Rabu, Februari 11, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
Moke dan Sopi, Antara Adat dan Hidup

Moke dan Sopi, Antara Adat dan Hidup

Fian Roger by Fian Roger
Januari 29, 2026
in Telusur, Warga
Reading Time: 5 mins read

Saban tahun, Polisi di NTT menyita dan memusnahkan ribuan liter Sopi karena dianggap menciptakan masyarakat pecandu alkohol yang doyan mabuk dan bikin kekacauan.

Namun sebaliknya, Victor Bungtilu Laiskodat (Gubernur NTT 2018-2023) yang saat ini jadi anggota DPR RI bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana dan PT NAM Kupang meluncurkan Sophia, Sopi Asli. Sophia merupakan pengelolaan lanjutan dari arak lokal yang dihasilkan masyarakat NTT.

Bahan Sophia berasal dari Insana dari Timor Tengah Utara, Aimere, Alor dan Adonara. Sophia berkadar 40 % alkohol dan disebut Gubernur Laiskodat akan menyaingi Vodka Rusia. Sebotol Sophia dijual dengan harga Rp 400 ribu sampai dengan Rp 1 juta.

Bagi yang belum tahu, sopi merupakan arak lokal di Pulau Flores dan Nusa Tenggara Timur umumnya yang disadap dari Pohon Lontar atau Pohon Enau, dimasak kemudian menjadi alkohol cair. Sejak zaman Belanda, sopi sudah dikenal dengan nama “Zoopje.”

Proses penyulingan sopi. Foto: AIAset

Sopi Bagi Orang Flores

Baca juga:

No Content Available

Pertengahan Bulan September 2019, saya memandu perjalanan seorang Pengusaha asal Brussel Belgia Bernad Mouyard, untuk mengunjungi pembuatan arak tradisional di Aimere, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada.

Di sana kami berjumpa Nasfer, pria paruh baya turunan Ngada-Sabu. Usahanya memasak sopi sudah jadi pekerjaan warisan dari kakeknya.

Kami pun disuguhkan beberapa botol sopi untuk dicicipi. Dia menawarkan mulai dari yang berkadar alkohol 15 %, 30 %, 50 % sampai 60 %.

Saya mencoba Sopi yang berkadar 60 % menggunakan cangkir yang terbuat dari tempurung kelapa. “Wow, rasa dan aromanya beda. Keras tapi nikmat.”

Sopi berkadar 15 % dijual seharga Rp 30 ribu sebotol ukuran medium, yang 30 % seharga Rp 50 ribu, yang 50-60 % dijual seharga Rp 100 ribu sebotol.

Sopi berkadar 15 % rasanya manis layaknya Wine. Orang-orang sering meraciknya dengan “Pinang Raci” (pemanis dan pemberi warna). Sementara, yang berkadar 50 sd 60 % lazim disebut bakar menyala (BM), karena memang akan menyala kalau iseng dibakar.

Selain sopi, Nasfer juga menjual Gula Cair, Gula Tepung dan Gula Batu berbahan cairan Nira Lontar.

Bernad menolak mencicipi rendaman kuda laut dan embrio rusa, karena baginya itu tak lazim. “Saya lebih suka yang biasa,” katanya.

Bernad menuturkan, di beberapa tempat di Eropa, ada yang melakukan hal serupa. Kodok jenis tertentu direndam dalam sebotol Alkohol. Tetapi rendaman kuda laut dan bayi rusa sungguh tidak lazim bagi di Eropa.

Di UKM milik Nasfer, proses pembuatan sopi dapat disaksikan langsung para pembeli. Air sadapan lontar yang dikumpulkan dari masyarkat sekitar ditampung kemudian dimasak menggunakan priuk tanah.

Kemudian, uapnya dialirkan melalui batang bambu dan dikumpulkan sampai memenuhi jeriken. Uap itulah yang menjadi sopi. Proses ini bisa memakan waktu sehari.

Betapa kagetnya Bernad, tamu asal Belgia itu, rupanya Nasfer juga memiliki racikan Sopi disebut “sopi rendaman.” Rendaman yang lazim seperti paria, gingseng, akar sera, kulit kayu manis itu biasa, tetapi yang tidak lazim yang direndam dalam sopi adalah bayi rusa, kuda laut (sea horse), dan lain-lain.

“Kadar alkohol sopi disesuaikan dengan lamanya tingkat pengolahan,” ujar Nasfer.

Nasfer menuturkan, sebelum Sophia diluncurkan pemerintah Nusa Tenggara Timur melakukan sosialisasi bahwa arak lokal akan dilegalkan dan diberi merek dagang.

Namun ia tidak setuju, jika para pengolah sopi hanya menjadi pemasok bahan sopi untuk kemudian dikemas di Kupang. “Nanti namanya bukan lagi Sopi Flores, tapi Sopi Kupang,” katanya.

Seperti susu kambing sering disebut susu sapi, Nasfer menuturkan, selama ini sopi miliknya dikirim ke Maumere, di sana pengusaha mengemas, lalu yang kemudian yang dikenal sopi Maumere. Padahal sumbernya dari Aimere.

Saya pun bertanya kepada tamu asal Belgia soal, apa yang dia rasakan sehabis mencoba Sopi Flores?

Katanya, “Sopi beraroma buah. Beda dengan jenis alkohol dari merek-merek terkenal. Dan rasanya juga keras. Tidak kalah dengan merek-merek terkenal,” ungkap Bernard.

Sopi dijual dalam botol minuman di pinggir jalan di Aimere, Flores. Gambar diolah dengan ChatGPT dari foto Suryo Sumarahadi/Spektakel.id.

Sopi Antara Adat dan Bertahan Hidup

Dengan berjualan sopi, Nasfer bisa membiaya kehidupan sehari-hari, makan dan minum, serta membiaya pendidikan anak-anaknya. Dia berharap, dengan upaya Pemerintah NTT melegalkan sopi, kesejahteraan pengusaha sopi akan membaik.

Ia pun bercita-cita untuk memiliki merek dagang sendiri seperti Sophia di Kupang. Mudah-mudahan mimpi Nasfer terwujud.

Petugas medis acapkali mewanti-wanti bahwasanya kadar methanol dalam sopi bisa merugikan kesehatan hati, jantung, saraf, ginjal dan macam-macam.

Dan pihak keamanan, mensinyalir bahwa banyak keributan disebabkan karena para pecandu sopi yang mabuk.

Saya pun menemui seorang penikmat sopi bernama Andreas Bhara, Warga Tololela, Desa Manubhara, Kabupaten Ngada.

Ia menuturkan, Sopi menjadi bahan yang penting dalam acara adat selain beras, babi, kerbau dan kain adat.

Pemerintah juga berargumen, sopi harus dilegalkan, dibikin mahal, dan dijual kepada kalangan khusus untuk mengangkat derajat industri sopi rumahan. Dari alkohol rumahan dan murahan menjadi alkohol berkelas ekspor. Tak tanggung-tanggung, Gubernur NTT ingin mengekspor Sophia ke Australia.

Misalnya dalam acara Ka’ Sa’o (peresmian rumah adat) dan Rheba (Reuni Keluarga Besar) tiap klan akan menyiapkan sopi untuk dibawa ke tempat acara.

“Sopi penting tiap kali acara adat,” tuturnya.

Namun bagi Andreas, sopi hanyalah pelengkap perjumpaan. Dan bagi orang Ngada, baik laki-laki dan perempuan, menjadi lazim untuk mencicipi sopi sembari makan.

“Itu biasa di sini,” lanjutnya. Sopi diminum bukan untuk mabuk, melainkan dinikmati sebagai penyemangat saja.

Saat Kampung Tololela terlelap dan bulan penuh menghampiri lereng Inerie, saya menatap sebotol sopi.

“Ada kehidupan yang dipertahankan dalam sebotol sopi ini, namun jangan kebanyakan karena kalau mabuk, kita lupa bahwa bisa jatuh dan terlelap di tanah.”

Usai renungan singkat yang tak perlu itu, saya mengambil cangkir yang terbuat dari tempurung kelapa, mencicipi pelan-pelan sebotol sopi itu bersama rombongan perjalanan dan Pak Andreas sekeluarga.


Gambar utama diolah dengan ChatGPT dari Foto KOMPAS.com/MARKUS MAKUR.


Tags: MokeNTTSopi
SummarizeShare237Send
Previous Post

Indonesia, Negeri Imajinasi

Next Post

Perempuan di Antara Musim

Fian Roger

Fian Roger

Penulis lepas dari Flores. Alumnus Fakultas Filsafat di Universitas Katholik Widya Mandira Kupang

Related Stories

Tabir Getir Child Grooming dalam Buku Broken Strings

Tabir Getir Child Grooming dalam Buku Broken Strings

by Redaksi Idenera
Februari 2, 2026
0

Buku memoar Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings menjadi perbincangan hangat di media sosial. Warganet tidak menyangka bahwa di balik konten yang menghibur dan akting Aurelie di sejumlah film,...

Solusi Palsu Pemerintah Atasi Darurat Sampah

Solusi Palsu Pemerintah Atasi Darurat Sampah

by Redaksi Idenera
Januari 21, 2026
0

Alih-alih mengatasi persoalan sampah, solusi palsu yang ditawarkan pemerintah justru mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan warga.

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

by Heru Hutomo
Januari 19, 2026
0

Arya Banyak Wide atau yang kelak dikenal sebagai Arya Wiraraja yang secara genealogis maupun ideologis menurunkan para visioner nusantara. Satu di antaranya adalah Mada. Semasa bocah, pengucap sumpah...

Kalah Kasasi, CNN Indonesia Wajib Bayar 494 juta ke Pekerja

Kalah Kasasi, CNN Indonesia Wajib Bayar 494 juta ke Pekerja

by Redaksi Idenera
Januari 13, 2026
0

Mahkamah Agung (MA) RI menolak permohonan kasasi yang diajukan manajemen CNN Indonesia dalam perkara pemotongan upah sepihak dan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pekerjanya. Putusan kasasi bertanggal 1...

Next Post
Perempuan di Antara Musim

Perempuan di Antara Musim

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Follow us

Artikel Terbaru

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Januari 20, 2026
Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Januari 19, 2026

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2025 Idenera.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2025 Idenera.com