Selasa, Februari 10, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
Mural : Antara Seni dan Makna yang Tak Pernah Habis

Mural : Antara Seni dan Makna yang Tak Pernah Habis

Redaksi Idenera by Redaksi Idenera
Januari 2, 2026
in Filsafat, Narasi
Reading Time: 4 mins read

POIN PENTING

  • Hidup manusia tidak pernah lepas dari seni.
  • Mural berasal dari bahasa Latin murus yang berarti dinding. 
  • Mural dalam teori Dekonstruksi Derida
  • Makna mural harus selalu ditangguhkan dan dibedakan terus menerus

Hidup manusia tidak pernah lepas dari seni. Perkembangan seni kiranya juga berbanding lurus dengan perkembangan manusia. Dengan kata lain, seiring berkembangnya zaman, seni pun semakin maju dan beragam bentuknya.

Dewasa ini, banyak sekali bentuk-bentuk karya seni. Salah satu bentuk karya seni adalah mural. Mural seringkali kita jumpai di banyak tempat seperti di pinggir jalan atau di sudut-sudut kota. Beberapa mural tentu menarik perhatian dan membuat pengamatnya mencoba memahami apa yang dimaksud pelukis mural lewat lukisannya. Sebagai contoh, foto di bawah ini adalah salah satu lukisan mural di Tambak Bayan Surabaya.

Selintas akan timbul sebuah pertanyaan ‘apa makna dari mural tersebut?’ dan perlahan mencoba mengamati lebih dalam dan mencari maknanya. Sudah tentu bahwa gambar mural di atas akan dimaknai secara berbeda-beda antara pengamat satu dengan yang lain. Nampaknya makna mural tidak akan pernah ada habisnya.

Mural

Mural berasal dari bahasa Latin murus yang berarti dinding. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mural berarti “lukisan pada dinding”. Istilah mural adakalanya juga dipakai untuk menyebut struktur lengkung atau kubah yang menempel pada dinding. Dinding dipandang tidak hanya sebagai pembatas ruang maupun sekedar unsur yang harus ada dalam bangunan rumah atau gedung, namun di dinding juga dipandang sebagai medium untuk memperindah ruang. Dinding atau tembok yang biasanya difungsikan hanya sebagai pembatas ruangan. Bagi seni mural, dinding merupakan media yang tepat dan sesuai untuk berekspresi.

Baca juga:

Tabir Getir Child Grooming dalam Buku Broken Strings

Tabir Getir Child Grooming dalam Buku Broken Strings

Februari 2, 2026
Perempuan di Antara Musim

Perempuan di Antara Musim

Januari 31, 2026

Dalam perjalanannya, mural kerapkali disamakan dengan grafiti. Mural dan grafiti berbeda. Grafiti lebih menekankan pada tulisan-tulisan sedangkan mural menekankan pada keindahan dan nilai. Mural mencoba menyampaikan nilai dalam lukisannya sedangkan grafiti mencoba menyampaikan tulisan yang dihasilkan. Tambahan lagi, grafiti kebanyakan dibuat dengan cat semprot sedangkan mural tidak demikian. Seni mural lebih bebas karena dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu.

Dalam perkembangannya mural telah menjadi bagian dari seni publik yang melibatkan komunikasi dua arah. Pelukis mural melakukan komunikasi secara visual kepada masyarakat. Masyarakat sebagai penikmat mural dapat berinteraksi langsung dengan pelukis. Oleh karena itu, seni mural tidak hanya berinteraksi secara visual namun juga secara verbal. Adapun beberapa fungsi mural, pertama, fungsi politik yakni mural digunakan untuk menyuarakan aspirasi rakyat atau menyampaikan pesan politik. Kedua, fungsi sosial budaya yakni mural digunakan untuk memunculkan kebudayaan khas dari suatu wilayah atau daerah sehingga memunculkan identitas kota. Ketiga, fungsi estetik yakni mural digunakan untuk menambah keindahan dari suatu ruangan. Keempat, fungsi ekonomi yakni mural digunakan untuk kepentingan ekonomi seperti iklan-iklan produk.

Jacques Derrida

Jacques Derrida dilahirkan pada tahun 1930 di Algeria, Aljazair. Pada tahun 1952, Derrida belajar di Ecole Normale Superieure. Tahun 1953 hingga 1954, Derrida pergi ke Leuven, Belgia untuk studi teks milik Husserl. Tahun 1960 hingga 1964, Derrida mengajar di Universitas Sorbonne lalu kembali ke Ecole Normale Superieure. Selain itu, ia juga sempat mengajar sebagai dosen tamu di beberapa universitas lainnya. Derrida meninggal pada tahun 2004.

Derrida terkenal dengan teorinya mengenai dekonstruksi. Terdapat dua konsep dalam dekonstruksi, yakni deskripsi atau penggambaran dan transformasi. Dalam kajian lintas ilmu, dekonstruksi digambarkan sebagai kekuatan untuk mengubah dan membelah kepastian dan pakem-pakem lama yang tidak lagi dipertanyakan. Ada beberapa istilah yang kiranya punya kaitan dengan dekonstruksi, yakni differance, trace, dan iterabililtas. Kata differance merupakan kata bentukan dari Derrida. Kata differance terdiri dari dua kata yakni to differ (untuk membedakan) dan to defer (untuk menunda kepastian). Singkat kata, kata differance ingin menunjukkan bahwa kebenaran dan makna dalam suatu teks harus terus dibedakan dan ditangguhkan kepastiannya. Oleh karena itu, makna tidak bisa diputuskan. Oleh karena kebenaran selalu ditangguhkan dan dibedakan terus menerus, maka kebenaran itu sendiri pada dasarnya tidak ada. Hanya jejak-jejak atau trace dari kebenaran yang kiranya dapat ditemukan dan diketahui. Sedangkan iterabilitas merupakan kemampuan suatu teks untuk selalu dimaknai terus menerus dalam konteks yang berbeda-beda.

Mural di jembatan penyeberangan orang (JPO) depan Grahadi Surabaya (29.08.25). Foto : Andre Yuris

Makna Mural yang Tak Pernah Habis

Sudah dikatakan di awal bawa mural berbeda dengan grafiti. Mural punya nilai yang ingin diusung atau ditampilkan kepada pengamatnya. Hal tersebut yang menyebabkan pengamat dapat menangkap nilai atau makna dari suatu mural. Setiap pengamat dapat secara bebas untuk memaknai suatu mural. Pengamatan antara satu orang dengan yang lain pastinya berbeda, sehingga makna yang dihasilkan juga berbeda-beda. Dengan kata lain, tidak ada makna yang pasti dalam mural.  Seperti contoh di atas, hasil pemaknaan mural akan berbeda-beda tergantung pengamatnya.

Nampaknya, hal ini persis seperti pemikiran Derrida bahwa makna harus selalu ditangguhkan dan dibedakan terus menerus. Pada akhirnya, Makna mural harus selalu ditangguhkan dan dibedakan terus menerus, baik dari makna pelukis mural maupun dari makna pengamat yang lain. Kebenaran makna dalam suatu mural pun hanya ditemukan dalam bentuk jejak-jejak yang tak lain adalah para pengamat mural. Dapat dikatakan bahwa makna suatu mural akan sebanyak pengamat yang melakukan pemaknaan. Suatu mural akan selalu terbuka untuk selalu dimaknai. Oleh karena itu, makna suatu mural tidak akan pernah habis dan selalu baru sesuai dengan pemaknaan pengamatnya.

SummarizeShare234Send
Previous Post

Jaga Sungai Bersama Aeshnina dan Polisi Air di Wonosalam

Next Post

“G30S”, Sejarah Si(apa)?

Redaksi Idenera

Redaksi Idenera

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kontribusi dalam bentuk tulisan opini, reportase, resensi dan cepen dapat dikirim ke: redaksi.idenera@gmail.com. Semua tulisan dikurasi sebelum dipublikasi.

Related Stories

Indonesia, Negeri Imajinasi

Indonesia, Negeri Imajinasi

by Simon Untara
Januari 26, 2026
0

Berpikir tentang Indonesia dan kaitannya dengan mitos mengingatkan saya akan bentukan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa (nation state). Adalah Thomas Hobbes yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan suatu...

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

Apakah Ateisme Sudah Ketinggalan Jaman?

by Fian Roger
Januari 22, 2026
0

Pada zaman dulu, karya agung bisa dituliskan dalam batu zamrud. Manusia menolak hal-hal sederhana, dan mulai menulis banyak traktat, tafsiran-tafsiran, dan kajian-kajian filosofis. Mereka juga mulai merasa tahu...

Solusi Palsu Pemerintah Atasi Darurat Sampah

Solusi Palsu Pemerintah Atasi Darurat Sampah

by Redaksi Idenera
Januari 21, 2026
0

Alih-alih mengatasi persoalan sampah, solusi palsu yang ditawarkan pemerintah justru mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan warga.

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

by Redaksi Idenera
Januari 20, 2026
0

Tidak terbantahkan dan tak dipungkiri bahwa segala sesuatu di kehidupan ini, terbentuk dalam suatu sistem yang berkaitan satu sama lain. Kelangsungan hidup masing-masing subsistem bergantung pada subsistem yang...

Next Post
“G30S”, Sejarah Si(apa)?

“G30S”, Sejarah Si(apa)?

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Follow us

Artikel Terbaru

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Ajaran Islam dan Kerusakan Lingkungan

Januari 20, 2026
Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Lenyapnya Sisi Politis Reyog

Januari 19, 2026

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2025 Idenera.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2025 Idenera.com