Sapantuk wahyuning Allah, Gya dumilah mangulah ilmu bangkit, Bangkit mikat reh mangukut,Kukutaning jiwangga,Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, Lire sepuh sepi hawa, Awas roroning atunggi (Serat Wedhatama, Mangkunagara IV)
Kartini, meskipun putri dari seorang bangsawan Jawa, bisa jadi tak begitu akrab dengan para perempuan yang begitu dijunjung tinggi dalam kesusastraan sufistik Jawa. Tak sekadar tokoh Sukesi dalam kisah pewayangan Jawa yang menjadikan perempuan nyaris setara dengan kelaziman para lelaki Jawa untuk mendapatkan “ngelmu kasampurnan”, yang bahkan menjadikan ngelmu itu sebagai syarat untuk dapat menikahinya.
Belum lagi Tambangraras atau bahkan Nyi Cethi Centhini, dua karakter perempuan dalam Serat Centhini yang sangat terkenal itu. Baik kisah Tambangraras maupun Nyi Cethi Centhini, yang memerlukan pandangan sufistik mendalam untuk memahami, adalah sebentuk penghargaan Islam-Jawa terhadap perempuan yang sangat jauh dari kesan yang didapatkan dari berbagai keluh kesah Kartini atas nasibnya sebagai seorang perempuan Jawa.
Namun, tetap saja keluh kesah Kartini dianggap mewakili kisah para perempuan Jawa yang tengah bersinggungan dengan agama (Islam) dan kebudayaan Barat (kolonial). Dan celakanya, singularitas Kartini sebagai seorang perempuan Jawa itulah yang selama ini dijejalkan pada segenap perempuan, dan ironisnya, lelakinya juga, modern Indonesia.
Memang, setidaknya terdapat tiga kebudayaan yang turut memoles citra diri dari seorang Kartini: Jawa, Islam, dan Barat. Namun, celakanya, Barat yang tengah disokong oleh kolonialisme adalah yang dominan mengarahkan perspektifnya, bahkan pun ketika perspektif itu dikenakan pada dirinya sendiri sebagai seorang perempuan Jawa.
Kita perlu paham bahwa dasar dari kebudayaan Jawa adalah perspektif “roroning atunggil” di mana dua unsur dapat dipilah, namun sama sekali tak dapat diceraikan. Dan mustahil ketika satu unsur direndahkan atau bahkan dihilangkan, otomatis unsur yang lainnya akan meninggi dan terpahami.
Tamsil yang paling tepat atas perspektif “roroning atunggil” ini adalah konsep “kawula-Gusti” yang, celakanya, selama ini hanya dikenakan pada wilayah teologi yang kemudian oleh kalangan agamawan pernah dihakimi sebagai sebentuk heterodoksi dalam beragama. Padahal, “roroning atunggil” adalah sebuah perspektif orang Jawa untuk mewujudkan tumbuhnya keselarasan (Memayu hayuning bawana).
Maka, dalam kesusastraan sufistik Jawa, yang tak ada dalam kesusastraan sufistik Arab, dapat dimengerti kenapa para perempuan seperti Sukesi, Tambangraras, dan bahkan Centhini diletakkan secara setara, dan bahkan lebih, dalam perolehan atas “ngelmu kasampurnan” yang konon hanya berhak diterima oleh para lelaki.
Taruhlah Nyi Cethi Centhini dalam Serat Centhini, yang secara tersirat hanya berada dalam penyebutan atau seolah hanyalah karakter figuran. Tapi, nalar Islam-Jawa ternyata menjadikan Centhini yang seolah tak penting justru menjadi judul dari karya sastra Jawa terakbar itu, dan bukannya sang tokoh utama, Syekh Amongraga.
Memang, dalam jagat teks, atau di mata Amongraga dan bahkan Sultan Agung, misalnya, Centhini bukanlah siapa-siapa. Tapi di tangan para pujangga Jawa dan pembaca Serat Centhini ia terasa begitu penting dan dekat.
Demikianlah Centhini yang adalah seorang perempuan, kadar kehambaannya (kawula-Allah) yang begitu tinggi justru menghantarkannya pada kedudukan yang musykil untuk diraih para sufi yang menjadi tokoh-tokoh utama Serat Centhini: terbungkam di Bumi, namun bergema di langit.












