• Contact
Jumat, Mei 8, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Filsafat Narasi
Suku Helong

Orang Helong, Betawinya Kota Kupang

Fian Roger by Fian Roger
Januari 21, 2026
in Narasi, Warga
Reading Time: 4 mins read
0

Suku Helong tenggelam bersama sejarah Kota Kupang. Tidak banyak catatan ilmiah untuk menggali kisah suku  yang bermukim di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur ini. Beberapa data dan teks merupakan peninggalan kolonial, misionaris, catatan pemerintah dan kisah lisan. Tulisan ini terbatas pada informasi yang tersaji dari Buku Koepang Tempo Doloe (Luitnan, Ruas, 2012).

Etnis ini seperti suku Betawi di Jakarta yang tenggelam dalam hiruk pikuk pembangunan fisik. Suku Helong sebenarnya dari Nusa Ina, nama lain dari Pulau Seram. Seram merupakan pulau yang berada pada gugusan kepulauan Maluku. Pulau Seram luasnya 18.625 km2 dengan panjang 340 km dan lebar 60 km. Pulau ini digambarkan memiliki alam yang subur, dengan hutan tropis. Puncak tertinggi di sana bernama Gunung Binaiya.

Awalnya etnis Helong berdiam di Pulau Seram. Namun entah apa alasannya, suku ini bermigrasi ke Pulau Timor. Dugaan sementara, migrasi karena bencana alam atau karena konflik saudara. Namun hipotesa ini perlu diuji lebih lanjut. Secara asal usul kata, Helong berasal dari kata he yang berarti jual dan lo berarti tidak. Kata helo berarti tidak dijual. Secara umum, kata helo berarti pengorbanan atau rela berkorban.

Filosofi etnis Helong diyakini mewarisi sikap sedia berkorban dan tidak rela kalau lingkungannya diganggu. Jika diganggu, maka dia berbalik membalas. Antropolog Unika Widya Mandira Kupang, DR Gregorius Neonbasu mengungkapkan, ketika orang menunjuk ke Pulau Semau-yang acapkali disebut Bung Tilu (tiga kembang)– terungkap makna, “Semau tidak dijual.”

Bungtilu menginspirasi beberapa nama. Salah satunya nama Viktor Bungtilu Laiskodat, mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur.Teori Rakit dalam Antropologi Etnik, kata Neonbasu, menjelaskan perjalanan  suku-suku arkais yang mengikuti saja rakit membawa mereka ke mana. Di tempat mereka terdampar, di sanalah mereka memulai kehidupan baru.

Rombongan Helong yang keluar dari Seram tidak diketahui pasti berapa jumlahnya. Bertindak sebagai pemimpin kala itu adalah Lai Topan yang tugasnya sebagai perintis jalan yang didampingi Lai Tabun. Konon, Koen Lai Bissi dan Lissin Lai Bissi dikisahkan tetap memimpin mengarungi Laut Banda yang luas serta gelombangnya yang dahsyat.

Setelah mengarungi lautan ganas menggunakan rakit dan tanpa kompas akhirnya, kelompok itu mendarat di Amboka/Tutulata, ujung timur Pulau Timor. Terjadi peristiwa misterius yang dialami Koen Lai Bissi saat mandi berendam di Pantai Amboka. Dia tiba-tiba berubah menjadi seekor buaya. Alhasil, rombongan yang melintasi daratan menuju ujung Barat dipimpin oleh  Lissin Lai Bissi.

Perjalanan yang cukup memakan waktu dan lintas generasi ini akhirnya tiba di bagian barat Pulau Timor dan membentuk dua perkampungan tradisional yakni Kaisalun(Fatufeto) dan Bunibaun (Bonipoi). Dalam penuturan Buku Koepang Tempo Doloe keturunan Raja Bissing Lissin yakni Koen Lai Bissi yang memimpin etnis Helong. Jejaknya terdapat pada Sonaf yang dikenal dengan Sonaf Koe Pan.

Ishak mencatat, nama Kupang sebenarnya bermetamorfosa dari nama Koe Pan, nama sonaf/istana Helong. Etnis Helong memiliki Bahasa ibu yang dinamakan Bahasa Helong. Sekarang, penyebaran etnik ini di Pulau Timor di antaranya di Pulau Semau, Kolhua, Bi Upu, Ui Hani, Uilautsala, Kuan Boke, Bismarak, Bolok, Binael, alak, Boenana, Uimatnunu, Uilesa, dan sebagian tablolong dan Klaibe.

BacaJuga

Diblokir, Dibom, Dipukul: Ancaman Nyata Media Alternatif Indonesia

Diblokir, Dibom, Dipukul: Ancaman Nyata Media Alternatif Indonesia

Mei 4, 2026
Pendidikan dan Relevansi

Pendidikan dan Relevansi

April 30, 2026
Andrie Yunus dan Teater Teror

Andrie Yunus dan Teater Teror

April 27, 2026
Interkulturalisme: Tan Khoen Swie, Tionghoa, dan Kejawen

Interkulturalisme: Tan Khoen Swie, Tionghoa, dan Kejawen

April 24, 2026

Kolhua merupakan tempat komunitas Helong terbanyak di Kota Kupang. Tidak heran penulis KTD mengusulkan Kolhua ditetapkan menjadi desa Komunitas Helong di Kupang. Pengakuan ini akan menjadi penting kemudian agar tidak tergerusnya Helong dan budayanya dalam dinamika kota karang.

Suku Helong memiliki kebiasaan mengungkapkan syair-syair untuk memperkuat hubungan persaudaraan di antara mereka. Syair itu biasnya dituturkan oleh tetua adat dengan bahasa yang halus dan puitis untuk mengungkapkan kenyataan hidup. Ungkapan-ungkapan itu acapkali diberi bumbu mitos.

Syair-syair adat ini penting untuk membuka usul-asal yang suku yang bersangkutan. Referensi dari penuturan genealogis ini menjadi penting dalam penuturan sejarah. Syair-syair itu biasanya diungkapkan dalam upacara pelepasan jenasah, peristiwa perkawinan atau masa panen. Dalam syair-syair itu terungkap kisah marga.

Kadang-kadang penuturan kisah-kisah marga itu bervariasi atar satu marga dengan yang lainnya. Apalagi umumnya budaya ketimuran jauh dari tradisi tulisan.Tradisi lisan seperti penuturan menjadi referensi untuk mengungkapkan sejarah. Namun tradisi lisan ternyata lebih kuat karena hidup dalam aspek sosial tiap etnik.

Luitnan telah berhasil mengumpulkan serpihan-serpihan sejarah Helong dalam bukunya. Kita berharap banyak penulis NTT yang akan mengungkapkan kisah etnik mereka melalui penelitian serius.

Sumber: Buku ‘Koepang Tempo Doeloe‘ (2011) oleh Ishak Aries Luitnan. 

Tags: KupangKupang Tempo DoloeOrang HelongSuku Helong
SummarizeShare238Send
Previous Post

Tanean Lanjheng: Warisan dan Nilai Masyarakat Madura

Next Post

Neofeodalisme Digital Ojek Daring

Fian Roger

Fian Roger

Penulis lepas dari Flores. Alumnus Fakultas Filsafat di Universitas Katholik Widya Mandira Kupang

Related Posts

Diblokir, Dibom, Dipukul: Ancaman Nyata Media Alternatif Indonesia
Jurnalis Warga

Diblokir, Dibom, Dipukul: Ancaman Nyata Media Alternatif Indonesia

by Redaksi Idenera
Mei 4, 2026
0

Pada Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 yang jatuh pada 3 Mei 2026, Koalisi Media Alternatif (KoMA) Indonesia menyoroti pemblokiran Magdalene.co,...

Read moreDetails
Pendidikan dan Relevansi

Pendidikan dan Relevansi

April 30, 2026
Andrie Yunus dan Teater Teror

Andrie Yunus dan Teater Teror

April 27, 2026
Interkulturalisme: Tan Khoen Swie, Tionghoa, dan Kejawen

Interkulturalisme: Tan Khoen Swie, Tionghoa, dan Kejawen

April 24, 2026
Kronologis Operasi Teror terhadap Andrie Yunus

Kronologis Operasi Teror terhadap Andrie Yunus

April 22, 2026
Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

Gerak dan Kesempurnaan Takbir Joget Amerta

April 14, 2026
Peneliti Ecoton

Fast Fashion Sumbang Mikroplastik Dalam Darah

April 9, 2026
Next Post
Neofeodalisme Digital Ojek Daring

Neofeodalisme Digital Ojek Daring

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA