• Contact
Sabtu, Mei 30, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Warga Aksi

20 Tahun Lumpur Lapindo: Bencana dan Luka Belum Usai

Dimas Kuswantoro by Dimas Kuswantoro
Mei 30, 2026
in Aksi, Warga
Reading Time: 4 mins read
0

Di atas tanah yang sebagian masih terendam lumpur, puluhan warga penyintas bencana Lapindo dua puluh tahun lalu berkumpul untuk menyuarakan agar bencana ini tidak dilupakan dan tidak terjadi di tempat lain.

“Rakyat bersatu! Tak bisa dikalahkan.”

Teriakan itu meledak dari pendopo Taman Dwarakerta, Porong, Sidoarjo, pada Jumat (29/5/2026). Bukan hanya warga terdampak lumpur Lapindo yang hadir, mereka datang bersama komunitas dari berbagai penjuru, menyatu dalam satu peringatan: Hari Anti-Tambang (HATAM) 2026, dengan tema “Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat.”

Tahun ini bukan peringatan biasa. Dua puluh tahun sudah lumpur panas itu menyembur di Porong dan belum berhenti. Semburan masih terlihat dan bau menyengat masih tercium. Lebih dari seribu hektar tanah di 19 desa dari tiga kecamatan sudah lenyap ditelan lumpur. Sekitar 22.214 warga angkat kaki dari kampung yang mereka kenal seumur hidup.

BacaJuga

Belajar Menjadi Plural d(ar)i Rock in Halte

Belajar Menjadi Plural d(ar)i Rock in Halte

Mei 25, 2026
Paradoks Industri Rokok dalam Film Di Balik Ilusi Tembakau

Paradoks Industri Rokok dalam Film Di Balik Ilusi Tembakau

Mei 20, 2026
Diblokir, Dibom, Dipukul: Ancaman Nyata Media Alternatif Indonesia

Diblokir, Dibom, Dipukul: Ancaman Nyata Media Alternatif Indonesia

Mei 4, 2026
Andrie Yunus dan Teater Teror

Andrie Yunus dan Teater Teror

April 27, 2026
Diskusi Hari Anti-Tambang (HATAM) 2026, dengan tema “Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat“,Minggu, 30/05/2026 di Porong, Sidoarjo.

Sambang Buyut dan Menjaga Ingatan

Hari pertama peringatan diisi dengan penampilan tari, pameran ilustrasi, pasar rakyat, live mural oleh seniman XTGT Crew dari Jombang, dan workshop lukis bersama Biennale Jogja. Ada momen yang paling sakral di sore hari: sejumlah warga melakukan ritual Sambang Buyut. Mereka berziarah ke leluhur di titik semburan lumpur. Warga bersama-sama berjalan menuju tempat yang dulu adalah kampung mereka. Malam harinya, mereka duduk bersama menonton film dokumenter “Saya Tidak Ingin Mereka Mengubur Cerita Saya”—tentang perempuan-perempuan yang bertahan di wilayah konflik tambang dari berbagai wilayah di Indonesia

Herawati, salah satu warga yang hadir, tidak butuh banyak kata untuk menjelaskan mengapa ia datang.

“Kalau harapan saya sama kawan-kawan, kita lebih saling menguatkan, lebih menguatkan tali persaudaraan, terutama yang sama-sama terdampak tambang,” katanya.

“Sebab dampak tambang ini tak hanya lingkungan yang rusak, jadi kita harus lebih bersatu,” tambahnya.

“Sumber Bencananya Masih Terus”

Muhamad Irsyad, salah satu penyintas, berkeluh bahwa sudah dua puluh tahun berlalu, ada pertanyaan yang belum terjawab: siapa yang harus bertanggung jawab?

“Bencananya masih terus; sumber bencananya masih terus. Apalagi kasusnya, penyelesaian kasusnya yang tidak mungkin berhenti, orang sumber bencananya masih terus kok,” kata Irsyad.

Yang membuatnya makin geram adalah kenyataan bahwa Lapindo sudah lama pergi, tapi tagihannya ditinggal untuk rakyat.

“Sekarang perusahaan Lapindo sudah tidak ada di situ, sudah tidak menangani sama sekali. Dan ini ditangani oleh negara, yang artinya menggunakan uang rakyat semua. Ini benar-benar gila. Jadi, Lapindo di situ bekerja, cari uang. Nah, kemudian terjadi kecelakaan, kok warga yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Bukan Sekadar Ganti Rugi

Melki Nahar, koordinator JATAM, menyebut bahwa apa yang dilakukan negara selama dua dekade ini adalah penyederhanaan yang berbahaya. Ia berpendapat pemerintah ingin menutup kasus Porong dengan satu angka ganti rugi seolah semua bisa dibeli dan diselesaikan.

“Esensi utamanya bukan hanya sebatas soal ganti rugi, tetapi bahkan orang sudah kehilangan ruang hidup utamanya hari ini dan daya rusak tadi itu terus berlanjut, bahkan setelah 20 tahun kejadian semburan itu terjadi,” kata Melki.

Yang terjadi di lapangan jauh dari kata selesai. Riset JATAM bersama WALHI Jawa Timur menemukan bahwa angka stunting anak-anak di sekitar tanggul naik drastis. Penyakit kronis seperti ISPA dan TBC terus merayap naik dari tahun ke tahun. Penyebabnya sudah jelas: air tanah yang tercemar masih dikonsumsi warga, udara di sekitar kawasan semburan makin berat dihirup.

“Negara tidak pernah hadir untuk melakukan kerja pemulihan—dalam konteks lingkungan, dalam konteks kesehatan manusianya, termasuk kehidupan para perempuan dan anak-anak,” katanya.

Melki menyebut dua hal yang paling mendesak: pulihkan dulu kesehatan warga yang sudah terlanjur menanggung dampaknya, dan pastikan tidak ada lagi ekspansi industri serupa yang menggerus ruang hidup masyarakat.

“Tanpa itu dilakukan, ya, saya kira Porong berikutnya pasti akan terjadi di banyak tempat, dan tidak hanya di Sidoarjo, Jawa Timur,” tegasnya.

Pengunjung melihat pameran foto pada Hari Anti-Tambang (HATAM) 2026, dengan tema “Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat“, Minggu,30/05/2026, di Porong, Sidoarjo.

Lapindo Bukan Satu-satunya

Bagi Melki, apa yang terjadi di Lapindo dua puluh tahun lalu masih dan akan terjadi di seluruh Indonesia.

“Lapindo ini adalah cerminan buruk yang nyata dan itu sudah dan sedang terjadi di banyak tempat di Indonesia. Di mana pulau-pulau itu dengan mudah diobral untuk kemudian seluruh kekayaan mineralnya dikeruk untuk keuntungan segelintir orang yang hari ini menguasai kekuasaan politik di level nasional,” pungkasnya.

Tags: 20 tahun LapindoJatamLapindoWalhi Jatim
SummarizeShare235Send
Previous Post

Belajar Menjadi Plural d(ar)i Rock in Halte

Dimas Kuswantoro

Dimas Kuswantoro

Related Posts

Belajar Menjadi Plural d(ar)i Rock in Halte
Narasi

Belajar Menjadi Plural d(ar)i Rock in Halte

by Anicetus Windarto
Mei 25, 2026
0

Saat pertama kali menonton aksi musik Rock in Halte di CFD (Car Free Day) Solo, ingatan akan masa SMP dan...

Read moreDetails
Paradoks Industri Rokok dalam Film Di Balik Ilusi Tembakau

Paradoks Industri Rokok dalam Film Di Balik Ilusi Tembakau

Mei 20, 2026
Diblokir, Dibom, Dipukul: Ancaman Nyata Media Alternatif Indonesia

Diblokir, Dibom, Dipukul: Ancaman Nyata Media Alternatif Indonesia

Mei 4, 2026
Andrie Yunus dan Teater Teror

Andrie Yunus dan Teater Teror

April 27, 2026
Interkulturalisme: Tan Khoen Swie, Tionghoa, dan Kejawen

Interkulturalisme: Tan Khoen Swie, Tionghoa, dan Kejawen

April 24, 2026
Kronologis Operasi Teror terhadap Andrie Yunus

Kronologis Operasi Teror terhadap Andrie Yunus

April 22, 2026
Peneliti Ecoton

Fast Fashion Sumbang Mikroplastik Dalam Darah

April 9, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA