Peneliti Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) menemukan sembilan partikel mikroplastik poliester dalam darah perempuan di Jawa Timur. Temuan partikel poliester ini menunjukkan mikroplastik mampu melewati pembuluh darah kecil dan beredar bebas dalam sistem peredaran darah.
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil 1 mililiter darah dari 30 responden perempuan yang terdiri dari 20 pekerja pemilah sampah dan 10 mahasiswa untuk diuji.
Metode yang digunakan adalah dengan mencampurkan larutan kalium hidroksida (KOH) ke dalam eritrosit (sel darah merah) untuk menghancurkan material organik sehingga menyisakan material anorganik seperti mikroplastik. Setelah diinkubasi selama 48 jam, sampel disaring menggunakan filter mesh berukuran 0,45 mikron, lalu kemudian diidentifikasi dengan mikroskop.
Dari hasil identifikasi, para peneliti menemukan partikel berukuran antara 0,40 hingga 10 mikron yang terdiri dari poliester (28%); polietilen (32%); poliisobutilen (24%); dan PET (16%). Poliester merupakan bahan dasar dalam produksi baju kaos, pakaian dalam, pakaian olahraga, seprei, gorden dan bahan tekstil lain yang digunakan sehari-hari. Ketiga bahan tersebut lazim digunakan dalam industri tekstil dan diklaim aman bagi kesehatan manusia.
Untuk diketahui, poliester merupakan bahan utama dalam pembuatan kain yang sifatnya cepat kering dan tidak kerut. Polietilen (PE) merupakan serat sintetis yang berfungsi agar kain tahan air, kuat, dan ringan. Poliisobutilen berfungsi sebagai lem atau perekat kain agar lembut, lentur dan tahan lama saat dicuci atau digosok. Sedangkan PET (Polietilena tereftalat) berfungsi sebagai bahan dasar serat poliester.

Temuan Poliester Dalam Darah
Peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini, mengatakan bahwa temuan partikel poliester berukuran antara 0,40 hingga 10 mikron dalam darah manusia menunjukkan mikroplastik mampu melewati pembuluh darah kecil dan beredar bebas dalam sistem peredaran darah.
“Ada tiga kemungkinan atau rute eksposur mikropastik seperti poliester masuk ke dalam tubuh manusia. Melalui inhalasi, konsumsi dan paparan pada kulit,” kata Sofi.
Pada rute eksposur inhalasi, partikel mikroplastik masuk ke dalam saluran napas bersama udara yang terhirup. Pada rute konsumsi, mikroplastik masuk melalui makanan dan minuman, sedangkan pada rute paparan kulit, mikroplastik bisa masuk melalui kosmetik, udara dan air hujan.
“Kalau dalam darah, besar kemungkinan rute masuknya dari makanan dan inhalasi. Sebab partikel besar akan lanjut ke usus dan terbuang menjadi feses, namun partikel mikroplastik dalam darah akan disirkulasi hingga terakumulasi di otak dan membuka kemungkinan interaksi langsung dengan sel-sel penting dalam tubuh,” lanjutnya.
Sofi juga mengatakan bahwa temuan dominasi polimer tekstil dalam darah responden menunjukkan bahwa pakaian yang kita gunakan sehari-hari bisa menjadi sumber paparan berbahaya yang tidak disadari.
“Kesimpulan sementara dari penelitian ini adalah limbah tekstil memiliki kontribusi signifikan terhadap paparan mikroplastik,” jelasnya.
Ancaman Mikroplastik Bagi Kesehatan
Dalam berbagai riset, keberadaan mikroplastik dalam darah berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan serius. Mulai dari kerusakan sel darah merah, peradangan berkepanjangan, hingga gangguan pembekuan darah yang dapat berujung pada penyakit kardiovaskular seperti stroke.
Riset yang dilakukan Department of Cardiology, Beijing Anzhen Hospital, menemukan adanya keterkaitan antara mikroplastik dengan kompleksitas patologi vaskular dan respons imunoinflamasi pada sindrom koroner akut.
Selain itu, dalam riset yang dilakukan Justin Perry dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center, ditemukan bahwa mikroplastik yang menumpuk di dalam tubuh dapat mengganggu sistem kekebalan dengan mencegah sel‑sel imun menelan mikroba dan membersihkan sel‑sel mati.
Tak hanya itu, sel imun yang berfungsi mengeliminasi partikel asing tidak mampu menghancurkan mikroplastik, sehingga memicu respons inflamasi kronis yang dapat melemahkan daya tahan tubuh.
Meskipun masih belum jelas bagaimana ini berlangsung dalam tubuh manusia, para ahli mengatakan mikroplastik berpotensi memiliki implikasi besar bagi kesehatan manusia.
Dalam penelitian lain, Ecoton bahkan menemukan mikroplastik dalam sperma serta air ketuban ibu hamil. Dalam sperma, partikel polietilen dikaitkan dengan gangguan kualitas dan perkembangan sel. Sementara dalam air ketuban, mikroplastik berpotensi mengganggu pertumbuhan janin, memicu inflamasi, hingga meningkatkan risiko kelahiran prematur.
Dalam riset Ecoton dan SIEJ Mei–Juli 2025, kontaminasi mikroplastik di udara ditemukan di 18 kota/kabupaten Indonesia. Ada 5 kota dengan kontaminasi tertinggi, yaitu Jakarta Pusat (37 partikel/2 jam/9 cm), Jakarta Selatan (30), Bandung (16), Semarang (13), dan Kupang (13). Analisis FTIR selama riset ini menunjukkan adanya berbagai polimer seperti PET, PBT, nilon, PE, PP, resin BPA, PTFE, dan polibutilena dari abrasi ban kendaraan.
Riset lain yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menemukan bahwa air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik yang berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik serta degradasi plastik di ruang terbuka. Dalam 1 m² air hujan ditemukan 15 partikel mikroplastik berbentuk serat sintetis dan fragmen dari jenis polimer poliester, nilon, polietilena, polipropilen dan polibutadien dari ban kendaraan.

Langkah Pencegahan: Mengurangi Fast Fashion
Menurut Sofi Azilan Aini, untuk mencegah, masyarakat harus membangun kesadaran tentang bahaya mikroplastik dengan cara mengurangi penggunaan fast fashion berbahan sintetis seperti poliester dan polietilen.
“Material fast fashion berbahan sintetis seperti poliester, polietilen berkontribusi pada timbulnya sampah plastik, termasuk serat mikro yang berpotensi masuk ke dalam tubuh, bahkan terdeteksi dalam darah, sperma, hingga amnion ibu hamil,” jelasnya.
Sebagai alternatif, Sofie menyarankan agar masyarakat memaksimalkan penggunaan pakaian yang sudah dimiliki. Mulai dari memperbaiki pakaian rusak, merawat agar lebih awet, dan menghindari pola konsumsi pakaian sekali pakai.
“Selain itu, pengurangan plastik juga bisa dilakukan dalam keseharian, seperti menghindari air minum dalam kemasan dan wadah makanan sekali pakai dengan membawa botol minum (tumbler) dan kotak makan sendiri. Langkah-langkah sederhana ini dapat membantu menekan produksi sampah plastik baru,” pungkasnya.
Sumber foto: Dokumentasi Ecoton. Gambar utama diolah dengan menggunakan ChatGpt.












