• Contact
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Lingkungan

Gaya Makan Orang Beriman

Redaksi Idenera by Redaksi Idenera
November 27, 2025
in Lingkungan, Narasi
Reading Time: 5 mins read
0

“Dalam semua acara penting, salah satu hal yang pasti jadi perhatian adalah makanan, termasuk gaya makan”.

Tanggal 27 Januari 2025 lalu, saya menghadiri undangan open house pentahbisan Uskup Keuskupan Surabaya. Setelah kurang lebih 15 bulan posisi tersebut kosong, akhirnya Paus Fransiskus menetapkan Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo atau Mo Dik sebagai Uskup terbaru. Meskipun bukan Katolik, saya turut bangga dan berbahagia. Beliau adalah salah satu Romo yang punya rekam jejak dalam kerja-kerja sosial kemanusiaan bersama lintas iman dan kaum marginal.

Aula Widya Mandala Hall, tempat open house, terlihat ramai. Saya dan rombongan sampai di sana tepat pukul 20.00 WIB dan langsung diantarkan ke meja nomor 21. Terlihat round table lain juga sudah dipenuhi para tokoh pemuka agama lintas iman dan kepercayaan. Tepat selepas duduk, pelayan siaga meletakkan serbet di pangkuan saya. Acara ini menghidangkan makanan ala Table d’hôte, di mana para tamu disuguhkan empat macam menu yang dihidangkan bergiliran dengan jeda waktu tertentu. Spontan, saya pun ambil ancang-ancang, siap bergaya menyesuaikan style penyajian makanan. Pelayan mendekatkan piring dalam jangkauan. Saya pun berhitung dengan semua peralatan makan. Tidak rumit, karena hanya ada satu sendok dan satu garpu berukuran sedang serta satu sendok kecil. Tidak ada pisau. Saya pun langsung beralih melihat menu.

Menu pertama, appetizer berupa Tiramisu & Croissant Keju Daging Asap dan minuman Lemongrass. Pelayan juga sigap menuangkan air putih dari botol ke gelas. Tak lama, pelayan datang dan menyuguhkan menu kedua, Steak Ikan Salmon. Saya pun heran. Si pelayan segera menjelaskan ada pergeseran menu; Sup Merah yang mestinya disuguhkan nomor dua digeser. “Masih dihangatkan lagi,” katanya.

Saya pun menikmati steak salmon yang berisi salmon moza, mashed potato, dan salad. Saat itu saya merasa membutuhkan pisau. Daging salmon yang padat itu agak susah dinikmati menggunakan sendok dan garpu saja. Selesai makan, pelayan sigap membereskan piring kotor. Selang beberapa menit, Sup Merah hangat datang. Rasanya perpaduan asam, manis, dan segar. Tak lama setelahnya, pelayan sudah siap menyajikan menu ketiga: nasi uduk.

Saat nasi uduk berisi daging lapis, sate kelapa ayam, balado kentang, dan perkedel kornet tersaji manis, di situlah saya dilema. Rasanya perut ini sudah terisi 70%. Sebagai orang yang concern dengan isu lingkungan, saya paham betul ke mana makanan-makanan ini akan berakhir bila tidak dihabiskan. Awalnya saya berniat untuk tidak menyentuhnya, dengan harapan makanan ini setelahnya masih layak makan dan bisa didistribusikan lagi. Kak Tyas yang duduk di sebelah saya bilang, “Makan aja, SOP-nya kalau sudah dihidangkan, baik dimakan atau nggak, tetap bakal dibuang.”

Berdasarkan pertimbangan tersebut, akhirnya nasi uduk itu pun saya makan dengan susah payah. Semua lauk bisa saya habiskan, tapi tidak dengan nasinya. Karena sudah merasa begah (kekenyangan), saya pun menyerah dan pasrah ketika pelayan membereskan makanan yang tidak saya habiskan itu. “Duh, bikin dosa lingkungan nih,” batin saya. Tapi bagaimana lagi. Acara makan-makan ini pun ditutup dengan dessert berupa es buah Kowloon Creamy Ice. Perut saya penuh.


Makan Ala Orang Beriman

Sebagai Muslim, saya familiar dengan tata cara makan yang Nabi ajarkan melalui hadis. Dalam kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi banyak mencantumkan doa-doa dan aturan makan. Mulai dari anjuran menjilati jari-jemari setelah makan, harus duduk saat makan, hingga urusan minumnya—yang juga harus duduk—kemudian minum dengan tiga kali tegukan disertai basmalah dan hamdalah dalam setiap napas. Di atas semua itu ada juga aturan lainnya, seperti mencuci tangan sebelum makan, menyuap kecil dan mengunyah banyak, tidak boleh kekenyangan, larangan mencaci makanan dan kesunahan memujinya, serta tidak boleh menyisakan makanan.

Sayangnya, seperti yang M. Faizi tulis dalam bukunya Merusak Bumi dari Meja Makan, kita sering melupakan anjuran-anjuran tersebut sampai ilmuwan seperti Masaru Emoto mengatakan bahwa air merespons bacaan baik, dan Hiromi Shinya menyatakan enzim bisa melimpah di dalam mulut yang lama mengunyah—barulah kita manggut-manggut.

Nyambung ke gaya penyajian makanan tadi, style tertentu bisa jadi masalah besar bagi orang seperti saya, yang kapasitas perutnya sedikit. Misi untuk tidak turut andil menghasilkan sampah makanan dan berperilaku seperti orang beriman saat makan menjadi perjuangan serius. Style Table d’hôte seperti di atas misalnya, jumlah dan porsi per menunya tidak sesuai dengan kapasitas perut sehingga sangat berpotensi tidak dihabiskan.

Kalau diurutkan, gaya mana yang paling bisa meminimalisir sampah makanan, buffet atau prasmanan mestinya di posisi teratas. Di mana kita bebas memilih dan mengambil makanan yang tersedia di meja prasmanan. Kita pun sah-sah saja, misal mau memulai dengan makanan penutup terlebih dahulu—buah misal—lalu baru makan hidangan utama dan appetizer. Bebas. Sebebas sebanyak atau sesedikit apa yang akan kita makan. Tapi meskipun begitu, bukan berarti gaya makanan ini benar-benar “top”, pasalnya tak jarang orang-orang justru kalap dan mengambil di luar kewajaran. Walhasil, tetap banyak sisa makanan yang dibuang. Minusnya lagi, style buffet ini umumnya tidak menyediakan tempat duduk yang cukup, sehingga para tamu menikmati hidangan sambil berdiri. Anjuran duduk saat makan tentu tidak bisa dipraktikkan.

Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sampah terbanyak di Indonesia adalah sampah sisa makanan (food waste) sebanyak 39,35%, baru disusul sampah plastik 19,64% dan kayu/ranting 12,63%. Tak kalah mengejutkan, menurut laporan United Nations bertajuk Think Eat Save yang merupakan bagian dari Food Waste Index Report 2024, Indonesia menjadi negara dengan food waste terbesar di kawasan Asia Tenggara. Jumlahnya mencapai 14,73 juta ton per tahun. Food waste, terutama yang disebabkan oleh penyajian yang berlebih dan budaya menyisakan makanan atau leftover, harus segera dihilangkan.

Sebagai orang beriman (atau mengaku beriman), urusan ini selayaknya menjadi perhatian. Mulai dari permasalahan makanan itu sendiri, yang apabila tidak dihabiskan mencederai perilaku kita sebagai hamba, hingga dampaknya terhadap lingkungan dan sosial. Membuang sisa makanan sama artinya dengan membuang sumber daya yang digunakan selama proses produksi makanan tersebut. Bayangkan, berapa banyak air yang digunakan petani di sawah, bahan bakar yang digunakan untuk mengangkut hasil panen hingga siap dijual, dilanjutkan dengan kebutuhan air, gas, dan lain-lain saat dimasak hingga siap dihidangkan di atas meja.

BacaJuga

Peneliti Ecoton

Fast Fashion Sumbang Mikroplastik Dalam Darah

April 9, 2026
Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

April 10, 2026
Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

April 1, 2026
Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Maret 31, 2026

Kalau urusan ini dikaitkan dengan krisis pangan, krisis air bersih, dan kekeringan yang dialami saudara-saudara kita di belahan bumi lain, perilaku leftover tentu tidak manusiawi dan tidak beriman. Mari kita pikir-pikir lagi, apakah gaya makan kita sudah seperti orang beriman?


Penulis: Dita Anis Zafani, Pegiat Keberagaman di Surabaya. Gambar utama dibuat dengan ChatGPT.

Tags: Dita ZafaniFood WasteGaya MakanOrang Beriman
SummarizeShare235Send
Previous Post

Banjir di Kota Surabaya, Malang, dan Batu: Wujud Salah Urus Tata Ruang

Next Post

Peringatan 64 Tahun Kemerdekaan Papua Barat di Surabaya

Redaksi Idenera

Redaksi Idenera

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kontribusi dalam bentuk tulisan opini, reportase, resensi dan cepen dapat dikirim ke: redaksi.idenera@gmail.com. Semua tulisan dikurasi sebelum dipublikasi.

Related Posts

Peneliti Ecoton
Lingkungan

Fast Fashion Sumbang Mikroplastik Dalam Darah

by Andre Yuris
April 9, 2026
0

Peneliti Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) menemukan sembilan partikel mikroplastik poliester dalam darah perempuan di Jawa Timur. Temuan partikel...

Read moreDetails
Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

April 10, 2026
Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

April 1, 2026
Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Maret 31, 2026
Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Maret 6, 2026
Berjalan Kaki di Kota Surabaya Seperti Bertaruh Nyawa

Berjalan Kaki di Kota Surabaya Seperti Bertaruh Nyawa

Februari 23, 2026
Indonesia, Negeri Imajinasi

Indonesia, Negeri Imajinasi

Januari 26, 2026
Next Post
Peringatan 64 Tahun Kemerdekaan Papua Barat di Surabaya

Peringatan 64 Tahun Kemerdekaan Papua Barat di Surabaya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA