaimana stereotip orang-orang Tionghoa, terlalu cerdik untuk memanfaatkan keadaan.

Namun, ketika orang paham akan kejawen, tentu orang akan paham bahwa Tan Khoen Swie tak sedang “berkhianat” atau memanfaatkan keadaan. Bagi saya, Tan Khoen Swie tak sedang menghidupi apa yang dikenal sekarang sebagai multikulturalisme. Ia tak semata-mata mengakui dan menerima perbedaan etnis. Ia menjadi pengikut dan pelaku kejawen. Ia sungguh paham bahwa pada satu titik manusia bersifat sama. Dan ketika ia lebih banyak menghidupi titik itu, maka kejawen—dan bahkan sufisme ataupun yoga—bukanlah suatu hal yang sama sekali lain.

BacaJuga

Kronologis Operasi Teror terhadap Andrie Yunus

Kronologis Operasi Teror terhadap Andrie Yunus

April 22, 2026
Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

April 14, 2026
Peneliti Ecoton

Fast Fashion Sumbang Mikroplastik Dalam Darah

April 9, 2026
Moke dan Sopi, Antara Adat dan Hidup

Moke dan Sopi, Antara Adat dan Hidup

Januari 29, 2026

Itulah yang saya sebut sebagai “interkulturalisme”, sebentuk sikap yang tak sekadar berhenti pada apa yang beda, namun juga melangkah lebih jauh pada apa yang menopang atau menyebabkan perbedaan itu. Ketika Tan Khoen Swie melintas batas dengan menjadi seorang kejawen dan membangkang terhadap Belanda, tak dengan sendirinya ia juga memaksakan diri untuk menjadi orang Jawa. Karena bagaimana pun Jawa adalah Jawa dan Tionghoa adalah Tionghoa.

Namun, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Tan Khoen Swie, kisah bisa menjadi lain ketika Jawa di sini adalah Jawa dengan kejawen-nya dan Tionghoa adalah Tionghoa dengan konfusianisme ataupun Taoismenya. Dan keteguhan Tan Khoen Swie dalam mempertahankan nama Tionghoa-nya adalah sepenggal bukti bahwa ia tetaplah seorang Tionghoa di samping seorang pengikut kejawen dan pembangkang Belanda.    


Gambar utama diolah dengan ChatGPT.


Tags: InterkulturalismeKejawen
SummarizeShare234Send
Previous Post

Kronologis Operasi Teror terhadap Andrie Yunus

Heru Hutomo

Heru Hutomo

Budayawan dan peneliti. Tinggal di Ponorogo

Related Posts

Kronologis Operasi Teror terhadap Andrie Yunus
Telusur

Kronologis Operasi Teror terhadap Andrie Yunus

by Redaksi Idenera
April 22, 2026
0

Untuk memudahkan pembaca memahami kasus penyiraman air keras terhadap Andri Yunus, Idenera.com membuat kronologi berdasarkan pemberitaan media online dan laporan...

Read moreDetails
Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

April 14, 2026
Peneliti Ecoton

Fast Fashion Sumbang Mikroplastik Dalam Darah

April 9, 2026
Moke dan Sopi, Antara Adat dan Hidup

Moke dan Sopi, Antara Adat dan Hidup

Januari 29, 2026
Jatuh Bangun Etnis Tionghoa Bertahan dari Kekerasan Orde Baru

Jatuh Bangun Etnis Tionghoa Bertahan dari Kekerasan Orde Baru

Januari 6, 2026
Perempuan Pemilah, Minoritas dalam Rantai Pengelolaan Sampah Surabaya

Perempuan Pemilah, Minoritas dalam Rantai Pengelolaan Sampah Surabaya

November 25, 2025
Polisi Langgar Hak Konstitusional Faiz

Polisi Langgar Hak Konstitusional Faiz

Oktober 29, 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA