• Contact
Jumat, Mei 1, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cerpen

Sebentar Lagi Kau Menuai

Acha Hallatu by Acha Hallatu
April 4, 2026
in Cerpen, Sastra Akhir Pekan
Reading Time: 3 mins read
0

Di bawa bercanda. Di bawa santai. Mau sampai kapan? Candamu sudah keterlaluan. Sangat keterlaluan. Bagaimana kalau latarmu kujadikan bahan lelucon? Aku tahu semua latarmu. Apapun yang kau ceritakan, kau merasa nyaman.

Ucapnya dengan mudah, jangan baper. Itu saja sudah baper.

Mungkin aku lagi laper, candaku. Hati sudah tergores, hanya diam saja. Menghitung pasir yang ada di pantai itu mustahil. Begitu pula dengan maafmu mudah menyembuhkan luka. Mustahil!

Seseorang pantas mendapatkan kesempatan kedua, katanya. Jika dia dengan secara sengaja menyia-nyiakannya, apa itu namanya khilaf? Semua orang pernah melakukan kesalahan, katanya. Lantas apa dibenarkan jika kesalahan yang sama di ulang kembali lalu mendapat maaf yang sama?

Andai saja lidah bertulang…

Kehidupan bukan hanya tentang tawamu saja. Candamu mungkin hari ini merajai obrolan di tongkrongan. Gelak tawamu diatas kesedihan orang lain. Kau lukis senyum palsunya sambil menepuk bahunya dengan santai berkata hanya bercanda saja.

BacaJuga

Goresan Tinta Kamar 23

Goresan Tinta Kamar 23

April 18, 2026
Perempuan di Antara Musim

Perempuan di Antara Musim

Januari 31, 2026
Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Januari 11, 2026
Pemilik Sepeda Tua

Pemilik Sepeda Tua

Januari 3, 2026

Rodamu terus berputar bahkan semakin cepat tanpa kau sadari karena leluconmu tentang kelemahan orang lain. Seperti cerita balok dan selumbar. Keluarkan dulu balok di mata kita sendiri. Kau akan sadar kalau ternyata kau pun tidak sempurna.

Hidup itu kejam, katanya. Mungkin karna orang-orang di sekitar yang kejam sampai kita tidak menikmati indahnya hidup itu.

Candamu kusambut dengan canda. Sedangkan candaku, ku simpan karna ku tahu canda tidak sebercanda itu. Canda juga ada aturannya. Jika kau tidak mengetahui aturannya, berhentilah bercanda.

Guraumu bukan gurauku. Guraumu kelewat batas, sedangkan gurauku memikirkan batasnya. Kau akan terlihat apakah kau teman yang baik atau bukan, dari caramu bergurau. Ini bukan soal kondisi hati lawan bicaramu, ini soal akal dan hatimu.

Tidak masalah, canda memanglah sebuah canda. Seseorang menerima meski hatinya terluka. Namun seseorang yang lainnya dengan berani menghentikan itu. Mungkin dia sudah memaafkanmu berulang kali. Tapi tanah dan langit mungkin tidak melupakannya.

Kelak tawamu yang paling keras saat itu berubah menjadi tangis yang paling dahsyat saat dibalas oleh realita yang ada. Bibirmu bergetar sambil berteriak dan bertanya kenapa dunia tidak adil? Tiba-tiba kau amnesia dengan semua perbuatanmu selama ini. Kau lupa hukum tabur tuai. Kau pikir hidupmu selalu penuh canda. Kau lupa ada banyak elemen dari hidup ini. Kau pikir kehidupan selalu berpihak denganmu.

Kau hampir tidak pernah mengambil waktu untuk dirimu sendiri. Menepilah sebentar. Setiap perjalanan panjang butuh istirahat yang cukup. Kelak kau akan mengerti jika kau sudah paham aturan bercanda. Jika hatimu keras setelah membaca peringatan ini, selamat untukmu. Kau mulai menyadari ada yang salah dengan dirimu.

Tulisan ini untukmu, dariku yang sering kau ajak bercanda. Aku berhenti menjadi humoris. Meski menjadi kaku terasa membosankan bagi orang lain, aku sadar aku hidup bukan untuk menyenangkan orang lain. Kesehatan mental diri sendiri lebih utama, begitu katanya.


Gambar utama dibuat dengan ChatGPT dari gambar tangkapan layar siaran ITV.


Tags: Acha HallatuCerpenSastra Akhir Pekan
SummarizeShare236Send
Previous Post

Surabaya: Pusat Kota Dipuji, Pinggiran Tak Digubris

Next Post

Fast Fashion Sumbang Mikroplastik Dalam Darah

Acha Hallatu

Acha Hallatu

Penulis muda dari Medan yang telah menulis buku Catatan Aku Anak Psikologi dan “Aku, Dia, dan Patah Hati yang Unchhh”. Buku-buku ini tersedia di Google Play Book dan Shopee. Email : hallatuacha@yahoo.co.id. IG : achahallatu.

Related Posts

Goresan Tinta Kamar 23
Cerpen

Goresan Tinta Kamar 23

by Acha Hallatu
April 18, 2026
0

Pah… Apa kabar? Di sini dingin. Di sini sunyi. Dan di sini sepi. Dennis merasa sangat kesepian. Namaku Dennis. Usiaku...

Read moreDetails
Perempuan di Antara Musim

Perempuan di Antara Musim

Januari 31, 2026
Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Januari 11, 2026
Pemilik Sepeda Tua

Pemilik Sepeda Tua

Januari 3, 2026
Narno

Narno

November 15, 2025
Pak Jajak Dibunuh Cita-citanya

Pak Jajak Dibunuh Cita-citanya

Januari 11, 2026
Rasa Sukaku (Udah) Kadaluarsa

Rasa Sukaku (Udah) Kadaluarsa

Oktober 18, 2025
Next Post
Peneliti Ecoton

Fast Fashion Sumbang Mikroplastik Dalam Darah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Telusur
    • Foto
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
  • Kolaborasi
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA