Lamun kalbu wus tamtu
Kandha Manyura, Heru Harjo Hutomo
Anungku mikani kang amengku
Rumambating eneng ening awas eling
Ngruwat serenging rerengu
Urubmu kedhap ing panon
Suprapto Suryodarmo dan Joget Amerta
Kerap kali perdebatan antara seni klasik dan seni kontemporer berputar pada masalah ketika masih berkerangka pada berbagai tata aturan, atau akrab disebut sebagai “pakem”, maka seni itu masih bertaraf klasik. Dan ketika seolah sudah tak mengindahkan berbagai tata aturan itu, bahkan terkesan memberontak, maka seni itu adalah seni kontemporer.
Saya tak akan memasuki perdebatan tentang sifat klasik ataupun kontemporer dari seni pada esai ini yang, siapa pun tahu, hanyalah kategorisasi yang tersematkan secara semena-mena. Bahkan pun saya tak akan membahas seni an sich ketika seni itu dipahami seolah-olah sebagai hal yang mampu berdiri sendiri.
Memang, konon, kemahiran seseorang dapat pula diukur ketika ia sudah lepas, dalam arti selesai, dengan segala persoalan teknis yang memang lekat dengan hal-hal yang bersifat klasik. Namun, tentu saja terdapat sisi gelap dari argumen yang membangun apa yang dikenal sebagai kontemporeritas: dalih ketakbecusan terhadap hal-hal yang dianggap mendasar dan kepedihan proses.
Pada esai ini saya pun tak akan juga memasuki perdebatan soal berbagai sisi gelap dari apa yang disebut sebagai kontemporer. Taruhlah kontemporeritas itu tak memiliki persoalan di dalam dirinya sendiri, atau dengan kata lain, bahwa tubuh dan jiwa, forma dan substansi, teknis dan tujuan, memang benar adanya. Jadi, ketika saya menyebut kontemporer ataupun kontemporeritas pada esai ini, mesti dipahami sebagai sikap yang sudah tak berurusan dengan hal-hal yang bersifat teknis.
Suprato Suryodarmo, sang pencipta Joget Amerta, adalah seorang seniman yang dapat diletakkan pada kontemporeritas semacam itu. Maka, ketika ia berdiri di wilayah kontemporeritas, alumnus Fakultas Filsafat UGM ini bukan lagi sekadar seorang seniman. Atau dengan kata lain, pada diri dan karya-karyanya dapat diletakkan hal-hal yang sama sekali dapat dilepaskan dari seni: politik, antropologi, ekologi, spiritualitas, dan bahkan agama.
Meskipun secara rendah hati ia menamakan karya geraknya sekadar “joget”, Suprapto Suryodarmo jelas berangkat dari sebongkah fondasi agung kebudayaan Jawa yang melatarinya: meditasi. Menyatakan bahwa fondasi kebudayaan Jawa adalah meditasi, bukan sebentuk hal yang ngayawara.
Saya pernah melakukan penelitian tentang kesenian-kesenian Jawa tradisional, khususnya kesenian wayang purwa yang konon adalah simpul dari berbagai bentuk kesenian yang dimilikinya: seni rupa (tatah-sungging), seni drama, seni sastra, seni tari, dan seni musik.

Pagelaran wayang purwa, bagi saya, adalah sebentuk meditasi yang di masa lalu disebut sebagai “mahyang” atau menuju Tuhan yang setara dengan istilah “sembahyang” (Sangkan-Paran, Heru Harjo Hutomo, Bintang Madani Pustaka, Yogyakarta, 2021).
Dengan demikian, sebenarnya tak hanya Joget Amerta yang bersifat meditatif. Nyaris keseluruhan kesenian klasik Jawa mendasarkan diri pada meditasi, ketika meditasi itu juga adalah sebentuk pengenalan diri beserta segala hal yang melingkupinya. Karakter meditatif ini, dalam kebudayaan Jawa, lazim diungkapkan dengan istilah “sangkan-paraning dumadi.”
Dalam kebudayaan Jawa, secara permukaan, representasi “urip” atau kehidupan dikenal dengan istilah “obah,” “geter” ataupun “kenyut,” yang dalam pagelaran wayang purwa disimbolisasikan dengan wayang bentuk “gunungan” (representasi hidung dan juga gunung Sinai dalam kisah Musa) ataupun “kayon” yang dimaknai sebagai “hayyun” atau kehidupan dan juga, karena disimbolisasikan sebagai pohon atau kayu yang kemudian digetarkan oleh sang dalang, “kajeng” atau “karep” (Ma-Hyang: Melibatkan yang Silam Pada yang Mendatang, Heru Harjo Hutomo, CV Kekata Group, Surakarta, 2020).
Maka, ketika berbicara “pakem” dalam kaitannya dengan perdebatan soal sifat klasik dan kontemporer dari suatu karya, gerak pada Joget Amerta Suprapto Suryodarmo, bagi saya, adalah bagian dari sebentuk takbir atau kasunyatan dari keakbaran Tuhan yang prosesnya adalah melalui pengalaman ataupun gerakan-gerakan otomatis (eksperimental).
Dan kasunyatan itulah yang di dalam khazanah kebudayaan Jawa lebih dikenal dengan ungkapan bahwa sesungguhnya kehidupan adalah ketika yang hidup adalah Sang Kehidupan itu sendiri (Urip). Atau, ketika ditarik pada ranah spiritualitas, sebenar-benarnya meditasi ataupun sembahyang adalah ketika yang bermeditasi ataupun bersembahyang adalah Tuhan jua.
Keadaan semacam itu, konon, hanya dapat terjadi ketika sang pelaku berada pada posisi kebeningan rasa atau suci dari segala pretensi, atau yang dalam bahasa spiritualitas lepas dari segala nafsu, termasuk nafsu untuk menari, bermeditasi ataupun bersembahyang.
Maka, yang kentara dalam Joget Amerta adalah tumbuhnya berbagai gerakan yang tak terstruktur atau lebih dikenal sebagai gerakan-gerakan otomatis, dengan klaim mengikuti berbagai aliran yang tengah terjadi baik dalam jagat cilik (diri manusia) ataupun jagat gedhe (lingkungan hidup) yang memang saling berkaitan karena adanya pancaindra.
Ketika ditarik pada ranah spiritualitas, apa yang menjadi ideal dari Joget Amerta adalah apa yang dalam kebudayaan Jawa disebut sebagai kasunyatan dari keadaan “jumbuhing kawula-Gusti” ataupun “woring kawula lan Gusti,” ketika istilah “kawula” dan “Gusti” di sini adalah representasi dari yang lahir dan yang batin.
Tubuh sang penjoget amerta, dalam hal ini Suprapto Suryodarmo, adalah sebongkah tubuh yang paham akan letak ketubuhannya, atau sadar akan kedudukannya sebagai kawula dari yang batin. Gerakan-gerakan yang terlihat lebih menuruti rasa daripada berbagai pertimbangan yang ada—yang dalam hal ini adalah sebentuk pretensi—adalah bukti dari rasa kumawula tersebut.
Meskipun tampak sekadar joget yang tak terstruktur, Joget Amerta yang pernah dilahirkan oleh Suprapto Suryodarmo ternyata menyibakkan sebuah pemahaman purba tentang diri, sesama, lingkungan hidup, dan bahkan Tuhan, dalam derajat pemahaman yang sepanjang sejarah dianggap sebagai pemahaman yang luhur: pemahaman wong akawruh ataupun pemahaman para sufi.
Yang kemudian menjadi persoalan, dapatkah substansi dari Joget Amerta yang pernah dilahirkan oleh seorang Suprapto Suryodarmo menjadi sebuah sikap keseharian, ketika tren zaman tengah gencar menyorong orang untuk berpretensi, lingkungan hidup yang mulai tidak harmonis, dan bahkan pun Tuhan yang dikesankan menjadi terlalu sepele atau justru sebaliknya, jauh atau dijauhkan hingga musykil untuk digayuh?
Gambar utama diolah dengan ChatGPT.













