Rabu, Februari 11, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
Zaman Perbudakan Teknologi dan Informasi

Zaman Perbudakan Teknologi dan Informasi

Fian Roger by Fian Roger
Januari 13, 2026
in Ide
Reading Time: 3 mins read

Tidak ‘lebay’ jika kita menyebut semangat zaman (seitgeist) ini sebagai zaman penguasaan teknologi dan informasi dan di sisi lain zaman perbudakan oleh teknologi dan informasi. Masih kuat dalam ingatan kita akan berbagai kasus video porno yang beredar luas (termasuk di kalangan mahasiswa/i) yang melibatkan beberapa artis kondang yang dilabeli predikat ganteng, tenar, cantik dan selebritis.

Kasus-kasus ini bermula dari sebuah keisengan untuk mengabadikan gambar tubuh entahkah dalam posisi diam atau bergerak sampai pada sebuah “chaos moral” yang oleh sejumlah moralis dan agamais dicap sebagai tindakan asusila. Menurut mereka (kaum moralis dan agamais), bahwa pihak-pihak yang terlibat rupanya sedang terjerumus dalam perbudakan birahi yang menjadikan nilai-nilai agama maupun etika menguap entah kemana.

“Nafsu menggebu-gebu bikin malu dan susah maju,” demikian lirik lagu dari Band yang tidak begitu kondang Efek Rumah Kaca. Upaya merekam adegan bersetubuh atau hanya sekedar memamerkan kemolekan tubuh dalam bentuk gambar entahkah untuk kenangan semata ataukah untuk kebutuhan pasar memang lazim zaman sekarang.

Ada orang yang menyebut gejala ini sebagai kultus tubuh era informatika. Kultus tubuh adalah suatu upaya sadar atau pun tidak sadar untuk mengagung-agungkan atau mendewa-dewakan tubuh manusia baik itu melalui untuk kepentingan kesenangan pribadi maupun untuk memenuhi selera pasar. Dalam arti yang negatif, kultus tubuh merupakan suatu upaya pengobjekan tubuh untuk menjadi suatu komoditi demi keuntungan material ataupun  psikologis.

Ada yang melihat fenomena ini sebagai suatu ketersesatan arah dari generasi teknologi dan informatika, dan ada pula yang menafsir sebagai ketidakdewasaan moral, psikologis dan rohani. Memang setiap kejadian hidup keseharian seperti ini merupakan sebuah teks yang bisa ditafsir dari aneka sudut pandang baik itu agama maupun ilmu pengetahuan dan filsafat.

Baca juga:

Indonesia, Negeri Imajinasi

Indonesia, Negeri Imajinasi

Januari 26, 2026
Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

Oktober 20, 2025

Filsuf Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969) benar ketika ia mengungkapkan bahwa kemajuan tidak terlepas pula dari kemunduran. Tesisnya yakni teori kemajuan dimengerti juga dalam teori kemunduran. Pada masa pencerahan sejarah ditafsir sebagai proses yang melibatkan manusia dalam dalam pertentangan satu sama lain. Sejarah dipandang sebagai pembebasan manusia dari cengkeraman alam dimana perkembangan sejarah memperlihatkan proses diatasinya ketergantungan manusia pada alam.

Kebebasan penuh manusia dilihat sebagai keterlepasan bangsa manusia dari ketergantungan pada alam. Inilah yang kemudian disebut sebagai emansipasi. Namun kemajuan tidak dapat dilepaskan dari kemunduran sebab kemajuan tidak mungkin jika tidak ada sesuatu yang ditiadakan atau dihancurkan, yaitu alam dari mana manusia membebaskan diri. Maka bagi Adorno, teori tentang kemajuan hanya mungkin sebagai teori dialektis, artinya teori di mana kemajuan hanya dimengerti sejauh kemunduran dimengerti. Inti dialektika adalah perlunya penguasaan.

Bukan berarti dengan menaklukan alam manusia sudah masuk dalam  kebebasannya.  Yang terjadi malah manusia menjadi budak oleh kemajuan itu, karena ia menjadi obyek penguasaan. Daripada menghasilkan emansipasi ilmu pengetahuan dan teknik membuat manusia menjadi obyek. Manusia menjadi subyek yang menguasai sekaligus obyek yang dikuasai. Ia yang mau membebaskan diri, pada kenyataannya diperbudak saja.

Adorno menyebutnya sebagai  ‘Umschlag’ atau suatu pembalikan dari subyek menjadi obyek. Bagaimana manusia yang mengklaim diri sebagai subyek yang bebas dan pelaku bebas menjadi budak kemajuan? Adorno memang kelihatan pesimis dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi namun jika kita baca pemikiran dalam konteks zaman teknologi dan informasi kita dapat menemukan sebuah benang merah yang menggambarkan paradoks kemajuan.

Gambar utama dibuat dengan ChatGPT

Tags: AdornoFilsafatTeknologi
SummarizeShare237Send
Previous Post

Kalah Kasasi, CNN Indonesia Wajib Bayar 494 juta ke Pekerja

Next Post

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Fian Roger

Fian Roger

Penulis lepas dari Flores. Alumnus Fakultas Filsafat di Universitas Katholik Widya Mandira Kupang

Related Stories

Indonesia, Negeri Imajinasi

Indonesia, Negeri Imajinasi

by Simon Untara
Januari 26, 2026
0

Berpikir tentang Indonesia dan kaitannya dengan mitos mengingatkan saya akan bentukan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa (nation state). Adalah Thomas Hobbes yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan suatu...

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

by Fian Roger
Januari 22, 2026
0

Pada zaman dulu, karya agung bisa dituliskan dalam batu zamrud. Manusia menolak hal-hal sederhana, dan mulai menulis banyak traktat, tafsiran-tafsiran, dan kajian-kajian filosofis. Mereka juga mulai merasa tahu...

Solusi Palsu Pemerintah Atasi Darurat Sampah

Solusi Palsu Pemerintah Atasi Darurat Sampah

by Redaksi Idenera
Januari 21, 2026
0

Alih-alih mengatasi persoalan sampah, solusi palsu yang ditawarkan pemerintah justru mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan warga.

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

by Heru Hutomo
Januari 19, 2026
0

Arya Banyak Wide atau yang kelak dikenal sebagai Arya Wiraraja yang secara genealogis maupun ideologis menurunkan para visioner nusantara. Satu di antaranya adalah Mada. Semasa bocah, pengucap sumpah...

Next Post
Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Follow us

Artikel Terbaru

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Januari 20, 2026
Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Januari 19, 2026

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2025 Idenera.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2025 Idenera.com