• Contact
Rabu, Mei 13, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Filsafat Narasi

Sebelum 13 Mei Menjadi Sekadar Tanggal

Redaksi Idenera by Redaksi Idenera
Mei 13, 2026
in Narasi
Reading Time: 6 mins read
0

Pagi Minggu, 13 Mei 2018. Wenny Angelina membangunkan dua putranya, Evan, 11 tahun, dan Nathan, 8 tahun, untuk sarapan dan mandi, lalu berangkat ke Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Ngagel. Di mobil mereka bercanda. Tidak beda dari pagi-pagi Minggu sebelumnya.

Sekitar pukul 07.15, sebuah sepeda motor menerobos gerbang selatan Gereja SMTB. Bayu, seorang umat yang membantu keamanan gereja, menghadang laju kendaraan itu. Pengendara motor tersebut meledakkan bom yang dibawanya dan memporak-porandakan sisi selatan gereja.

Setelah ledakan pertama di Gereja SMTB, dalam rentang dua jam, ledakan serupa terjadi di GKI Diponegoro dan GPPS di Jalan Arjuno. Empat belas orang meninggal, puluhan luka-luka. Bayu, Evan, dan Nathan gugur dalam ledakan bom tersebut.

Kini sudah delapan tahun berlalu. Tiap tahun, komunitas anak muda Surabaya memilih memperingati tanggal ini. Bukan karena diwajibkan. Tapi melupakan bukan pilihan bagi mereka.

BacaJuga

Pendidikan dan Relevansi

Pendidikan dan Relevansi

April 30, 2026
Andrie Yunus dan Teater Teror

Andrie Yunus dan Teater Teror

April 27, 2026
Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

April 14, 2026
Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

April 10, 2026

Idenera, melalui tulisan ini, mencoba membersamai peringatan ini dengan menghadirkan kembali pesan-pesan kunci yang ditulis dalam buku Merawat Ingatan, Merajut Kemanusiaan. Buku yang kami terbitkan pada tahun 2019, dalam rangka satu tahun peristiwa 13 Mei di Surabaya.

Tidak Melupakan, Tapi Menghidupi

Romo Kurdo Irianto, pastor kepala Paroki SMTB saat itu, merefleksikan peristiwa ini dalam tulisan berjudul “Kurban, Kemartiran dan Hidup Beriman”. Tulisan ini dirangkai berdasarkan hasil wawancara satu tahun setelah kejadian.

Dalam wawancara, Romo Kurdo bercerita: “Ketika saya berada di sana, saya melihat daging di seputar gereja, dan saya duduk dan menangis kira-kira satu sampai dua jam.”

Menurutnya, Evan, Nathan, Bayu, dan korban lainnya datang ke gereja dengan satu tujuan: beribadah. Mereka tidak berencana memberikan luka atau nyawa. Tapi dalam perjuangan untuk hadir dan mewujudkan nilai yang mereka hidupi, mereka menjadi korban.

Dari situ, ia menegaskan bahwa peristiwa ini bukan kekalahan. “Melalui peristiwa ini saya justru merasa bahwa kita diberi peluang untuk lebih mendalam lagi memaknai hidup dan iman, yakni bahwa dunia ini tidak mungkin dibangun dengan kebencian melainkan oleh katresnan, cinta kasih.”

Maka sudah sepantasnya kita menyebut Evan, Nathan, Bayu, dan korban lainnya sebagai martir, karena mereka kehilangan nyawa karena nilai yang mereka hidupi sebagai keluarga Katolik yang setia menghadiri misa. Demikian pula Bayu dan Ari Setyawan, seorang satpam gereja yang meskipun terluka tetap menolong korban: keduanya bertaruh nyawa demi orang banyak.

Kami membaca tulisan Romo Kurdo ini tidak hanya sebagai tafsiran teologis. Ia mengajak kita untuk tidak sekadar mengingat, tetapi secara sadar menghayati: “Jika korban adalah martir, maka ingatan atas mereka bukan sekadar ingatan duka, melainkan agar kita mau meneladani mereka sesuai dengan kekhasan masing-masing.”

Romo Kurdo menyebut empat nilai yang bersama-sama dihidupi dari ingatan akan para korban: pengampunan dan pertobatan, silih dan kemartiran, doa dan devosi, serta solidaritas. Keempat nilai ini, menurutnya, bukan eksklusif, melainkan inklusif, harus terwujud dalam tindakan konkret terhadap sesama, melampaui batas komunitas.

Di sini Romo Kurdo memberi peringatan yang langsung relevan dengan peringatan delapan tahun ini: peristiwa 13 Mei tidak layak diperlakukan hanya sebagai kuburan yang dikunjungi setahun sekali, lalu ditutup kembali dalam seremoni. Cara semacam itu justru melumpuhkan nilai yang bisa digali dari peristiwa tersebut. Sebab seremoni tanpa penghayatan adalah cara paling santun untuk melupakan.

Mereka Mati Jika Kita Lupa

Ketika kami merencanakan buku ini, salah satu pertanyaan yang muncul dari kalangan warga gereja adalah: Mengapa kita bersusah payah mengenang Peristiwa 13 Mei? Bukankah lebih baik kita lupakan saja supaya kita sungguh-sungguh pulih dari keterpurukan?

Romo Aloysius Widyawan, pastor rekan di Gereja SMTB yang bertugas pada hari kejadian, merefleksikan pertanyaan itu dalam tulisan berjudul “Menghidupkan dan Menghidupi Ingatan Akan Peristiwa Iman”.

Ia menulis: “Dalam tradisi iman Katolik, Ekaristi juga adalah ingatan akan pengurbanan diri seutuhnya Tuhan Yesus Kristus. Ingatan itu tidak hanya dihidupkan dalam tanda, sarana, dan tindakan selama perayaan. Ingatan itu juga justru yang menghidupi Gereja sejak zaman para rasul.”

Bagi Romo Widyawan, melupakan peristiwa 13 Mei tidak boleh menjadi pilihan karena itu berarti mengabaikan jeritan korban, upaya mereka untuk memulihkan diri, dan upaya-upaya konkret yang mengekspresikan solidaritas.

“Monumen fisik pun tidak cukup. Batu tidak bisa bercerita sendiri. Yang dibutuhkan adalah manusia yang secara aktif terus mau mengisahkan.”

Dari tulisan ini, kami melihat pesan bahwa menghidupkan dan menghidupi ingatan adalah upaya kecil yang terus-menerus menggugat hati nurani, merangsang akal budi, dan menggerakkan jiwa raga untuk berjuang mewujudkan harapan bersama.

Menjaga ingatan kolektif atas peristiwa 13 Mei adalah salah satu cara agar kita, sebagai masyarakat, menjaga diri dari pengulangan kekerasan, dari normalisasi intoleransi, dari godaan menyederhanakan konflik sosial menjadi sekadar urusan keamanan.

Peringatan atas peristiwa ini, bila dilakukan secara mendalam, seharusnya bukan seremoni. Ia adalah latihan mawas diri kolektif agar kita tidak memberi ruang pada kebencian antarmanusia.

Solidaritas Itu Bertumbuh

Yang sering luput dari narasi resmi tentang Bom Surabaya adalah apa yang terjadi setelahnya, dan itu mungkin bagian yang paling penting untuk dilihat bersama.

Beberapa jam setelah ledakan pertama, sejumlah aktivis lintas agama di Surabaya sudah berkumpul untuk menyatakan sikap. Malam itu ada aksi lilin di Taman Apsari. Tidak ada yang menginstruksikan. Lalu mereka datang ke Gereja SMTB yang masih dipasangi garis polisi dan bertemu dengan Romo Widyawan.

Pada peringatan tujuh hari, halaman SMTB disambut oleh anak-anak muda berpakaian sesuai identitas keagamaan mereka masing-masing, berdiri bersama, mengirim pesan bahwa mereka tidak takut hadir. Pada peringatan 40 hari, diadakan selamatan ala tradisi Jawa dengan kehadiran tokoh lintas agama dan warga biasa. Sebuah petisi ditandatangani bersama dengan seruan: menghormati Tuhan berarti menghargai martabat manusia. Pada peringatan 100 hari, pertemuan berlangsung di warkop Mbah Cokro, Jalan Prapen.

Dan tiap tahun selama delapan tahun, anak muda dari berbagai komunitas selalu terdorong untuk memperingati bukan karena perintah, melainkan karena kesadaran akan solidaritas.

Solidaritas itu tumbuh dari bawah, dari kegelisahan bersama orang-orang yang tidak mau membiarkan peristiwa ini diselesaikan hanya dengan penangkapan pelaku dan pembersihan puing-puing. Inilah yang oleh Romo Kurdo disebut nilai keempat: solidaritas. Bukan sebagai sentimen, tapi sebagai buah nyata dari ingatan yang dihidupi.

Namun solidaritas semacam ini rapuh. Ia tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia perlu terus dilatih dan peringatan tahunan adalah salah satu ruang latihannya.

Mengapa Peringatan Ini Masih Perlu

Delapan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah peristiwa bergeser dari pengalaman menjadi sejarah, dari sesuatu yang dirasakan menjadi sesuatu yang dipelajari. Anak-anak yang lahir pada 2018 kini sudah di bangku SD. Generasi yang mengalami langsung bom itu sudah berada dalam situasi kehidupan yang berbeda.

Tapi waktu bukan alasan untuk berhenti. Justru sebaliknya: semakin jauh sebuah peristiwa dari titik asalnya, semakin besar risiko ia disederhanakan. Peristiwa 13 Mei bisa dengan mudah diringkas menjadi “insiden terorisme yang sudah ditangani”  dan dengan itu, semua kerumitan di baliknya, semua pertanyaan yang belum terjawab, semua luka yang belum sepenuhnya pulih, ikut terkubur.

Ajakan peringatan yang diinisiasi anak muda tiap tahun menolak penyederhanaan itu. Mereka mengajak kita untuk mewujudkan solidaritas yang lahir dari pengalaman nyata menuju solidaritas yang harus dirawat secara aktif, bukan hanya dirayakan dalam momen peringatan. Komunitas anak muda yang setiap tahun memilih hadir adalah bukti bahwa ingatan bisa menjadi tindakan.


Idenera menerbitkan buku Merawat Ingatan, Merajut Kemanusiaan pada Mei 2019 bekerja sama dengan Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Buku ini memuat lebih dari 30 narasi dari korban, pendamping, aktivis, dan pemikir yang merefleksikan peristiwa 13 Mei 2018. Peringatan 8 tahun Bom Surabaya diadakan pada 13 Mei 2026. Gambat utama diolah dengan ChatGPT.


Tags: 13 MeiBom SurabayaPeringatan
SummarizeShare234Send
Previous Post

Sistem Sengaja Bikin Upah Dosen Tetap Murah

Redaksi Idenera

Redaksi Idenera

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kontribusi dalam bentuk tulisan opini, reportase, resensi dan cepen dapat dikirim ke: redaksi.idenera@gmail.com. Semua tulisan dikurasi sebelum dipublikasi.

Related Posts

Pendidikan dan Relevansi
Narasi

Pendidikan dan Relevansi

by Anastasia Jessica
April 30, 2026
0

Yuval Noah Harari memprediksi bahwa pada 2050, banyak pekerjaan yang ada hari ini akan hilang. Jika demikian, pertanyaannya: apa sebenarnya...

Read moreDetails
Andrie Yunus dan Teater Teror

Andrie Yunus dan Teater Teror

April 27, 2026
Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

April 14, 2026
Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

April 10, 2026
Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

April 1, 2026
Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Maret 31, 2026
Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Maret 6, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA