• Contact
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fisafat

Apakah Tujuan Kita Belajar Filsafat ?

Redaksi Idenera by Redaksi Idenera
September 27, 2025
in Fisafat, Kampus, Narasi
Reading Time: 4 mins read
0

POIN PENTING:

  • Filsafat mengasah cara berpikir logis dan kritis.
  • Filsafat harus hidup, dinamis, dan terbuka.
  • Tujuannya memberi perubahan nyata bagi kemanusiaan.

Pertanyaan tentang apa itu filsafat, mengapa berfilsafat, apa tujuan berfilsafat; tentu sudah banyak direfleksikan dalam berbagai pemikiran dan buku-buku serius yang dapat ditemukan di perpustakaan dan koleksi-koleksi.

Namun, satu pertanyaan yang menggelitik saya sebagai tamatan dari kampus yang berkonsentrasi filsafat, khususnya filsafat agama, adalah bagaimana berfilsafat dengan baik, sederhana dan menyentuh pertanyaan konkrit umat manusia, dan bagaimana untuk sampai pada sebuah filsafat yang hidup, dinamis dan mampu memberi jalan keluar yang kreatif bagi sebuah persoalan. Pertanyaan ini tidak berujung pada sebuah tutuntan pragmatis dari filsafat, melainkan bagaimana memanfaatkan filsafat sebagai sebuah “alat” kehidupan.

Esensi ber-filsafat menurut saya adalah berpikir. Pikiran yang logis, sistematis, runtun, dan lengkap alias komprehensif tentang realitas. Berpikir merupakan salah satu daya yang ada pada manusia. Tapi, apakah semua aktus berpikir itu dapat dinamakan filsafat? Tentu tidak. Ciri khas pemikiran filsafat adalah kedalaman dan keluasannya. Kedalaman dalam arti sebuah aktus berpikir yang mampu menelaah sesuatu sampai pada akar persoalannya. Sedangkan keluasannya dalam arti aktus berpikir yang mampu melihat semua dimensi persoalan dan akhirnya mencari benang merah, atau inti persoalan. Itulah yang dinamakan hakekat atau esensi suatu hal.

Lantas, bagaimanakah untuk menerapkan cara berpikir filosofis dalam setiap persoalan. Pasalnya, semua ilmu telah berkembang pesat dengan aneka pendekatan dan penyelesaian yang begitu canggih, mutakhir dan kreatif. Sementara kalau cara berpikir filosofis masih stagnan, apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang filsuf? Yang pasti ia harus membaharui ilmunya dengan terus berkontak dengan pengalaman-pengalaman hidup. Entahkah itu bersifat personal maupun sosial. Entahkah itu bersifat esensial maupun kontingensial. Cara berpikir filosofis semestinya dinamis dengan pendekatan kata-kata yang hidup juga. Artinya ia harus terbuka juga pada perkembangan ilmu lain seperti komputer, kedokteran, psikologi, jurnalistik, sosiologi, antropologi, dsb. Syaratnya yakni membaca, mendengarkan, belajar dari orang yang berilmu lain, berdiskusi dengan orang lain, terus menulis, terus berefleksi dan membangun sikap filosofis dengan tidak puas dengan aneka jawaban yang caranya lewat membuat pertanyaan-pertanyaan kritis.

Berpikir kreatif. Menurut saya ini merupakan salah satu cara untuk terus menghidupkan sikap filosofis dalam hidup. Dan yang pasti tidak cukup hanya pada suatu deskripsi melainkan pada suatu solusi yang membumi. Seorang filsuf tidak hanya harus mampu berpikir melainkan bagaimana pikirannya dapat memberikan sumbangan segar dan baru bagi perkembangan manusia.

Berpikir radikal sekaligus fruktual. Seorang filsuf memang harus berpikir sampai di akar persoalan. Mengapa? Apa sebab akhir dari sesuatu? Pencarian pada sebab terakhir itu memungkinkan pemikir untuk berjumpa dengan kebenaran yang akan terus dibongkar demi mencapai kebenaran baru. Namun berpikir radikal yang tidak seiring dengan manfaatnya demi kehidupan, akan mengarahkan pemikiran hanya pada ide, ia tidak akan menjadi sebuah inkarnasi “logos”  atau kata-kata menjadi kenyataan. Jadi, berpikir radikal harus seiring dengan cara berpikir fruktual. Pikiran yang bermanfaat sekaligus aktual.

BacaJuga

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

April 10, 2026
Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

April 1, 2026
Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Maret 31, 2026
Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Maret 6, 2026

Logos menjadi daging. Itu berarti inkarnasi ide abstrak menjadi sebuah pergumulan konkrit yang membawa revolusi, reformasi, perubahan radikal entahkah pada diri si pemikir sendiri maupun pada “mileu” hidup dimana dia mengada. Ide-ide filsafat sudah saatnya mendarat pada ranah aktual; politik, hidup kemasyarakatan, agama, kesehatan, hukum,…dsb. Memang sudah sekian lama itu terjadi, tetapi yang saya maksudkan bahwa filsafat yang menjadi “energi terbarukan” dengan semangat terbarukan untuk memberikan keseimbangan dalam cara berpikir yang pragmatis, fragmentaris dan merusak kemanusiaan.

Yang menjadi tantangan bagi para penggelut filsafat dan mahasiwa filsafat di pelbagai perguruan tinggi: apakah kita belajar filsafat untuk mendapat pekerjaan, misalnya untuk menjadi guru, penyuluh, pemimpin agama, pastor, aktivis LSM, pekerja kantoran, dsb? Apa sesungguhnya panggilan dasariah kita sebagai pemikir? Apakah tujuan kita untuk belajar filsafat sungguh membawa api dinamisme kreatif bagi pembangunan mental dan karakter masyarakat lewat perubahan atau penggerusan lapisan epistemik yang keliru dalam masyarakat? Kalau ada yang berpikir bahwa belajar filsafat hanya untuk mendapat pekerjaan maka anda tidak lebih dari pelajar pramatis. Filsafat itu untuk kehidupan. Memang anda dan saya membutuhkan pekerjaan, tapi itu tidak menjadi tujuan akhir. Pembelajaran dan pergumulan filosofis harus berujung pada perjumpaan dengan kebenaran manusia. Kebenaran yang terus harus dibongkar untuk mencapai kebenaran Yang Lain. Pergumulan filosofis dengan demikian seperti sebuah ziarah batin, karena memang filsafat itu suatu aktus spiritual. Dan disamping aktus sprititual filsafat sendiri adalah sebuah kerja. Bilapun seorang fiilsuf bekerja, ia sedapat mungkin bekerja sebagai filsuf dalam aneka dan bidang pekerjaan apapun. Itulah tugas kita, para penggandrung filsafat.

Sudah waktunya, kita turun dan mendaratkan ide-ide brilian dan kreatif pada sisi konkrit kehidupan. Jangan takut, kita memiliki jaringan luas, kalau kita terus berkomunikasi, membentuk organisme yang kuat, terus membagi cerita dan pemikiran dan bergerak untuk perubahan itu. Jadi, janganlah takut berfilsafat. Takutlah berfilsafat jika pemikiran anda itu hanya sebuah pemikiran yang keliru dan memelihara kesalahan yang diamini bersama. Takutlah jika anda merasa malu untuk mengungkapkan kebenaran yang seharusnya kita wahyukan bersama.

Ide-ide brilian dan besar para filsuf tidak lahir dengan sendirinya atau jatuh dari langit ketika mereka tidur, tetapi karena mereka terus mengasah kemampuan berpikir mereka dengan refleksi, menemukan pemikiran yang baru dan menceburkan diri dalam pengalaman konkrit. Tapi pemikir besar tidak hanya lahir dari membaca buku, melainkan dengan membaca realitas hidup. Buku, ide-ide, gagasan besar hanya membantu kita untuk menemukan prespektif dan cara pandang kita sendiri. Menjadi pemikir besar untuk diri sendiri lebih baik ketimbang menjadi pembicara, pemikir bagi orang lain tapi kualitas hidup si pemikir sendiri dari segi etis dan praktis tidak mendukung pemikirannya. (

Redaksi Idenera

Fian Roger

Redaksi Idenera

Tags: Kampus
SummarizeShare234Send
Previous Post

Tampar Aku di Pipi

Next Post

Genealogy Kaum Abritan atau Abangan

Redaksi Idenera

Redaksi Idenera

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kontribusi dalam bentuk tulisan opini, reportase, resensi dan cepen dapat dikirim ke: redaksi.idenera@gmail.com. Semua tulisan dikurasi sebelum dipublikasi.

Related Posts

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris
Lingkungan

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

by Redaksi Idenera
April 10, 2026
0

Jika ukuran keberhasilan sebuah kota adalah pujian dari pejabat kementerian dan piagam penghargaan, maka Kota Surabaya tampaknya sudah nyaris menyempurnakan....

Read moreDetails
Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

Hari ini,1 April 28 tahun Lalu, Bimo Diculik

April 1, 2026
Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Menakar Pendidikan Berorientasi Pasar

Maret 31, 2026
Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Krisis Spiritual, Derita Masyarakat Modern

Maret 6, 2026
Berjalan Kaki di Kota Surabaya Seperti Bertaruh Nyawa

Berjalan Kaki di Kota Surabaya Seperti Bertaruh Nyawa

Februari 23, 2026
Indonesia, Negeri Imajinasi

Indonesia, Negeri Imajinasi

Januari 26, 2026
Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Januari 22, 2026
Next Post
Genealogy Kaum Abritan atau Abangan

Genealogy Kaum Abritan atau Abangan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA