• Contact
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cerpen

Rasa Sukaku (Udah) Kadaluarsa

Acha Hallatu by Acha Hallatu
Oktober 18, 2025
in Cerpen, Sastra
Reading Time: 3 mins read
0

Setiap pagi aku bangun yang aku lihat adalah wajah bidadari. Senyuman yang setiap sore aku pulang kerja, disambut dengan pelukan hangat sesampai dirumah. Tangan kananku dicium. Dibelai manja sambil ditanya, gimana hari ini. Meskipun itu semua khayalan, gak masalah mumpung bermimpi itu gratis.

Setiap hari memujanya. Kekurangannya hampir tak terlihat. Antara dibutakan cinta atau memang buta beneran? Rasanya dia terlalu sempurna. Ini itu dibanggakan, apapun itu. Rasa ini rasa itu, semua dirasakan. Termasuk cemburu pula!

Rasa cemburu yang gak biasa. Sangat hati-hati memperhatikan hatinya, tapi tak sebaliknya. Dihancurkan berulang kali pun masih tetap mencinta. Bodoh atau dungu? Oh, diriku!

Apalagi? Semua hal tentang dirinya tak pernah terlewatkan. Semuanya didambakan. Otak benar-benar gak jernih. Bagaimana caranya berpikir normal? Sulit sebenarnya jika dalam kondisi jatuh cinta. Otak gak dikasih kesempatan untuk menyatakan kebenaran. Karena hati terus memujanya. Selalu ada kata toleransi untuknya, yaudah gak apa-apa. Semuanya dianggap gak apa-apa.

Mau sampai kapan?

Pusing setiap hari pun dinikmati aja. Gejolak apalagi ini? Ingin menghubungi, gak pernah dihubungi duluan. Liat foto-fotonya lagi setiap kali rindu. Pengen bilang kangen, selalu terasa tertahan. Bibir susah mengucapkan walau hati terus berteriak, ayo liat aku! Gimana dia bisa tau tentang perasaan ini?

BacaJuga

Perempuan di Antara Musim

Perempuan di Antara Musim

Januari 31, 2026
Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Januari 11, 2026
Pemilik Sepeda Tua

Pemilik Sepeda Tua

Januari 3, 2026
Narno

Narno

November 15, 2025

Mulai gundah gulana. Salah sendiri kenapa gak jujur?

Bilang aja…

Keberanian mulai terkumpul walau gak seratus persen. Saat semua udah tertumpahkan, hanya dianggap canda dan angin lalu. Sakit jadi aku? Pikir aja sendiri!

Lebih sakit lagi kalau dia pura-pura rindu juga, hanya untuk niatnya. Bisa dibilang bagian dari manipulatif. Mungkin ada yang dia inginkan. Jangan terbang lain kali kalau merasa dirindukan juga. Bisa jadi itu bohongan. Semua manusia pernah menyakiti, apa dia tau udah berapa kali dia menyakiti? Apa dia sadar bahwa menyakiti diri ini juga termasuk hal yang dibenci Tuhan? Ya, ini mencintai tanpa tahu akibatnya. Terus mencinta, terus dan terus.

Sebentar merasa lelah, tapi masih dilanjut. Terus cemburu buta, nangis-nangis lagi. Lelah? Sebentar iya tapi gak tau kenapa masih pengen coba terus. Dilanjut terus tanpa paham resikonya. Padahal lelah disakiti terus, kok rasanya percaya kalau suatu saat nanti dia akan cinta juga? Siapa yang menceritakan dongeng itu?

Mau sampai kapan? Udah mulai pasrah. Dia terlihat bahagia kok, kenapa diri sendiri merasa sulit sekali? Salahnya dimana? Rasanya besar. Sulit mungkin. Tidur juga suka mimpi tentang dirinya. Walau realita dan mimpi berbanding terbalik, itu sedikit menghibur. Mimpi ini terlalu indah, aku ingin terus hidup di dalamnya.

Sialan, realitanya dia tidak menyukai. Harus apa sekarang? Berharap lagi? Sampai kapan?

Lagi-lagi hati ini sulit. Sebelumnya diri ini pernah rasakan hal yang seperti ini. Ini hanya perihal waktu aja. Ayolah, senyum ini harus merekah kembali. Perlahan tapi pasti, aku yakin.

Udah lelah ini itu, dia memang tak pernah menoleh ke arahku. Usaha apalagi? Terasa sangat melelahkan. Akhir-akhir ini pundak terasa semakin berat. Niatnya ingin menjadi teman berbagi, rasanya sulit jika menanggung sendirian.

Mungkin aku bukan tipenya. Tidak masalah. Aku sudah terbiasa jatuh cinta sendiri. Sulit untuk menemukan rasa suka yang tulus. Lebih sering dibalut kepalsuan, cinta semu yang ada maunya. Aku baik-baik saja, tenang aja.

Tapi satu hal yang ku tau adalah bahwa setiap kali rasa suka ini menggebu-gebu dan mungkin berada di titik puncak yang sangat berapi-api, tapi selalu ada waktunya nanti menjadi redup dan mati. Begitu pula perasaanku sekarang, sudah kadaluarsa.

Tidak ada lagi rasa menggebu-gebu. Rasa ingin tau pun memudar. Tak ingin carimu lagi karena semua hal tentangmu kini ku sadar adalah luka. Aku terus melukai diriku. Mau sampai kapan?

Apa kemarin aku jatuh dari tempat tidurku? Kenapa aku bisa sesadar ini? Kemarin kenapa aku bodoh sekali? Perasaan yang dulunya jatuh sejatuh-jatuhnya untukmu kini berubah ogah-ogahan. Sadar ternyata kau tidak begitu spesial. Lagian masih banyak yang lain selain dirimu.

Kini kusadari bahwa rasa sukaku sudah kadaluarsa. Kemarin pun aku menyukai seseorang juga berakhir sama. Sampai aku lelah beneran, saat itu juga merasa bahwa cintaku sudah habis mungkin. Rasa sukaku tak lagi menggebu-gebu. Keingintahuan berubah menjadi bodoh amat, peduli apa?

Ternyata benar semua ada waktunya, begitu kata orang biar waktu yang menjawab.

Gambar utama diolah dengan menggunakan Meta AI

Tags: Acha HallatuSastraSastra Akhir Pekan
SummarizeShare234Send
Previous Post

Samin Surosentiko Menolak Kekuasaan Monolitik

Next Post

Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

Acha Hallatu

Acha Hallatu

Penulis muda dari Medan yang telah menulis buku Catatan Aku Anak Psikologi dan “Aku, Dia, dan Patah Hati yang Unchhh”. Buku-buku ini tersedia di Google Play Book dan Shopee. Email : hallatuacha@yahoo.co.id. IG : achahallatu.

Related Posts

Perempuan di Antara Musim
Cerpen

Perempuan di Antara Musim

by Nanerl Pangestuti
Januari 31, 2026
0

"Ibuuu!! Ada empat siput berjejer di dekat tanaman tomat," terdengar sayup-sayup suara anak kecil melengking nyaring dari kejauhan. “Cepat, Bu....

Read moreDetails
Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Januari 11, 2026
Pemilik Sepeda Tua

Pemilik Sepeda Tua

Januari 3, 2026
Narno

Narno

November 15, 2025
Pak Jajak Dibunuh Cita-citanya

Pak Jajak Dibunuh Cita-citanya

Januari 11, 2026
Wiji Thukul, Penyair Yang Ditakuti Orde Baru

Wiji Thukul, Penyair Yang Ditakuti Orde Baru

Oktober 11, 2025
Buniah Tak Terlupa

Buniah Tak Terlupa

Oktober 5, 2025
Next Post
Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Driyarkara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA