Rabu, Februari 11, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Heru Hutomo by Heru Hutomo
Januari 19, 2026
in Ide, Warga
Reading Time: 4 mins read

Arya Banyak Wide atau yang kelak dikenal sebagai Arya Wiraraja yang secara genealogis maupun ideologis menurunkan para visioner nusantara. Satu di antaranya adalah Mada.

Semasa bocah, pengucap sumpah palapa itu ditempa oleh Kuda Anjampiani, anak Ranggalawe, cucu Arya Wiraraja. Ada satu kabar bahwa sebelum menjadi penguasa di Songenep, Sumenep kini, Arya Wiraraja muda suka berguru ilmu dan pernah bermukim di Wengker, perbatasan dengan Kediri. Mada pun, menurut salah satu versi, pernah mengawali karirnya di Wengker sebelum menyelamatkan Jayanagara dari pemberontakan Kuti.

Adakah kisah itu yang mempertautkan Ponorogo, Wengker di masa lalu, dengan Madura, pakaian hitam yang khas beserta celana komprangnya dan karakter mereka yang cenderung lugas—satu hal yang tak kita temui di daerah Jawa Timur lainnya yang dikenal sebagai daerah “mataraman”?

Mengulik sejarah dan budaya Ponorogo tak dapat dilepaskan dari reyog. Kesenian khas Ponorogo ini juga tumbuh dan berkembang dalam sejarah. Ia tak tiba-tiba terbentuk sebagaimana yang kita saksikan sekarang. Bahkan ada pula kisah ketersisihan dan cara penyikapan di baliknya.

Reyog tak semata seni pertunjukan, tapi juga sebentuk penyikapan para leluhur terhadap situasi dan kondisi tertentu. Dilihat dari segi pertunjukannya reyog pada dasarnya adalah seni arak-arakan yang menggunakan jalanan sebagai panggungnya. Sampai sekarang, di samping menjadi seni panggungan dengan berbagai modifikasi (sendratari), reyog masih melakukan fungsi klasiknya sebagai seni arak-arakan.

Baca juga:

No Content Available

Sifat arak-arakan reyog sejatinya tak semata pilihan estetis, tapi lebih pada politis. Seperti happening art di masa sekarang yang cukup politis, berabad-abad lalu orang Ponorogo sudah melakukan fungsi politis kesenian itu dengan reyog-nya. Arak-arakan dan longmarch merupakan cara orang Ponorogo di masa lalu menyampaikan kritiknya secara satir dan parodis kepada para penguasa. Orang-orang Ponorogo sudah melakukan apa yang kini disebut sebagai demonstrasi sejak berabad-abad yang lalu.

Ekspresi-ekspresi seni reyog, baik tari maupun musik, sangat tak tampak “keratonan,” cenderung lugas dan sigrak (bersemangat), cocok sebagai sarana untuk menyampaikan kritik. Karena fungsi politis inilah seni reyog di masa lalu cenderung memilih jalanan beserta segala karakteristiknya sebagai panggung.

Terdapat satu versi sejarah reyog yang mengaitkannya dengan pembangkangan seorang Kettu Wijaya yang kelak tenar dengan sesebutan Ki Demang Suryongalam atau Ki Ageng Kutu. Sebermulanya Kettu Wijaya merupakan punggawa kerajaan Majapahit di bawah kekuasaan Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V. Karena kecewa dengan ketaktegasan sang raja yang konon didikte oleh salah satu isterinya yang berasal dari Campa, ia memilih meninggalkan Majapahit dan menepi di wilayah antara Gunung Lawu dan Gunung Wilis: Wengker.

Adakah keterkaitan antara Ida Bagus Wangbang Manik Angkeran, Ida Sang Bang Banyak Wide atau Arya Wiraraja, dan Kettu Wijaya atau Ketut Wijaya? Ketiga nama tersebut identik dengan nama-nama Bali. Adakah, selain berarti wewengkon angker (wilayah wingit), Wengker juga punya kaitan dengan legenda Manik Angkeran?

Sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dan ketersisihannya, Kettu Wijaya kemudian membuat paguron untuk menggembleng para warok dan sebuah pertunjukan arak-arakan yang bersifat satir dan parodis. Kepala macan (singobarong), sebagai perlambang sang raja (Brawijaya V), yang ditunggangi oleh seekor merak yang tengah mekar ekornya, sebagai perlambang sang isteri. Macan itu, karena ditunggangi seekor merak yang elok, meski berwibawa, tak lagi segesit dan segarang dahulu. Jathil, sejenis kuda kepang yang dahulu dikendarai para lelaki muda yang anggun dan luwes—di mana sekarang ditunggangi para penari perempuan muda—adalah sebentuk satire para prajurit Majapahit yang seturut dengan karakter sang raja.

Adapun sang penasehat muda, pujangga anom, bujang ganong atau ganongan adalah representasi dari Kettu Wijaya. Dilihat dari bentuk topeng yang dikenakan, ganongan memiliki sepasang mata yang besar, hidung yang panjang, dan senyum lebar dengan seringai gigi kelinci. Ganongan merupakan karakter yang gecul, jenaka, seperti Joker dalam film Batman. Gerakan-gerakannya cenderung akrobatik, kayang dan jumpalitan, tampak ngece, mengejek sang macan. Untuk ukuran subasita (sopan-santun) keraton jelas hal ini sangat tak pantas.

Ganongan diiringi pula oleh sekumpulan warok, para karakter yang gagah, berangasan, dan bersuara lantang. Pakaian mereka cenderung hitam-hitam, prasaja, tanpa motif apapun. Ikat kepala (udheng) yang tampak tak teratur, atau beda dengan gaya ikatan mataraman. Ikat kepala para warok menampakkan tiga sudut lipatan: depan dan sisi kanan-kiri atas. Dan tak lupa, bukanlah keris senjata utama mereka, melainkan kolor lawe wenang dan lawe telon sebesar lengan bayi.

Pramoedya Ananta Toer, dalam novel sejarahnya, Angrok-Dedes, pernah mengatakan bahwa istilah “Rok”—di mana kemudian istilah warok diturunkan—pada nama Ken Angrok memiliki arti jago kelahi, gelut atau gulat. Barangkali, eksistensi para warok sudah ada pada zaman Ken Angrok (Kediri dan Singasari) di mana mereka adalah laskar yang dikepalainya sebelum berhasil merebut tampuk kekuasaan Tumapel.

Dalam perjalanan sejarahnya reyog kemudian berusaha untuk dilenyapkan sisi politisnya. Pada dekade 80-an kesenian yang memadukan tangga nada slendro dan pelog itu dimodifikasi menjadi sebuah seni panggungan yang memadukan seni drama dan tari, tak lagi berarak di jalanan. Ketika menjadi seni panggung ada satu karakter khas yang dominan di sana: Prabu Klana Sewandana yang berpusakakan pecut Kyai Samandiman.

Tentu, kisahnya tak lagi tentang pembangkangan Ki Demang Suryongalam pada Brawijaya V, tapi kisah perkawinan antara raja Bantarangin dan putri Kediri, Dewi Sanggalangit. Fungsi politis reyog kemudian menjadi mati, tergantikan fungsi estetik-romantik semata.

Gambar utama diolah dengan ChatGPT dari foto karya Ferry Pepenk

Tags: BudayaHeru HutomoReyogReyog Ponorogo
SummarizeShare236Send
Previous Post

Zaman Perbudakan Teknologi dan Informasi

Next Post

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Heru Hutomo

Heru Hutomo

Penulis, peneliti lepas, mengembangkan cross-cultural journalism. Berdomisi di Ponorogo

Related Stories

Tabir Getir Child Grooming dalam Buku Broken Strings

Tabir Getir Child Grooming dalam Buku Broken Strings

by Redaksi Idenera
Februari 2, 2026
0

Buku memoar Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings menjadi perbincangan hangat di media sosial. Warganet tidak menyangka bahwa di balik konten yang menghibur dan akting Aurelie di sejumlah film,...

Moke dan Sopi, Antara Adat dan Hidup

Moke dan Sopi, Antara Adat dan Hidup

by Fian Roger
Januari 29, 2026
0

Saban tahun, Polisi di NTT menyita dan memusnahkan ribuan liter Sopi karena dianggap menciptakan masyarakat pecandu alkohol yang doyan mabuk dan bikin kekacauan. Namun sebaliknya, Victor Bungtilu Laiskodat (Gubernur NTT...

Indonesia, Negeri Imajinasi

Indonesia, Negeri Imajinasi

by Simon Untara
Januari 26, 2026
0

Berpikir tentang Indonesia dan kaitannya dengan mitos mengingatkan saya akan bentukan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa (nation state). Adalah Thomas Hobbes yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan suatu...

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

by Fian Roger
Januari 22, 2026
0

Pada zaman dulu, karya agung bisa dituliskan dalam batu zamrud. Manusia menolak hal-hal sederhana, dan mulai menulis banyak traktat, tafsiran-tafsiran, dan kajian-kajian filosofis. Mereka juga mulai merasa tahu...

Next Post
Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Follow us

Artikel Terbaru

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Januari 20, 2026
Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Januari 19, 2026

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2025 Idenera.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2025 Idenera.com