gtag('config', 'G-Q2NVKJDWRH');
187 0

Pak Jajak Dibunuh Cita-citanya

Mereka tidak mati karena kecelakaan. Mereka dibunuh oleh gerombolan yang anti dengan gerakan kami.

“Buat sampai ke permulaan, kau harus capek setengah mampus, apalagi mempertahankan permulaan agar dapat bertahan lama. Kau mengenalnya sebagai jatuh-bangun, tetapi kami menganggapnya sebagai penempaan diri yang tak beraturan, sebagaimana seharusnya pekerjaan yang diabdikan untuk kemaslahatan rakyat,” kata Pak Jajak, disambung oleh semburan napas panjang. Kerongkongannya getir oleh sisa cukrik.

“Setengah dari orang yang kau kenal selalu ingin mengiris dagingmu pelan-pelan agar kau merasa seolah-olah besok adalah kiamat bagi segala upayamu, sedangkan setengahnya pasti tetap ingin kau berhasil. Yang kedua mungkin dapat kau rasakan pada cinta kasih yang diberikan pada setiap perjumpaan dengan kaum yang sedang tertindas. Tak usah khawatir, itu sebanding dengan seabrek kepentingan pribadi yang begitu angkuh dan samar di sekeliling manusia.”

Pak Jajak menuang lagi sedikit cukrik.

“Demikianlah takdirmu jika kau memilih untuk memulai impian baru, yang bagi setengah dari orang yang kau kenal hanya merupakan bentuk lain dari sifat naif. Untungnya kami tetap meniti jalan kemanusiaan sampai enam tahun lamanya. Setidaknya saat itu kami sudah punya mental dan pikiran yang kebal terhadap niat buruk yang ingin merontokkan semangat kami.”

Su mendengarkan dengan saksama nubuat dari Pak Jajak sambil menahan aroma minuman keras yang tak pernah ia hirup seumur hidupnya.

“Saya hanya coba-coba kalau sedang bosan dan banyak pikiran. Kalau sudah terasa mengantuk, biasanya saya langsung tidur di atas amben ini. Silakan kalau Nak Su hendak mencoba. Sudah saya sediakan gelas.”

“Terima kasih. Lanjutkan saja, Pak, ceritanya. Mungkin lain waktu.”

Sore yang sunyi. Pak Jajak mendongak menatap warna coklat tembaga di langit. Pikirannya mulai melalang ke masa lalu. Puntung rokok disentil menjauh olehnya ke arah latar.

“Hanya kau sendiri yang tahu alasan mengapa kau melakukannya. Bahkan kekasihmu yang itu-itu saja mustahil mengetahuinya. Lakukan meski itu hanya sekadar memasak makanan kesukaanmu, atau mencuci pakaian dalammu sendiri. Selesaikan semuanya dengan sepenuh hati, karena seringan apapun pekerjaan, tetap bakal ada manfaat dan nestapanya. Itu kata-kata almarhum Lompar yang diucapkan kepada kami saat kami bertiga berinisiatif untuk tetap melaksanakan tugas yang dilarang oleh partai. Saya mengingatnya tanpa minus.”

Su mengangguk. Ia memahami bahasa mata dari lelaki penuh uban itu—mata yang kosong, yang penuh arti.

Pak Jajak menuang setetes cukrik ke gelas blirik mungil untuk Su.

“Cukup, Pak, nanti saya mabuk.”

“Cobalah sedikit saja, Nak Su. Tidak akan membuatmu mabuk.”

Tak dapat menolak, Su menenggaknya tanpa sisa.

“Lebih enak daripada whiskey….”

“Anggap saja jamu sebelum tidur,” tegas Pak Jajak sambil tersenyum. “Kami bertiga memang berjuang sama-sama, sampai perlahan tapi pasti satu per satu dari kami dijemput maut. Getuk harus mati di rumah ibunya dan Lompar di trotoar jalan. Entah kapan saya menyusul mereka.”

Amben bambu berdenyit. Su lebih mendengarkan dengan serius sesaat setelah kata “dijemput maut” terujar dari mulut Pak Jajak. Dua nama itu tak asing di telinganya sebagai jurnalis muda yang masih idealis.

Suasana bisu dan tubuh membatu. Asap rokok dihembus perlahan keluar dari mulut dan hidung Pak Jajak.

“Merintis koperasi di lingkungan yang miskin itu gampang-gampang susah, Nak Su. Hanya sedikit orang partai yang mendukung. Banyak yang menolak karena mereka menganggap kami sudah keluar dari program-program yang ditentukan oleh partai. Tapi Getuk tidak mempedulikannya. Ia berdebat alot dengan para ketua kala itu yang ingin kita tetap mengikuti garis Soviet. Kami lalu bekerja tanpa dukungan partai sama sekali.”

“Koperasi itu tidak revolusioner, Pak, bagi mereka, ya?”

“Begitulah. Padahal buruh-buruh di Inggris mendirikan koperasi. Getuk yang pernah berkunjung ke London yakin dengan pendiriannya bahwa koperasi bisa sedikit mensejahterakan para buruh.”

Su mencatat beberapa kata yang menurutnya penting. Tape recorder terus merekam seluruh ucapan Pak Jajak.

“Apa yang Pak Jajak lakukan waktu Getuk berdebat dengan ketua?”

“Saya cuma diam. Tidak sampai otak ini kalau sudah bicara soal teori-teori yang njelimet. Kalau bicara soal tari-tarian, saya biasanya baru nimbrung. Tapi cuma buat curi dengar saja.”

Pembicaraan terhenti sebab kedatangan istri Pak Jajak yang membawakan pisang goreng hangat. Asapnya masih mengepul dan berputar lambat di atas langit petang. Su tergoda oleh baunya. Air liur memenuhi liang mulutnya.

“Lalu, apakah Pak Jajak sudah tahu sebab kematian dari dua kawan dekat Bapak?”

“Tahu, tapi tidak boleh diumbar. Berbahaya, Nak Su.”

“Saya mengerti, Pak. Itu pasti berisiko bagi keselamatan Bapak dan keluarga. Lebih baik memang kalau dirahasiakan saja.”

“Kau benar. Tampaknya kau harus kembali ke penginapan, Nak Su. Hari mau gelap.”

Pak Jajak membungkus semua pisang goreng dan memberikannya kepada Su sebagai oleh-oleh.

“Buat camilan di penginapan, untuk menemani kau menulis.”

***

Lembaran kertas terurai. Su menulis pengalaman pertemuannya dengan Pak Jajak. Ia bekerja hingga jarum jam mendekati angka satu dini hari. Ia sandarkan punggungnya pada kursi, lalu menatap buku catatannya yang memantulkan cahaya redup. Macet, jarinya hanya mampu bergerak hingga paragraf kedua.

Suara pesan masuk di ponsel. Su lekas melirik. Seperti hari-hari kemarin, nomor tak dikenal dengan pesan yang sama berisi satu kata: “Mundur!”

Apakah itu sebuah peringatan bahaya atau bukan, Su sarat oleh rasa takut. Ia sadar tindakannya mewawancarai Pak Jajak dapat mengancam nyawanya. Orang-orang pemerintah masih getol mengawasi siapa saja yang berani mengorek masa lalu mereka, terutama masa lalu presiden.

Su bukanlah orang pintar yang nekat atau orang bodoh yang hanya ingin mati percuma. Ia lebih pantas disebut sebagai anak muda yang sedang terjebak oleh pekerjaan yang penuh risiko demi uang yang tidak seberapa.

Ia bangkit dari kursi dan berjalan gontai menuju dapur penginapan untuk meracik kopi. Kepalanya masih terasa pusing pasca minum beberapa gelas cukrik dari Pak Jajak. Sembari menunggu air panas, pandangannya semakin buram. Malam itu, menyeduh segelas kopi benar-benar membutuhkan tenaga lebih.

Su tak kuat lagi berdiri dan duduk di lantai. Padahal tulisannya harus segera selesai malam itu juga. Setidaknya separuh naskah harus segera dikirim kepada bos di Jakarta untuk seri cerita bersambungnya.

“Bar, bar, barr…,” kemudian hening. Su membuka mata lalu mematikan kompor. Ia tak tahu harus berbuat apa: membuka pintu dulu atau melihat pesan masuk di ponselnya yang terus berbunyi.

“Apakah itu mereka?” Su membatin. “Aku mati, mati… tidak, tak bisa aku mati di tempat ini. Mengapa bos memberikan tugas yang sulit. Brengsek!”

Su meredakan rasa khawatir dengan minum kopi. Kepalanya lebih berasa seringan kapas.

“Servis, Pak Su,” kata pelayan dari balik pintu kamar. “Anda baru saja menelpon, minta tambahan gula!”

***

Semalaman Su tidak tidur. Kegelisahan mengganggunya. Beberapa hari di penginapan melati tanpa hiburan membuat mentalnya malah terganggu. Bagaimana tidak, tugas pertama yang penuh ujian harus ditanggungnya sebagai jurnalis “anak bawang”. Tetapi baginya itu lebih baik daripada harus jadi pengangguran seperti teman-temannya.

Langit terang. Su berganti pakaian. Ia memutuskan untuk berkunjung ke rumah Pak Jajak di pagi hari itu juga karena matanya yang tetap tak mau terkatup. Pertanyaan-pertanyaan wawancara telah siap di kertas kecil. Ia masukkan ke dalam saku celana.

Pak Jajak duduk di atas amben bambu menghirup udara pagi pedesaan. Anehnya, ia berpakaian rapi seolah akan berangkat ke suatu acara resmi. Tak ada kudapan apa pun di hadapannya, termasuk segelas kopi pagi. Pemandangan yang janggal bagi Su yang sudah mulai hafal dengan kebiasaan Pak Jajak.

“Saya sudah menunggumu, Nak Su. Duduklah! Kopi pahit?”

Su setuju.

“Saya sudah siap menjawab semua pertanyaanmu. Tapi kita harus cepat, sebelum kondisinya tidak aman. Kau sudah diteror belum?”

“Hanya dari pesan masuk, Pak. Tidak apa-apa, masih bisa saya atasi.”

Su berekspresi berani agar Pak Jajak tidak merasa enggan melakukan wawancara.

“Kau harus membiasakan dirimu di duniamu yang sekarang, Nak Su.”

Su mengangguk, rasa kantuk bertambah jauh dari kepalanya. Kemarin ancaman yang entah dari siapa, lalu sekarang peringatan dari Pak Jajak. Batinnya kian terusik. Ia baru sadar bahwa pekerjaannya memang berbahaya, tidak seperti bayangannya semula.

“Tentang kematian Getuk dan Lompar, saya sudah siap melanjutkan.”

Su melihat Pak Jajak tampak lebih tenang dibanding kemarin sore.

“Mereka tidak mati karena kecelakaan. Mereka dibunuh oleh gerombolan yang anti dengan gerakan kami. Berita memberi judul yang sangat merendahkan Getuk dan Lompar. Foto mayat mereka dipampang tanpa sensor dan begitu besar, sehalaman. Penuh darah. Banyak luka robek dan tusuk. Orang yang membunuh mereka sengaja melakukannya agar kawan-kawan kami lainnya jadi takut. Judul beritanya saja selalu diawali dengan kata-kata: mayat tak dikenal.”

Pak Jajak mengusap air mata di ujung matanya.

“Saya menyayangi mereka, Nak Su. Sudah seperti saudara saya sendiri, karena kami tumbuh dan belajar bersama sejak remaja. Cita-cita kami juga hampir serupa kalau menyangkut manusia—kemanusiaan radikal, istilah Getuk.”

“Apa Bapak sanggup melanjutkan?”

“Masih,” kata Pak Jajak sambil menyeruput kopinya. Begitu pula Su.

“Semenjak kematian mereka, saya kabur ke gunung, membangun gubuk kecil. Saya tinggal selama sepuluh tahun sendiri di sana. Saya tidak sempat menyentuh tubuh kaku mereka, Nak Su, bahkan melawat ke makamnya. Saya pengecut. Begitu tahu berita tentang pembunuhan itu, saya sembunyi sampai suasana tenang. Koperasi yang sudah kami bangun juga bubar.”

Pak Jajak turun dan memakai sandalnya. Ia mendatangi beberapa orang yang baru saja turun dari mobil minibus.

“Pulanglah, Nak Su. Semoga kita bisa bertemu lagi.”

Darius Tri

Penulis Cerpen dan Pegiat Literasi di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *