• Contact
Rabu, Juni 17, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Kampus

Awas! Negara Sedang Bangkitkan Orde Baru

Redaksi Idenera by Redaksi Idenera
Oktober 30, 2025
in Kampus, Narasi, Warga
Reading Time: 6 mins read
0

Pasca terbunuhnya Affan Kurniawan (21), seorang pengemudi ojek online yang dilindas Kendaraan Taktis (Rantis) milik Korps Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam demonstrasi buruh di Jakarta pada 28 Agustus 2025, masyarakat tak butuh waktu lama untuk menggelar aksi protes di berbagai kota sebagai bentuk solidaritas.

Di Surabaya misalnya, Aksi Solidaritas Darurat Kekerasan Aparat digelar pada sore hari, 29 Agustus 2025, di depan Gedung Grahadi. Warga dari berbagai kalangan datang menyuarakan keresahan atas terbunuhnya kawan mereka, Affan Kurniawan, oleh aparat kepolisian.

Sejak demonstrasi 25 Agustus 2025 di Jakarta hingga kini, Penulis mencoba membaca pola penanganan protes warga yang dilakukan negara dan aparatnya. 

Satu yang tampak jelas “ Mereka sedang merekonstruksi pola kekuasaan ala Orde Baru”.

Negara dan Alatnya Melakukan Operasi “Informasi” Militer

Operasi Dukungan Informasi Militer dapat mencakup beragam strategi, mulai dari melawan propaganda dan disinformasi untuk mendapatkan dukungan publik. Operasi ini biasanya menggunakan berbagai saluran media, baik radio, televisi, media sosial, dan media cetak. Tujuannya untuk menyebarkan pesan dan mempengaruhi opini publik.

Hal ini tampak dari banyaknya hoax yang beredar selama demonstrasi berlangsung. Narasinya beragam, namun yang dominan yaitu menyebar ketakutan. Misalnya, hoaks soal penjarahan, menyerang etnis tertentu, bahkan isu “penembak misterius”. Narasi seperti ini memicu trauma masyarakat yang pernah hidup di masa Orde Baru. Tentu saja membuat sebagian masyarakat takut, kisah tentang kekelaman era era Soeharto terulang lagi.

Negara dan Alatnya Memburu Aktivis Demokrasi

Berbagai kanal media sosial, khususnya Instagram, beredar informasi tentang penangkapan sejumlah aktivis. Di antaranya admin akun Gejayan Memanggil, Direktur Lokataru Foundation Delpedro, Khariq Anhar (mahasiswa UNRI), serta Saiful Amin seorang aktivis Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan pegiat literasi di Kediri.

Menurut pengamat sosial dari Universitas Negeri Jakarta, Ubedillah Badrun, sebagaimana dikutip BBC Indonesia, serangkaian penangkapan itu menunjukkan aparat keamanan tidak belajar dari pengalaman. 

Masyarakat masih menyimpan kemarahan usai kematian Affan Kurniawan, namun Polri justru mengulangi tindakan represif yang sama. Polanya bahkan menyerupai praktik Orde Baru yang dulu juga menculik aktivis pro-demokrasi.

Negara dan Alatnya Membangkitkan Pamswakarsa

Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa (Pamswakarsa), kelompok sipil yang dibentuk atas inisiatif militer untuk membantu pengamanan wilayah dalam situasi tertentu. Mereka disebut juga kelompok paramiliter yang biasanya menginduk pada organisasi sipil maupun militer. 

Pada masa Orde Baru, Pamswakarsa beranggotakan warga sipil yang dibekali senjata tajam seperti bambu runcing dan golok. Mereka bertugas mengamankan lokasi strategis, seperti Gedung DPR/MPR, dan kerap kali bentrok dengan massa aksi.

Pasca demonstrasi Agustus lalu, tanda-tanda kebangkitan Pamswakarsa kembali terlihat di Surabaya. Itu terlihat dari berita yang dirilis media di Surabaya. Radar Surabaya menulis “Pam Swakarsa Jaga Kantor dan Pos Polisi di Wilayah Perak Surabaya”, Surabaya Times “GM FKPPI Jatim Laksanakan ‘Jaga Warga Terpadu’, Agoes Soerjanto: Wujudkan Pam Swakarsa dengan Gotong Royong dan Guyub Rukun.”

Kehadiran Pamswakarsa mencerminkan kegagapan dan ketidakcakapan negara dalam merespons protes masyarakat. Kelompok sipil paramiliter ini berpotensi membenturkan warga dengan massa aksi. Kehadiran kelompok paramiliter tentu bukan tanpa maksud. Selain unjuk kekuatan mereka juga menghadirkan ketakutan bagi masyarakat yang hendak menyampaikan protes melalui demonstrasi. 

Prabowo Melakukan Autogolpe

Dilansir Project Multatuli, serangkaian tindakan pemerintahan Prabowo menimbulkan pertanyaan: apakah Prabowo sedang melakukan autogolpe—atau self-coup—terhadap pemerintahannya sendiri?

Autogolpe merupakan bentuk kudeta oleh pemimpin yang terpilih secara sah, dengan cara membangun kekuatan (terutama militer) untuk memastikan dirinya dan para pendukungnya tetap berkuasa. Tanda-tandanya tampak dari menguatnya peran militer dan melemahnya institusi sipil yang menjadi pilar demokrasi, seperti parlemen, partai politik, pers, dan pemilu.

Gejala ini terlihat jelas dalam UU No. 34/2004 tentang TNI. Juga rencana pembentukan 22 Komando Daerah Militer (Kodam) baru oleh TNI AD, pembentukan Batalyon Teritorial Pembangunan, pembentukan dua Batalyon Komponen Cadangan (Komcad). Termasuk perluasan peran militer di ranah nonmiliter melalui pelibatan Babinsa dalam sektor pertanian dan pembentukan Satgas Penertiban Kawasan Hutan.

Di tengah gelombang demonstrasi di berbagai kota, pemerintah dan aparatnya tampak memanfaatkan situasi untuk memancing kondisi darurat militer. Dengan dalih krisis sosial-ekonomi, negara bisa saja dengan mudah melancarkan autogolpe.

Menuju Militerisasi Ekonomi

Militerisasi ekonomi berarti pembangunan ekonomi yang bergantung pada penggunaan alat-alat kekerasan negara—seperti polisi dan tentara—secara masif.

Pada era Prabowo-Gibran, praktik ini makin tampak jelas, meski benihnya sudah muncul sejak masa pemerintahan Jokowi–Jusuf Kalla. Hal ini terlihat dari pernyataan Jokowi dalam Rapim TNI-Polri di Auditorium PTIK, Jakarta Selatan, pada 29 Januari 2016, sebagaimana dilansir Detik.com:

“Berkaitan dengan program-program pemerintah, saya perintahkan di-backup total oleh TNI-Polri. Contohnya dalam pembebasan lahan, agar cepat pelaksanaannya.”

Sisi gelap dari militerisasi ekonomi adalah semakin mudahnya kriminalisasi terhadap warga yang menolak proyek-proyek negara. Mereka yang berjuang di Rempang, Raja Ampat, Manokwari, dan daerah lain kerap dicap makar hanya karena mempertahankan ruang hidupnya.

Hal ini ditegaskan kembali dalam pernyataan Prabowo di Istana Merdeka, 31 Agustus 2025:

“Aparat yang bertugas harus menegakkan hukum bila ada pelanggaran yang mengancam kehidupan masyarakat luas. Aspirasi murni harus dihormati, namun kita tidak bisa menutup mata terhadap tindakan-tindakan di luar hukum, bahkan yang mengarah pada makar dan terorisme.”

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Dandik Katjasungkana, Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Pusat dan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) menilai pemerintahan Prabowo–Gibran berpotensi besar menghidupkan kembali pola kekuasaan mirip Orde Baru.

“Pemerintahan Prabowo–Gibran punya kecenderungan merekonstruksi pemerintahan Orde Baru, terutama melalui proses militerisasi dalam kehidupan sosial-politik. Masyarakat sipil harus melakukan re-konsolidasi yang serius,” ujar Dandik kepada penulis melalui wawancara teks di WhatsApp, 3 September 2025.

Ia menambahkan, ancaman militerisme sudah tampak melalui revisi UU TNI dan perluasan lembaga teritorial lewat penambahan Kodam di berbagai wilayah.

“Sebelumnya pun sudah sering terjadi kekerasan yang melibatkan tentara dan kepolisian di berbagai tempat,” katanya.

BacaJuga

Pancasila, Ideologi Dunia

Pancasila, Ideologi Dunia

Juni 2, 2026
20 Tahun Lumpur Lapindo: Bencana dan Luka Belum Usai

20 Tahun Lumpur Lapindo: Bencana dan Luka Belum Usai

Mei 30, 2026
Belajar Menjadi Plural d(ar)i Rock in Halte

Belajar Menjadi Plural d(ar)i Rock in Halte

Mei 25, 2026
Paradoks Industri Rokok dalam Film Di Balik Ilusi Tembakau

Paradoks Industri Rokok dalam Film Di Balik Ilusi Tembakau

Mei 20, 2026

Dandik menegaskan, menghadapi ancaman militerisme dan kebijakan ekonomi yang merugikan, masyarakat tidak bisa berdiam diri. Masyarakat sipil harus mulai mengorganisir diri, membentuk serikat, memperluas pendidikan politik, dan membangun basis gerakan untuk melakukan advokasi atas berbagai masalah.

“Politik militerisme dan kebijakan ekonomi kapitalistik hanya bisa dihadapi dengan penguatan civil society, melakukan kontra-hegemoni, dan melawan segala bentuk represi dengan kekuatan massa yang terorganisir,” tegas Dandik.

Redaksi Idenera

Oleh: Dimas Kuswantoro. Jurnalis LPM Berdikari UT Surabaya

Redaksi Idenera

Bahan Bacaan:

  • Arum Pramesti Wirawati. “Mengenal Metode Operasi Intelijen dalam Psikologi.” K-Pin.org, Juli 2024.
  • Glery Lazuardi. “Mengenal Pam Swakarsa: Asal Usul, Sejarah, dan Kontroversi dalam Operasi Pengamanan.” Tribunnews.com, 3 September 2025.
  • Made Supriatma. “Peran Militer Membesar: Apakah Prabowo Sedang Melakukan Autogolpe?” Project Multatuli, 14 Mei 2025.
  • Ikhwanul Khabibi. “Jokowi Minta TNI-Polri Kawal Pembebasan Lahan dan Hapus Praktik Pungli.” Detiknews, 29 Januari 2016.
  • Coen Husain Pontoh. “Militerisasi Ekonomi.” IndoProgress, 12 September 2016.
  • BBC News Indonesia. “Direktur Lokataru Ditangkap Polisi dan Ditetapkan Tersangka, Pola Berulang Usai Gelombang Demo,” 3 September 2025.

Gambar utama diolah dengan ChatGPT dari foto karya Andre Yuris.

Tags: MiliteristikOrde BaruPerburuan AktivisPrabowo Gibran
SummarizeShare237Send
Previous Post

Polisi Langgar Hak Konstitusional Faiz

Next Post

Mikroplastik Cemari Sumber Air di Malang

Redaksi Idenera

Redaksi Idenera

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kontribusi dalam bentuk tulisan opini, reportase, resensi dan cepen dapat dikirim ke: redaksi.idenera@gmail.com. Semua tulisan dikurasi sebelum dipublikasi.

Related Posts

Pancasila, Ideologi Dunia
Filsafat

Pancasila, Ideologi Dunia

by Anicetus Windarto
Juni 2, 2026
0

Menarik bahwa Pancasila lahir di tengah kecamuk Perang Dunia (PD) II. Perang yang ditandai dengan kehadiran Jepang sebagai angkatan perang...

Read moreDetails
20 Tahun Lumpur Lapindo: Bencana dan Luka Belum Usai

20 Tahun Lumpur Lapindo: Bencana dan Luka Belum Usai

Mei 30, 2026
Belajar Menjadi Plural d(ar)i Rock in Halte

Belajar Menjadi Plural d(ar)i Rock in Halte

Mei 25, 2026
Paradoks Industri Rokok dalam Film Di Balik Ilusi Tembakau

Paradoks Industri Rokok dalam Film Di Balik Ilusi Tembakau

Mei 20, 2026
Pesta Babi, Kolonialisme Jaman Kita

Pesta Babi, Kolonialisme Jaman Kita

Mei 15, 2026
Sebelum 13 Mei Menjadi Sekadar Tanggal

Sebelum 13 Mei Menjadi Sekadar Tanggal

Mei 13, 2026
Sistem Sengaja Bikin Upah Dosen Tetap Murah

Sistem Sengaja Bikin Upah Dosen Tetap Murah

Mei 6, 2026
Next Post
Mikroplastik Cemari Sumber Air di Malang

Mikroplastik Cemari Sumber Air di Malang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA