“Ibuuu!! Ada empat siput berjejer di dekat tanaman tomat,” terdengar sayup-sayup suara anak kecil melengking nyaring dari kejauhan. “Cepat, Bu. Tomatku keburu habis dimakan siput, aku tidak berani mengusirnya. Tolonglah, Bu,” suaranya makin terdengar jelas, seolah semakin mendekat. Memasang wajah lelah setelah berlari cukup jauh, Hagia, gadis kecil berusia sepuluh tahun itu menghentikan langkahnya di belakang punggung sang Ibu.
“Iya, nak. Tunggu sebentar, nanti Pak Mursyid akan membantumu. Ibu masih memilah bibit untuk ditanam,” jawab Gina dengan lembut. Menjadi seorang petani bukanlah cita-cita Gina. Bisa dibilang, profesi ini terpaksa ia lakukan. Semenjak menikah dengan Taru, Gina mau tidak mau harus membantu mertuanya merawat sawah yang tidak seberapa ini luasnya.
Pagi menuju siang yang cukup terik membawa langkah kaki Gina kepada saung kecil di pinggir sawah. “Pak Mursyid, Mbok Sarti, istirahat dulu! Bawa Hagia kemari juga!” teriak Gina dari depan saung. “Iya, Mbak. Sebentar lagi kami ke situ,” jawab Mbok Sarti. Tak lama kemudian, mereka menghampiri Gina yang tengah memijat-mijat kakinya.
“Lelah ya, Mbak? Memang kerja di sawah berbeda dengan pekerjaan Mbak Gina sebelumnya. Tidak panas, duduk di kursi yang empuk, nyaman di tempat yang ndak kotor seperti di sini,” ujar Mbok Sarti. “Ah, tapi asyik juga Mbok bisa mainan tanah begini,” jawab Gina diiringi tawanya yang renyah. “Hagia jadi punya kegiatan Mbok kalau libur sekolah begini, saya senang. Anak ini tidak lagi kecanduan gadget seperti dulu.”
“Eh! Mana Hagia, Mbok?” Gina terkejut melihat anaknya tak kunjung datang. “Tadi bersama Mursyid kok Mbak, tenang saja. Mungkin sedang cari murbei di dekat lahannya Pak Supri,” jawab Mbok Sarti menenangkan. Memang bukanlah keputusan yang mudah bagi Gina untuk meninggalkan kantornya. Apalagi, sawah ini juga entah bisa menghasilkan atau tidak. Yang penting ia sudah menuruti apa mau suami dan mertuanya. Desa juga tidak seburuk itu, hanya saja pendidikan Hagia yang saat ini harus mendapat perhatian khusus.
“Hagia, cepat, Nak. Kasihan Pak Mursyid sudah kelelahan,” teriak Gina dari balik saung sambil menoleh kesana kemari mencari anaknya. Tak lama, Pak Mursyid dan Hagia tiba di saung. Benar kata Mbok Sarti, sekantong murbei dibawa anak itu dengan perasaan gembira. “Senangnya, Non. Dapat berapa banyak?” tanya Mbok Sarti. “Ah, aku tidak bisa menghitungnya, Mbok. Lagian buahnya kecil-kecil. Ini terlalu banyak untuk dihitung,” semua tertawa mendengar jawaban konyol anak manis ini. Siang semakin menyiksa. Panasnya tak henti mengalirkan keringat dari dahi menuju pipi. Setelah selesai menyantap kudapan dan air minum yang dibawa dari rumah, mereka pun memutuskan untuk pulang karena pekerjaan yang juga telah selesai.
Kira-kira pukul enam sore, Taru pulang dari kantor tempat ia bekerja. Gina pun bergegas menyiapkan kopi panas sembari menunggu Taru selesai mandi dan beberes. Di teras rumah, sengaja ia menunggu suaminya sambil sesekali menengok ke ruang tengah. “Mana kopinya, Bu?” tanya Taru. “Ini, Yah. Masih panas, hati-hati,” jawab Gina sambil menyodorkan gelas ke arah Taru. “Terima kasih, ya. Aku cukup lelah hari ini harus mengerjakan pekerjaan Rini yang cuti,” ucapnya sebelum menyeruput kopi. “Wah, Mbak Rini sudah mulai cuti melahirkan, ya?” tanya Gina disambung anggukan Taru. “Kalau boleh bercerita tentang hari ini, aku juga cukup bosan dengan rutinitasku. Sepertinya berada di ladang dan sawah bukan keputusan yang baik, tetapi bukan hal yang buruk juga,” sambung Gina. “Kau perlu terbiasa, selebihnya akan mengalir dan kau akan menikmatinya.”
“Tetapi seperti tak ada yang menarik dan menantang apabila aku hanya melakukan itu-itu saja. Antar-jemput Hagia, pergi ke sawah, menyiangi rumput liar, memilah bibit, itu saja,”
“Ya, mau bagaimana lagi?”
Mereka terdiam, seperti sudah tidak ada tenaga untuk melanjutkan perbincangan yang tak kunjung ditemukan titik terangnya.
“Kau menginginkan sesuatu?” tanya Taru setelah lama terdiam.
“Ya, aku ingin ilmuku tidak sia-sia. Sebagai perempuan, aku tidak ingin mengandalkan laki-laki agar aku bisa bertahan hidup, aku perlu menentukan jalanku sendiri,” jawab Gina dengan yakin.
“Apapun yang saat ini ada di pikiranmu, yakinkan bahwa itu memiliki dampak baik bagimu, bagiku, bagi Hagia, dan bagi keluarga kita.”
Malam menjadi semakin dingin. Angin malam seakan mengusir mereka untuk beranjak dari teras rumah.
Selama kurang lebih satu minggu, Gina masih kebingungan dengan apa yang hendak ia lakukan untuk menghilangkan kebosanan akan rutinitasnya. Pada suatu malam, di tengah tubuhnya yang lelah, ia merasa semua yang dilakukannnya seolah tak pernah cukup. Di ladang ia tertinggal, di rumah ia merasa kehilangan dirinya sendiri. “Sepertinya aku memang tidak pandai hidup di sini,” gumamnya lirih.
Saat hendak merapikan kamar Hagia, pandangannya berhenti pada sebuah buku tipis bersampul biru lusuh yang terselip di bawah bantal. Buku cerita lama milik Hagia, hadiah ulang tahun pertamanya yang dulu sering ia bacakan sebelum tidur. Gina tersenyum kecil, jari-jarinya menyusuri halaman yang mulai menguning. Ia teringat bagaimana mata Hagia dulu berbinar setiap kali mendengar cerita, bagaimana tawa kecil itu memenuhi kamar sempit apartemen mereka di kota. Dada Gina menghangat. “Mungkin bukan ladang yang salah,” bisiknya, “mungkin aku hanya belum menemukan caraku sendiri.”
Saat itulah sebuah pikiran singgah pelan tapi pasti. Bagaimana jika bukan hanya Hagia yang merasakan hangatnya cerita, tetapi juga anak-anak lain di desa ini? Gina menutup buku itu sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak sepenuhnya tersesat. Ia menutup buku itu perlahan, lalu menatap langit-langit kamar sambil menarik napas panjang. Ide itu memang belum sepenuhnya matang, tetapi hatinya terasa lebih ringan dibanding sebelumnya. Malam itu, ia tidur dengan pikiran yang masih bekerja, membayangkan suara anak-anak tertawa, halaman buku yang dibalik pelan, dan ruang kecil yang hangat oleh cerita.
Keesokan harinya, ide itu terasa semakin nyata. Gina mulai membuka kardus-kardus lama berisi novel yang pernah ia cintai, juga buku anak yang sudah lama tak tersentuh oleh Hagia. Ia menumpuk semuanya di sudut garasi.
“Kalau hanya menunggu, aku akan terus lelah,” gumamnya. “Tapi kalau memulainya sekarang, mungkin lelah ini punya arti.”
Dari situlah Gina memutuskan untuk melakukan galang buku untuk perpustakaan kecil miliknya kelak. Ia mulai mengumpulkan buku-buku dari teman-teman, kerabat, dan orang-orang yang ia kenal dari media sosial. Cukup banyak dan beragam buku yang terkumpul, Gina sangat bahagia, hatinya mulai terisi kembali dengan semangat yang sempat meredup. Perpustakaan kecilnya pun sedikit demi sedikit mulai tersusun. Ia sulap garasi yang berdebu itu menjadi ruang baca yang nyaman. Seiring berjalannya hari, anak-anak di desa mulai berdatangan dan senang dengan hadirnya perpustakaan di rumah Gina.
Gina telah menciptakan sebuah tempat kecil yang berharga. Sebagai seorang perempuan, Gina tak mau mimpinya dipatahkan. Meski harus membagi waktu, ia tak pernah lelah ketika matanya menatap perpustakaan kecilnya sepulang dari ladang. Bagi Gina, hidup bukan lagi tentang apa yang hilang dan tiba, melainkan tentang bertahan di antara perubahan. Ia tak lagi takut pada musim yang berganti, sebab di setiap musim, ia sedang bertumbuh. Satu halaman dan satu harapan kecil setiap harinya.
Gambar dibuat dengan ChatGPT










