Kamis, Februari 12, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
Gotong Royong Dalam Konsep Sosialitas Driyarkara

Gotong Royong Dalam Konsep Sosialitas Driyarkara

Redaksi Idenera by Redaksi Idenera
Oktober 2, 2025
in Filsafat, Narasi
Reading Time: 4 mins read

POIN PENTING:

  • Gotong royong adalah jati diri bangsa dan inti Pancasila.
  • Mengandung nilai solidaritas, kekeluargaan, dan toleransi.
  • Masyarakat Lio menjaga tradisi gotong royong sebagai perekat persaudaraan.
  • Nilainya mulai luntur di kota, perlu dihidupkan kembali.

Setiap buah pemikiran yang dihasilkan oleh seorang pemikir pasti memiliki manfaat bagi kehidupan masyarakat. Pemikiran itu akan terasa lebih bermanfaat apabila mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis akan mencoba menguraikan relevansi pemikiran Driyarkara mengenai konsep sosialitasnya dalam situasi kehidupan masyarakat Indonesia.

Gotong Royong Dalam Konsep Sosialitas

Budaya gotong-royong merupakan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang turun-temurun, bahkan menjadi kekuatan masyarakat Indonesia dalam melawan penjajahan dan mencapai kemerdekaan. Gotong-royong merupakan jati diri bangsa yang tidak boleh dibiarkan pudar begitu saja oleh perkembangan zaman. Gotong-royong diharapkan dapat mendarah daging dalam jiwa generasi-generasi penerus bangsa untuk menjaga keutuhan Bangsa Indonesia.

Dalam pidato yang disampaikan di hadapan anggota BPUPK, Soekarno mengatakan bahwa gotong royong merupakan perasan dari Pancasila. Hal ini nampak dalam ungkapan Soekarno sendiri bahwa: jika saya peras yang lima menjadi tiga, dan tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satukan perkataan Indonesia yang asli, yaitu kata gotong royong. Dalam hal ini Soekarno berpendapat, hal yang mendasar dari Gotong royong sebagai perasan Pancasila adalah kerja sama karena hidup bersama. Berkenaan dengan kerja sama dalam gotong royong tersebut, menurut penulis bahwa kerja sama dalam gotong tidak terjadi begitu saja, tetapi karena didorong oleh suatu kesadaran dalam diri manusia, bahwa sebagai persona ia senantiasa berada bersama dengan persona lain. Dalam ada bersama tersebut manusia saling bekerjasama satu, sehingga bisa membangun kehidupan yang lebih baik, demi kesejahteraan bersama.

Baca juga:

Indonesia, Negeri Imajinasi

Indonesia, Negeri Imajinasi

Januari 26, 2026
Zaman Perbudakan Teknologi dan Informasi

Zaman Perbudakan Teknologi dan Informasi

Januari 13, 2026

Memang harus diakui bahwa gotong royong merupakan suatu warisan budaya yang telah lama dihidupi dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia dan sudah menjadi salah satu kekhasan bangsa Indonesia. Gotong royong sangat mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, kerja sama, tolong menolong dan sebagainya dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam gotong royong terdapat nilai-nilai kekeluargaan, musyawarah dan mufakat, keadilan, toleransi, serta ketuhanan, yang merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia. Gotong royong menyadarkan manusia untuk melepaskan egoisme atau sikap individualis dan mengutamakan kepentingan bersama.

Sebagai contoh, penulis mengambil kegiatan gotong royong dalam kehidupan masyarakat suku Lio, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Gotong royong dalam masyarakat suku Lio, memiliki makna yang sangat dalam untuk membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Hal ini tampak dalam ungkapan masyarakat Lio yang menggambarkan pola kerja atau gotong royong: “ mai sai kita ndawi lima, kema sama, boka ki bere ae, wora sai sa wiwi nunu sai sa lema we tau senggu nua ola kita”, artinya, mari kita bergandeng tangan, untuk membangun kerja sama, satu hati, satu suara, kita bangun tekad untuk hidup yang sejahtera. Ungkapan tersebut menjadi semangat bagi masyarakat Lio untuk menjaga dan melestarikan budaya gotong royong tersebut.

Gotong royong dalam kehidupan masyarakat Lio, terlaksana dalam berbagai bentuk kegiatan. Salah satunya adalah dalam kegiatan wurumana. Wurumana adalah suatu bentuk kerjasama dalam suku Lio, untuk membangun persaudaraan dan hubungan kekeluargaan. Kegiatan tersebut, mendorong masyarakat untuk saling membantu dalam berbagai kepentingan baik berupa uang, barang atau tenaga. Sistem wurumana ini sudah membudaya dalam masyarakat Lio pada umumnya sejak zaman dahulu kala. Lewat hal tersebut, masyarakat Lio dapat mempererat tali persaudaraan dan jalinan kekeluargaan yang tidak akan terlakang oleh waktu. Hingga sekarang tradisi ini masih dihidupi dan dilestarikan oleh masyarat Lio sendiri ditengah era globalisasi. Wurumana tersebut tidak memandang perbedaan, baik agama, suku atau apa pun. Semuanya dipandang sama, sebagai satu saudara, satu keluarga, sehingga wurumana mampu menjaga keharmonisan dalam kehidupan masyarakat.

Namun harus disadari bahwa semangat gotong royong sebagai salah satu budaya bangsa sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia dewasa ini, terutama masyarakat kota. Gotong royong sudah menjadi sesuatu yang langkah bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat di perkotaan. Nilai kebersamaan sudah digeser oleh paham individual yang lebih mementingkan ego pribadi. Dari persoalan ini, maka sosialitas Driyarkara sangat relevan dalam kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan pudarnya nilai gotong royong. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa nilai gotong royong tersebut perlu dihidupkan kembali. Sebab lewat kegiatan gotong royong, manusia sebagai persona dapat membangun interaksi dengan berkomunikasi untuk membangun tali persaudaraan dengan penuh cinta kasih. Dalam suasana persaudaraan, manusia akan menyadari diri bahwa mereka saling membutuhkan satu sama sama lain.

Dalam kegiatan gotong royong, masyarakat juga disadarkan bahwa ia adalah persona yang senantiasa ada bersama dengan yang lain. Dengan demikian, sesama yang lain adalah subjek yang saling melengkapi. Sesama adalah rekan atau kawan yang bersama-sama dengan kita dalam membangun kehidupan untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Dalam gotong royong kita harus bisa melepaskan ego pribadi kita, dan mengedepankan kehidupan bersama dalam semangat cinta kasih. Masyarakat manapun yang menghidupkan dan menerapkan prinsip gotong royong akan mampu menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik, rukun dan damai.

Namun tidak dapat disangkal bahwa dalam gotong royong pun terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. Misalnya, dalam suatu kegiatan gotong royong ada suatu keluarga yang tidak sempat hadir karena suatu alasan tertentu. Hal tersebut bisa menjadi suatu persoalan tersendiri dalam kegiatan gotong royong. Bisa terjadi bahwa yang berhalangan tersebut akan dinilai negatif oleh sesamanya, misalnya dinilai egois atau tidak menghargai kebersamaan, tidak peduli dengan hidup bersama dan sebagainya. Jika hal seperti ini dibiarkan secara terus menerus, maka akan menjadi salah satu faktor pemicu putusnya hubungan persaudaraan dalam masyarakat.

Di sinilah pentingnya komunikasi dan keterbukaan untuk saling memahami satu sama lain. Dalam komunikasi kita dapat menjelaskan bahwa dalam hidup bersama perlu ada tanggungjawab yang kita pikul, yaitu tanggungjawab untuk menjaga kesatuan atau keharmonisan dalam masyarakat. Apabila ada hal-hal yang kurang dalam hidup bersama, misalnya dalam bergotong royong, kita perlu membuka ruang komunikasi dan tidak langsung menghakimi sesama kita. Sebab hal penting dalam gotong royong adalah sikap tulus tanpa pamrih dalam menolong sesama.

Redaksi Idenera

Oleh: Adrianus Aloysius Mite Lamba

Redaksi Idenera

Tags: DriyarkaraFilsafatGotong RoyongSosialitas
SummarizeShare234Send
Previous Post

Genealogy Kaum Abritan atau Abangan

Next Post

Komedi sebagai Kritik dan Perlawanan

Redaksi Idenera

Redaksi Idenera

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kontribusi dalam bentuk tulisan opini, reportase, resensi dan cepen dapat dikirim ke: redaksi.idenera@gmail.com. Semua tulisan dikurasi sebelum dipublikasi.

Related Stories

Indonesia, Negeri Imajinasi

Indonesia, Negeri Imajinasi

by Simon Untara
Januari 26, 2026
0

Berpikir tentang Indonesia dan kaitannya dengan mitos mengingatkan saya akan bentukan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa (nation state). Adalah Thomas Hobbes yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan suatu...

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

by Fian Roger
Januari 22, 2026
0

Pada zaman dulu, karya agung bisa dituliskan dalam batu zamrud. Manusia menolak hal-hal sederhana, dan mulai menulis banyak traktat, tafsiran-tafsiran, dan kajian-kajian filosofis. Mereka juga mulai merasa tahu...

Solusi Palsu Pemerintah Atasi Darurat Sampah

Solusi Palsu Pemerintah Atasi Darurat Sampah

by Redaksi Idenera
Januari 21, 2026
0

Alih-alih mengatasi persoalan sampah, solusi palsu yang ditawarkan pemerintah justru mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan warga.

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

by Redaksi Idenera
Januari 20, 2026
0

Tidak terbantahkan dan tak dipungkiri bahwa segala sesuatu di kehidupan ini, terbentuk dalam suatu sistem yang berkaitan satu sama lain. Kelangsungan hidup masing-masing subsistem bergantung pada subsistem yang...

Next Post
Komedi sebagai Kritik dan Perlawanan

Komedi sebagai Kritik dan Perlawanan

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Follow us

Artikel Terbaru

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Januari 20, 2026
Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Januari 19, 2026

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2025 Idenera.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2025 Idenera.com