POIN PENTING
- Manusia adalah subjek sadar yang hidup bersama sesama.
- Sosialitas menekankan relasi aku–engkau yang saling menghormati.
- Gagasan ini relevan bagi masyarakat majemuk Indonesia.
Kalau ditelusuri, memang belum banyak pemikir atau penulis yang memberikan tanggapan langsung terhadap pemikiran Driyarkara. Yang lebih banyak ditemukan adalah tulisan atau karangan yang sekadar menguraikan kembali gagasan-gagasannya.
Namun, hal ini tidak berarti tidak ada yang memberi tanggapan. Beberapa tokoh, seperti Mudji Sutrisno, memberikan komentar sederhana atas karya-karya Driyarkara.
Dalam bukunya Driyarkara: Dialog-dialog Panjang Bersama Penulis, Mudji menilai bahwa seluruh pemikiran Driyarkara selalu bertitik tolak pada manusia. Artinya, manusia menjadi fokus utama pemikirannya. Driyarkara menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri dalam dunia. Menurut Mudji, ada dua pokok penting dari pandangan itu. Pertama, manusia merupakan makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri, yang berarti ia adalah subjek yang sadar. Kedua, manusia adalah makhluk dalam dunia, yaitu subjek yang mendunia atau berada di dunia bersama yang lain.
Salah satu hal yang dikagumi Mudji dari Driyarkara adalah pandangannya mengenai eksistensi manusia. Driyarkara menegaskan bahwa manusia sebagai persona selalu hadir bersama sesama. Konsep ada bersama ini disebut sebagai sosialitas. Dalam sosialitas, manusia dipandang sebagai kawan bagi sesamanya (homo homini socius). Pandangan ini merupakan koreksi Driyarkara terhadap ajaran Thomas Hobbes, yang melihat manusia sebagai serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Dengan menempatkan manusia sebagai kawan, maka terbuka ruang bagi setiap orang untuk berkembang, menghormati keunikan pribadi, serta melahirkan kebudayaan yang memanusiakan manusia.
Mudji menambahkan, sosialitas hadir karena berbagai faktor. Pertama, hubungan sosial tercipta karena adanya ikatan akrab, misalnya kesamaan etnis, agama, atau bahasa. Hubungan ini lebih bersifat emosional di dalam kelompok. Kedua, hubungan sosial terjadi karena saling membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia sadar akan keberadaannya bersama yang lain.
Selain Mudji Sutrisno, A. Sudiarja juga memberi komentar terhadap karya Driyarkara. Ia sependapat bahwa manusia merupakan pusat pemikiran Driyarkara, yang menjadi dasar bagi gagasan tentang pendidikan, moral, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Menurut Sudiarja, Driyarkara selalu memulai pemikirannya dari persoalan inti, lalu memberikan banyak contoh sehingga mudah dipahami. Tulisan-tulisannya lebih bersifat pengantar (introduktif) dan jarang mendetail. Meski demikian, bagi Sudiarja, pemikiran Driyarkara tetap menjadi sumbangan penting bagi masyarakat Indonesia.
Sudiarja juga menilai bahwa Driyarkara tidak bermaksud menyusun filsafat yang utuh, menyeluruh, dan sistematis. Hal ini terlihat dari gaya bahasanya yang sering menunda pembahasan, seperti dengan ungkapan “kelak masih akan kami paparkan” atau “nanti masih akan kami terangkan.” Dari sekian banyak tulisannya, menurut Sudiarja, hanya karya tentang Pancasila dan Pendidikan yang dibahas tuntas.
Relevansi Pemikiran Diyarkara Tentang Sosialitas
Konsep sosialitas Driyarkara masih relevan, terutama bagi masyarakat Indonesia yang majemuk—beragam suku, agama, adat, dan ras. Konsep ini membantu manusia menghayati hidupnya sebagai persona yang selalu hidup bersama dengan sesama. Pola relasi aku-engkau yang ditawarkan Driyarkara menekankan pentingnya menghormati keberadaan orang lain sebagai subjek.
Konflik dalam kehidupan manusia sering muncul karena cara pandang yang keliru terhadap sesama, yakni ketika orang diperlakukan sebagai objek. Dalam masyarakat majemuk, misalnya, mayoritas kerap menindas minoritas. Situasi seperti itu mengabaikan nilai kemanusiaan, seperti kasih, keadilan, dan solidaritas. Akibatnya, manusia tidak lagi saling menghormati atau menolong.
Oleh karena itu, prinsip-prinsip yang menyatukan masyarakat harus dihidupkan kembali. Di Indonesia, gotong royong adalah salah satu prinsip penting, karena mengandung nilai kerja sama, saling menolong, dan solidaritas demi tercapainya kesejahteraan bersama.
Konsep sosialitas Driyarkara merupakan sumbangan berharga bagi kehidupan manusia, khususnya di Indonesia. Melalui gagasannya, Driyarkara menekankan pentingnya hidup bersama: saling melengkapi, menolong, dan membangun kehidupan bersama demi kesejahteraan bersama. Karena itu, sosialitas perlu diwujudkan dalam kehidupan setiap manusia.
Oleh : Adrianus Aloysius Mite Lamba, Fakultas Filsafat UKWM Surabaya. Gambar utama hasil Chat GPT.









