Saat pertama kali menonton aksi musik Rock in Halte di CFD (Car Free Day) Solo, ingatan akan masa SMP dan SMA terlintas begitu saja. Khususnya ingatan pada sosok seorang sahabat yang suaranya mirip dengan salah satu vokalis yang manggung di aksi musik itu. Meski suaranya bising, tapi mampu merekatkan siapa pun yang melintas di sana.
Itulah yang membuat aksi musik di pagi hari itu tak sepi dari pengunjung. Meski bukan lagi genre musik masa kini, daya magnetnya masih terasa begitu kuat. Maka tak heran jika aksi musik itu tetap didengarkan dan diminati, termasuk oleh generasi yang gaya hidupnya telah dilonggarkan oleh beragam teknologi di era akal imitasi (AI).
Pelonggaran itulah yang membuat aksi musik ini terdampar di halte. Tempat persinggahan sementara yang memungkinkan orang bertemu muka dan bertegur-sapa, Di sinilah aksi musik ini terasa begitu plural. Itu artinya, tiada lagi benteng atau sekat yang membuat setiap pengunjung dapat bernyanyi sambil berimajinasi seperti ketika sedang berada di kamar mandi. Maka, tak heran jika Seno Gumira Ajidarma pernah menulis cerpen yang berjudul “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” (1995).
Dalam cerpen itu, dikisahkan bagaimana lagu yang dinyanyikan oleh seorang perempuan saat sedang berada di kamar mandi justru menimbulkan “keresahan” di masyarakat. Bukan hanya karena suaranya,namun terlebih lantaran imajinasi yang ditimbulkan oleh suara sang penyanyi itu. Meski suaranya tidak bising alias merdu mendayu-dayu, dampaknya memang menghasilkan kebisingan yang luar biasa (subversi).
Aneh tapi nyata, memang. Suara yang tanpa intensi dan pretensi saja dapat menjadi ancaman yang tak dibayangkan sebelumnya. Masalahnya, apakah suara seperti itu mau diperlakukan sebagai apa? Gangguan yang semakin melonggarkan relasi dengan liyan? Atau, wahana untuk merekatkan satu sama lain agar semakin akrab dalam menjalani kehidupan?
Tentu, Rock in Halte bukan sekadar panggung untuk tampil (show of force). Tetapi ini adalah arena untuk bertemu dan bertegur sapa dengan siapa pun yang ada di samping kiri dan kanan setiap orang yang hadir. Meski hanya lalu-lalang semata, siapa pun yang melintas di sana telah menunjukkan bahwa tak perlu risih untuk bersesama. Karena hal itu hanya mensyaratkan setiap orang yang hadir tidak membawa cermin perbedaan. Dengan demikian, tak ada yang perlu dipertentangkan, apakah suka atau tidak terhadap musik rock, misalnya. Yang penting tertarik dan berminat untuk hadir, meski hanya mampir atau singgah sejenak.
Rock in Halte memang adalah tontonan. Tapi aksi itu juga memberi tuntunan. Bahwa untuk menjadi plural dibutuhkan bahasa bersama yang mampu menyuarakan kepentingan sebagai sesama. Hidup Rock in Halte. Jayalah selalu.
Ilustrasi diolah dengan ChatGPT.
tapi












