Kamis, Februari 12, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
Jurnalisme Tak Bisa Menyenangkan Semua Orang

Jurnalisme Tak Bisa Menyenangkan Semua Orang

Andre Yuris by Andre Yuris
Oktober 8, 2025
in Filsafat, Narasi
Reading Time: 5 mins read

Beberapa waktu lalu kantor Batamnews.co.id, Tribun Batam, dan Ulasan Network dikerumuni pengemudi ojek daring. Mereka mengaku mendapat orderan makanan dan antar jemput paket dari kantor-kantor media tersebut. Nyatanya, orderan tersebut fiktif. 

Sebelumnya, kantor Tempo di Jakarta dikirim kepala babi dan bangkai tikus. Lalu serangan DDos terhadap suara.com  dan peretasan akun whatsapp sejumlah jurnalis dan pemimpin redaksi media.

Tanpa bermaksud mengambil kesimpulan yang tergesa-gesa, kasus teror terhadap media dan jurnalis sepertiya membawa kita  mengamini pernyataan “….mereka membenci orang yang menyuarakan kebenaran”.

Namun dibalik semua teror tersebut, ada yang harus dirayakan dan dibersamai. “Jurnalisme Masih Ada”, begitu kira-kira ungkapan polulernya.

Jurnalisme Bukan Untuk Menyenangkan Semua Orang

Baca juga:

Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis Mandek, KAJ Jatim Desak Polda Ambil Alih

Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis Mandek, KAJ Jatim Desak Polda Ambil Alih

Oktober 29, 2025

Dalam sebuah diskusi terkait tantangan jurnalisme, seorang kolega melontarkan pernyataan  berikut : “Kalau semua orang senang dengan berita kita, mungkin kita belum bekerja dengan cukup baik. Sebaliknya jika ada orang yang terganggu dengan berita yang kita tulis, kita sudah bekerja dengan baik”.  

Benarkah demikan?

Bukan tanpa sebab jurnalis disebut sebagai “anjing penjaga”, sebab jurnalisme idealnya hadir sebagai mata dan telinga publik. Jurnalisme bekerja sebagai otentikator atau pen sahih fakta yang benar dan dapat dipercaya, mengawasi kekuasaan agar tidak sewenang-wenang  dan memastikan kebijakan otoritas diawasi. 

Kewajiban jurnalisme bukan tentang apa yang publik ingin dengar dan lihat.  Namun lebih dari itu,  membuat publik tahu dan sadar bahwa berita yang ia baca berdampak bagi hidupnya, yang mungkin bisa jadi membuat hidup jadi tidak nyaman. Jika jurnalisme hanya menyuguhkan berita  yang manis, asal bapak senang, sesuai omongan dan tidak menyinggung siapa pun, itu bukan jurnalisme, tapi promosi, propaganda dan hiburan. 

Seperti yang ditulis Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Menyampaikan kebenaran berarti menyampaikan fakta, data, amatan yang sudah diverifikasi berulang kepada publik. Tujuannya agar publik tahu yang sebenar-benarnya, sehingga mereka mampu membuat keputusan terbaik tentang diri, komunitas dan negara mereka.

Maka jika ada teror terhadap  jurnalis, yang terancam bukan hanya jurnalisme, tapi  ancaman bagi kebenaran, ruang sipil dan demokrasi. Seperti yang katakan John Dewey “demokrasi cuma bisa jalan kalau masyarakatnya tahu apa yang sebenarnya terjadi “. Jika kebenaran mendapatkan jalan buntu, jurnalisme dibungkam, itu artinya kita betul-betul menuju Indonesia Gelap.

Tantangan Lain, Banjir Informasi

Zeynep Tufekci, seorang sosiolog dan penulis, dalam siniar “Information and Attention in a Networked World “ mengatakan,  masalah terbesar dunia saat ini bukan lagi kekurangan informasi, tapi justru kebanyakan informasi yang tidak tertata. Alhasil perhatian publik jadi mudah dialihkan. 

Publik hidup dalam rezim scroll.  Geser dikit, gawai langsung sajikan ratusan berita, cuitan, utas, dan konten yang menarik perhatian. Tapi ironis, di tengah banjir informasi itu, semakin sulit mencari yang benar-benar penting. Linimasa sesak dengan drama viral, gosip selebritis dan politisi, atau debat receh di media sosial. Kering  isu-isu penting seperti kesehatan, pendidikan, atau kerusakan lingkungan.  Kondisi ini yang disebut Zeynep sebagai misdirection of attention, atau publik yang  teralihkan secara masal.

Kondisi ini sangat disukai penguasa. Mereka akan bisa leluasa mengambil kebijakan tanpa pengawasan berarti dari publik. Tunggu viral baru direspon, lalu buat kebijakan yang tolak ukurnya viralitas. Mereka  paham, publik akan segera  lupa atau digantikan hal viral lainnya.

Bagi jurnalis, ini  justru tantangan besar. Terlebih saat ini antar media bersaing konten viral, clickbait, dan algoritma  yang hanya peduli pada engagement, bukan kebenaran. Atas nama ekonomi media, awak redaksi ikut-ikutan mengejar klik, bukan kedalaman.  Alhasil berita penting tenggelam, sedangkan isu remeh mendominasi linimasa.

Peran jurnalis dalam situasi misdirection of attention ini  tidak lagi hanya menyampaikan kebenaran namun menata ulang fokus publik. Menata ulang berarti merebut ruang diskusi di sosial media dengan isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan dan kebaikan publik (bonum commune). 

Jurnalisme saat ini tidak cukup hanya mewartakan kebenaran.  Ia harus bisa mengembalikan fokus publik, merawat diskusi dan debat publik yang sehat. Jurnalisme juga harus terus jadi watchdog yang mengusik kenyamanan kelompok berkuasa, mayoritas  dominan demi kepentingan banyak orang. Karena perubahan tak akan lahir dari rasa nyaman. Dan ini tidak mudah dan beresiko.

Kita Butuh Jurnalis(me) Yang Siap Dibenci 

“ Kok media ini cerewet banget, sih?” atau “Kenapa sih harus diungkap-ungkap kayak gini, bikin ribut aja?” Nah, bisa jadi itu tanda bahwa jurnalisme sedang bekerja sebagaimana mestinya.” kata seorang kawan dalam sebuah diskusi.

Memang  jurnalis kerap dianggap sebagai provokator, tukang cari masalah dan sok kritis. Bahkan Presiden Prabowo menuduh beberapa media sebagai antek asing. Anggapan ini tentu merugikan jurnalis. Namun dari sisi lain, anggapan ini bisa dimaknai sebagai harga yang pantas dibayar untuk kebenaran dan keberpihakan pada publik.  

Jika Prabowo terusik dengan karya jurnalistik, sampai menuduh jurnalis sebagai antek asing. Itu artinya jurnalis telah bekerja dengan baik. Jurnalis telah menyampaikan kebenaran, dan itu mengusik orang-orang yang berkuasa. Sebaliknya jika publik tidak bereaksi apa-apa setelah membaca karya jurnalistik, bisa jadi karya tersebut tidak cukup baik. 

Resiko mengatakan, mengungkap kebenaran atau menyampaikan hal yang tidak ingin didengar atau diungkap ke publik, apalagi terkait penguasa atau mayoritas dominan adalah dibenci bahkan dimusuhi. Dalam konteks resiko ancaman terhadap jurnalis, dibenci atau dimusuhi bentuknya bisa teror, intimidasi, gugatan hukum, pemecatan dan bahkan pembunuhan. Jika dengan resiko ini jurnalis jadi tunduk dan diam, dan “asal buat bapak senang” maka publiklah yang rugi.

Agar jurnalisme yang berkualitas tetap ada, tugas publik itu sederhana “beri dukungan”. Dukung jurnalisme yang mengatakan “Ini faktanya, suka atau tidak”. Dukung jurnalisme yang menghadirkan validitas bukan viralitas. Jurnalisme yang berpihak pada publik marjinal dan isu pinggiran, bukan berlindung di balik “jurnalis harus netral dan berimbang” tapi diam-diam menghamba pada kepentingan ekonomi, politik dan kekuasaan.

Seperti kata George Orwell “If liberty means anything at all, it means the right to tell people what they do not want to hear.” Kalau kebebasan itu benar-benar berarti, maka isinya adalah hak untuk bilang sesuatu yang orang lain tidak mau dengar. Itu artinya siap untuk dibenci.

*Disampaikan sebagai bahan diskusi kegiatan SENJA, UKM Pers Mahasiswa LPM Pena Merah UPN Veteran Jawa Timur

Tags: JurnalisJurnalisme
SummarizeShare234Send
Previous Post

Lembu Mulyo dan Perlawanan Peternak Sapi Sumber Mulyo

Next Post

Asfinawati : Perburuan Aktivis, Kesalahan Kapolri Juga Presiden

Andre Yuris

Andre Yuris

Jurnalis lepas, tinggal di Surabaya. Meliput untuk AFP, Koreksi.org dan Idenera.com. Profil lengkap ada di https://journalist.net/andreyuris.

Related Stories

Indonesia, Negeri Imajinasi

Indonesia, Negeri Imajinasi

by Simon Untara
Januari 26, 2026
0

Berpikir tentang Indonesia dan kaitannya dengan mitos mengingatkan saya akan bentukan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa (nation state). Adalah Thomas Hobbes yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan suatu...

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

by Fian Roger
Januari 22, 2026
0

Pada zaman dulu, karya agung bisa dituliskan dalam batu zamrud. Manusia menolak hal-hal sederhana, dan mulai menulis banyak traktat, tafsiran-tafsiran, dan kajian-kajian filosofis. Mereka juga mulai merasa tahu...

Solusi Palsu Pemerintah Atasi Darurat Sampah

Solusi Palsu Pemerintah Atasi Darurat Sampah

by Redaksi Idenera
Januari 21, 2026
0

Alih-alih mengatasi persoalan sampah, solusi palsu yang ditawarkan pemerintah justru mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan warga.

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

by Redaksi Idenera
Januari 20, 2026
0

Tidak terbantahkan dan tak dipungkiri bahwa segala sesuatu di kehidupan ini, terbentuk dalam suatu sistem yang berkaitan satu sama lain. Kelangsungan hidup masing-masing subsistem bergantung pada subsistem yang...

Next Post
Asfinawati : Perburuan Aktivis, Kesalahan Kapolri Juga Presiden

Asfinawati : Perburuan Aktivis, Kesalahan Kapolri Juga Presiden

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Follow us

Artikel Terbaru

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Januari 20, 2026
Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Januari 19, 2026

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2025 Idenera.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2025 Idenera.com