• Contact
Jumat, Maret 6, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Filsafat Narasi

Pahlawan Rakyat vs Pahlawan Nasional: Gus Dur Tidak Minta, Kita yang Butuh

Siti Sumriyah by Siti Sumriyah
Desember 30, 2025
in Narasi, Warga
Reading Time: 4 mins read
0

Tasyakuran atas gelar pahlawan nasional yang dianugerahkan kepada KH. Abdurrahman Wahid, atau yang kita kenal sebagai Gus Dur, kali ini terasa agak sentimentil bagi saya.

Bagaimana tidak? Penganugerahan gelar pahlawan ini juga disematkan kepada Soeharto.

Untungnya, tasyakuran di Gedung Negara Grahadi (11/11/2025) ini hanya untuk Gus Dur. Kalau dirapel juga, mungkin saya enggan datang. Dalam tasyakuran ini, saya melihat Ibu Nyai Sinta Nuriyah, istri almarhum Gus Dur, bersama putrinya, Mbak Yenny Wahid. Bu Nyai Sinta menyampaikan sambutan yang membuat saya kagum sekaligus terharu.

“Dalam hidupnya, Gus Dur tidak pernah terlintas untuk mendapatkan penghormatan sebagai pahlawan nasional. Yang penting bagi beliau adalah menjadi pahlawan rakyat” kata Bu Nyai Sinta.

Kalimat itu seperti angin sejuk di tengah panasnya protes sebagian masyarakat yang masih memperjuangkan keadilan bagi korban tragedi di era Orde Baru. Tidak berapi-api, tapi menembus hati.

Sinta Nuriyah, istri almarhum Gus Dur, bersama putrinya Yenny Wahid menghadiri tasyukuran gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur di Gedung Negara Grahadi Surabaya (11/11/2025). Foto: Sumriyah

Ketika Gelar Tidak Sepenting Doa

Kita semua tahu, negeri ini punya banyak “Pahlawan Nasional.” Ada yang diabadikan di uang kertas, di nama jalan, bahkan di stadion. Tapi tidak semua pahlawan nasional adalah pahlawan rakyat.

Ada yang diangkat karena jasanya, ada juga karena kuasanya. Ada yang dibangun tugunya di mana-mana, tapi rakyat justru trauma mendengar namanya. Sementara Gus Dur, bahkan tanpa tugu megah, tetap dikenang.

“Pahlawan rakyat belum tentu menjadi pahlawan nasional. Pahlawan nasional pun belum tentu menjadi pahlawan rakyat. Tapi pahlawan rakyat selalu ada di hati rakyat,” lanjut Bu Nyai Sinta.

Negara bisa memberi gelar, tapi hanya rakyat yang bisa memberi tempat di hati.

Bu Nyai sempat bertanya kepada para hadirin:

“Siapa yang akan bapak dan ibu kunjungi lebih dulu? Pahlawan rakyat atau pahlawan nasional?”

Dan audiens serentak menjawab: “Pahlawan rakyat!”

“Ya, karena mereka adalah pahlawan yang membela dan memperjuangkan rakyat,” ujar Bu Nyai menegaskan.

Makam Gus Dur tak pernah sepi. Orang datang dengan kepala tertunduk, membawa doa dan rindu. Itulah pahlawan rakyat yang tak menuntut penghormatan, tapi terus dihormati.

Warisan yang Tak Bisa Hilang

Bu Nyai Sinta mengingatkan, Gus Dur memperjuangkan bukan harta, tapi nilai-nilai.

“Sebelum semuanya, Gus Dur memperjuangkan kemanusiaan. Gus Dur memperjuangkan demokrasi, keadilan, toleransi, dan kesejahteraan,” ujarnya.

Kalimat itu seperti kompas moral di tengah zaman yang sering kehilangan arah. Hari ini, banyak orang sibuk memperjuangkan diri sendiri sambil mengaku “ini demi rakyat.” Tapi Gus Dur dulu memperjuangkan rakyat, meski tahu resikonya kehilangan kekuasaan. Bahkan beliau pernah mengatakan di sebuah talkshow, bahwa dirinya tiga kali menjadi target pembunuhan.

Ada orang yang berkuasa lama sekali, tapi setelah turun, rakyatnya malah bersyukur.

Sementara Gus Dur hanya berkuasa sebentar, tapi sampai hari ini rakyat masih merindukannya.

Indonesia, Taman Indah yang Sering Dirusak Tukang Kebun

Salah satu bagian paling indah dari sambutan Bu Nyai adalah ketika beliau berkata: “Indonesia adalah taman yang ditumbuhi berbagai macam bunga. Ada mawar, melati, kenanga, anggrek, dan semuanya memperindah taman ini. Tapi setiap bunga tidak bisa dipaksa menjadi bunga yang lain.”

Metafora sederhana tapi tajam. Sayangnya, di taman Indonesia ini, selalu ada tukang kebun yang ingin semua bunga berwarna sama, beraroma sama, dan tumbuh di barisan rapi. Alasannya: “Biar seragam.” Padahal taman yang terlalu seragam itu bukan taman. Itu sawah.

Soal Agama, Gus Dur Punya Cara yang Lebih Manusiawi

Bu Nyai juga mengingatkan satu kalimat legendaris Gus Dur:

“Tuhan tidak akan menanyakan apa agamamu, tapi perbuatan baik apa yang telah kamu lakukan untuk umat manusia.”

Kalimat ini seharusnya jadi pengingat bagi semua orang, terutama mereka yang sibuk menilai iman orang lain, tapi lupa bercermin pada perilaku sendiri.

Sekarang ini, yang sering terdengar bukan “apa yang kamu lakukan untuk manusia?”, tapi “kamu dari kelompok mana dulu?”. Padahal Tuhan tidak butuh kartu anggota. Ia hanya butuh kebaikan yang tulus. 

Lagu, Rakyat, dan Keputusan Hati

Pidato Bu Nyai ditutup dengan ajakan sederhana namun simbolik: menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Suaranya lirih, tapi seluruh ruangan bergema.

Dalam momen itu terasa bahwa Gus Dur memang sudah tiada, tapi semangatnya belum pergi. Pahlawan nasional bisa ditetapkan lewat keputusan presiden. Tapi pahlawan rakyat hanya bisa ditetapkan lewat keputusan hati semua rakyat.

Dan di hati rakyat, Gus Dur sudah lama diangkat bukan dengan upacara, tapi dengan cinta.

BacaJuga

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Maret 6, 2026
Tombole: Oleh-oleh Warisan Budaya Wakatobi

Tombole: Oleh-oleh Warisan Budaya Wakatobi

Maret 6, 2026
UKWMS dan AFTI  Bahas Krisis Ekologi dan Etika Teknologi

UKWMS dan AFTI Bahas Krisis Ekologi dan Etika Teknologi

Maret 4, 2026
AJI Latih Jurnalis Bongkar Operasi Informasi Asing dan Domestik

AJI Latih Jurnalis Bongkar Operasi Informasi Asing dan Domestik

Maret 6, 2026

Gus Dur tidak pernah meminta disebut pahlawan nasional. Karena sejak lama, rakyat sudah memutuskan: beliau pahlawan kita. Al-Fatihah untuk beliau.

Gambar Gus Dur diolah dengan ChatGPT.

Tags: Gus DurPahlawan NasionalPahlawan Rakyat
SummarizeShare235Send
Previous Post

Pra Peradilan Faiz Ditolak, Pengadilan Melegitimasi Pelanggaran Polisi

Next Post

Narno

Siti Sumriyah

Siti Sumriyah

Kontributor Idenera.com. Aktivis lingkungan dan keberagaman. Ketua Jaringan Gusdurian Surabaya 2023-2025.

Related Posts

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?
Filsafat

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

by Redaksi Idenera
Maret 6, 2026
0

Modernisme di balik semua kemajuan yang dibawanya telah ditemukan bermasalah terhadap keutuhan hidup dunia dan segala isinya, terlebih terhadap alam....

Read moreDetails
Tombole: Oleh-oleh Warisan Budaya Wakatobi

Tombole: Oleh-oleh Warisan Budaya Wakatobi

Maret 6, 2026
UKWMS dan AFTI  Bahas Krisis Ekologi dan Etika Teknologi

UKWMS dan AFTI Bahas Krisis Ekologi dan Etika Teknologi

Maret 4, 2026
AJI Latih Jurnalis Bongkar Operasi Informasi Asing dan Domestik

AJI Latih Jurnalis Bongkar Operasi Informasi Asing dan Domestik

Maret 6, 2026
Berjalan Kaki di Kota Surabaya Seperti Bertaruh Nyawa

Berjalan Kaki di Kota Surabaya Seperti Bertaruh Nyawa

Februari 23, 2026
Tabir Getir Child Grooming dalam Buku Broken Strings

Tabir Getir Child Grooming dalam Buku Broken Strings

Februari 2, 2026
Moke dan Sopi, Antara Adat dan Hidup

Moke dan Sopi, Antara Adat dan Hidup

Januari 29, 2026
Next Post
Narno

Narno

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA