• Landing Page
  • Shop
  • Contact
  • Buy JNews
Senin, Februari 23, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
Home Filsafat Narasi Ide

Zaman Perbudakan Teknologi dan Informasi

Fian Roger by Fian Roger
Januari 13, 2026
in Ide
0
Zaman Perbudakan Teknologi dan Informasi
600
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Tidak ‘lebay’ jika kita menyebut semangat zaman (seitgeist) ini sebagai zaman penguasaan teknologi dan informasi dan di sisi lain zaman perbudakan oleh teknologi dan informasi. Masih kuat dalam ingatan kita akan berbagai kasus video porno yang beredar luas (termasuk di kalangan mahasiswa/i) yang melibatkan beberapa artis kondang yang dilabeli predikat ganteng, tenar, cantik dan selebritis.

Kasus-kasus ini bermula dari sebuah keisengan untuk mengabadikan gambar tubuh entahkah dalam posisi diam atau bergerak sampai pada sebuah “chaos moral” yang oleh sejumlah moralis dan agamais dicap sebagai tindakan asusila. Menurut mereka (kaum moralis dan agamais), bahwa pihak-pihak yang terlibat rupanya sedang terjerumus dalam perbudakan birahi yang menjadikan nilai-nilai agama maupun etika menguap entah kemana.

“Nafsu menggebu-gebu bikin malu dan susah maju,” demikian lirik lagu dari Band yang tidak begitu kondang Efek Rumah Kaca. Upaya merekam adegan bersetubuh atau hanya sekedar memamerkan kemolekan tubuh dalam bentuk gambar entahkah untuk kenangan semata ataukah untuk kebutuhan pasar memang lazim zaman sekarang.

Ada orang yang menyebut gejala ini sebagai kultus tubuh era informatika. Kultus tubuh adalah suatu upaya sadar atau pun tidak sadar untuk mengagung-agungkan atau mendewa-dewakan tubuh manusia baik itu melalui untuk kepentingan kesenangan pribadi maupun untuk memenuhi selera pasar. Dalam arti yang negatif, kultus tubuh merupakan suatu upaya pengobjekan tubuh untuk menjadi suatu komoditi demi keuntungan material ataupun  psikologis.

Ada yang melihat fenomena ini sebagai suatu ketersesatan arah dari generasi teknologi dan informatika, dan ada pula yang menafsir sebagai ketidakdewasaan moral, psikologis dan rohani. Memang setiap kejadian hidup keseharian seperti ini merupakan sebuah teks yang bisa ditafsir dari aneka sudut pandang baik itu agama maupun ilmu pengetahuan dan filsafat.

Filsuf Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969) benar ketika ia mengungkapkan bahwa kemajuan tidak terlepas pula dari kemunduran. Tesisnya yakni teori kemajuan dimengerti juga dalam teori kemunduran. Pada masa pencerahan sejarah ditafsir sebagai proses yang melibatkan manusia dalam dalam pertentangan satu sama lain. Sejarah dipandang sebagai pembebasan manusia dari cengkeraman alam dimana perkembangan sejarah memperlihatkan proses diatasinya ketergantungan manusia pada alam.

Kebebasan penuh manusia dilihat sebagai keterlepasan bangsa manusia dari ketergantungan pada alam. Inilah yang kemudian disebut sebagai emansipasi. Namun kemajuan tidak dapat dilepaskan dari kemunduran sebab kemajuan tidak mungkin jika tidak ada sesuatu yang ditiadakan atau dihancurkan, yaitu alam dari mana manusia membebaskan diri. Maka bagi Adorno, teori tentang kemajuan hanya mungkin sebagai teori dialektis, artinya teori di mana kemajuan hanya dimengerti sejauh kemunduran dimengerti. Inti dialektika adalah perlunya penguasaan.

Bukan berarti dengan menaklukan alam manusia sudah masuk dalam  kebebasannya.  Yang terjadi malah manusia menjadi budak oleh kemajuan itu, karena ia menjadi obyek penguasaan. Daripada menghasilkan emansipasi ilmu pengetahuan dan teknik membuat manusia menjadi obyek. Manusia menjadi subyek yang menguasai sekaligus obyek yang dikuasai. Ia yang mau membebaskan diri, pada kenyataannya diperbudak saja.

Adorno menyebutnya sebagai  ‘Umschlag’ atau suatu pembalikan dari subyek menjadi obyek. Bagaimana manusia yang mengklaim diri sebagai subyek yang bebas dan pelaku bebas menjadi budak kemajuan? Adorno memang kelihatan pesimis dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi namun jika kita baca pemikiran dalam konteks zaman teknologi dan informasi kita dapat menemukan sebuah benang merah yang menggambarkan paradoks kemajuan.

Gambar utama dibuat dengan ChatGPT

Tags: AdornoFilsafatTeknologi
Previous Post

Kalah Kasasi, CNN Indonesia Wajib Bayar 494 juta ke Pekerja

Next Post

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Related Posts

Indonesia, Negeri Imajinasi
Ide

Indonesia, Negeri Imajinasi

by Simon Untara
Januari 26, 2026
0

Berpikir tentang Indonesia dan kaitannya dengan mitos mengingatkan saya akan bentukan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa (nation state). Adalah Thomas Hobbes...

Read moreDetails
Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

Oktober 20, 2025
Komedi sebagai Kritik dan Perlawanan

Komedi sebagai Kritik dan Perlawanan

Januari 6, 2026
Gotong Royong Dalam Konsep Sosialitas Driyarkara

Gotong Royong Dalam Konsep Sosialitas Driyarkara

Oktober 2, 2025
Genealogy Kaum Abritan atau Abangan

Genealogy Kaum Abritan atau Abangan

September 27, 2025
Next Post
Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA