Yuval Noah Harari memprediksi bahwa pada 2050, banyak pekerjaan yang ada hari ini akan hilang. Jika demikian, pertanyaannya: apa sebenarnya yang dimaksud dengan “relevansi industri”? Siapa yang berhak menentukannya? Dan apakah ukuran relevansi hari ini masih akan bertahan dalam 5 atau 10 tahun ke depan?
Bekerja memang penting, tetapi pendidikan tidak dapat direduksi hanya sebagai jalur menuju penyerapan tenaga kerja. Pendidikan bertujuan membentuk manusia menjadi lebih manusiawi—bukan sekadar instrumen bagi kebutuhan industri. Jika orientasi ini hilang, pendidikan kehilangan makna dasarnya.
Penutupan Prodi
Rencana Kemendiktisaintek untuk menutup prodi yang dianggap tidak sesuai dengan sektor industri nasional berangkat dari satu asumsi: banyaknya lulusan yang tidak terserap di dunia kerja. Namun, pertanyaannya, apakah menutup program studi benar-benar menyelesaikan persoalan itu?
Masalahnya lebih mendasar. Yang perlu dibenahi bukan sekadar daftar prodi, melainkan tata kelola pendidikan tinggi itu sendiri. Alih-alih penutupan, yang dibutuhkan adalah perbaikan sistemik—dari kurikulum, kualitas pembelajaran, hingga relasi dengan dunia kerja dan masyarakat. Sepinya peminat tidak serta-merta berarti suatu disiplin kehilangan relevansi. Dalam konteks ini, prinsip subsidiaritas antarprodi menjadi penting: program studi kecil tetap layak dipertahankan jika memiliki urgensi intelektual dan sosial.

Universitas-universitas besar dunia seperti Harvard University dan University of Cambridge tetap mempertahankan prodi filsafat—meskipun peminatnya tidak sebesar bidang lain. Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak semata-mata mengikuti logika pasar, tetapi juga menjaga fondasi intelektual dan kultural.
Oleh karena itu, menutup prodi-prodi humaniora dan bidang lain yang dianggap “tidak relevan” dengan sektor industri bukanlah langkah maju, melainkan kemunduran—bagi kebudayaan, dan pada akhirnya, bagi peradaban itu sendiri.
Pemerintah perlu menengok pengalaman pendekatan pragmatis yang hanya membuka program studi terapan. Namun, yang terjadi adalah ilmu justru menjadi mandek. Inovasi lahir dari perjumpaan antara ilmu terapan dan ilmu murni. Karena itu, disiplin murni seperti filsafat, sosiologi, dan antropologi tetap krusial sebagai sumber refleksi dan pembaruan.
Jika melihat data program studi dengan tingkat penggaguran terbesar, menariknya, bidang seperti filsafat tidak muncul sebagai penyumbang signifikan. Sebaliknya, beberapa bidang teknis seperti computer engineering dan computer science justru menunjukkan angka pengangguran yang cukup tinggi. Kemungkinan karena sebagian perannya sekarang mulai tergantikan oleh otomatisasi dan AI. Ini menunjukkan bahwa “kedekatan dengan industri” tidak otomatis menjamin relevansi dan keberlanjutan.
Relevansi tidak bisa dipahami secara sempit dan jangka pendek. Ia harus dilihat dalam horizon jangka panjang, yaitu dalam kerangka kemanusiaan yang lebih luas. Pendidikan tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga membentuk kemampuan manusia untuk menghadapi masa depan yang belum pasti.
Gambar utama diolah dengan ChatGPT.












