• Contact
Rabu, Mei 6, 2026
  • Login
idenera
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami
No Result
View All Result
idenera
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Sastra

Wiji Thukul, Penyair Yang Ditakuti Orde Baru

Redaksi Idenera by Redaksi Idenera
Oktober 11, 2025
in Sastra, Sastra Akhir Pekan
Reading Time: 2 mins read
0

Bagi generasi pecinta sastra dewasa ini, merupakan sebuah aib apabila tidak mengenal Wiji Thukul. Wiji Thukul merupakan seorang aktivis dan satrawan. Ia lahir di Sorogenen, Solo pada tanggal 26 Agustus 1963.

Wiji Thukul yang memiliki nama asli Wiji Widodo ini adalah seorang legenda dalam dunia sastra. Terutama sastra sebagai alat perjuangan bangsa. Karya-karyanya pada tahun 1998 menghentak dan memanaskan telinga penguasa orde baru. Puisinya menyadarkan jiwa yang takut dan tertekan karena penindasan yang berlarut.

Thukul mengajak para proletar untuk bangkit bersama. Suaranya menggema, menembus zaman, tanpa badan. Dia adalah aktivis yang termasuk dalam peristiwa hilangnya para aktivis dalam peristiwa 27 Juli 1998. Dia hilang bersama belasan pejuang lainnya. Sampai sekarang, tidak pernah diketahui apa yang sebenarnya terjadi pada penyair tanpa rasa takut ini.

Thukul bukanlah seorang kaya raya yang hidup penuh kemewahan. Dia hidup dalam keadaan yang serba sulit. Dia pernah mengamen puisi, berjualan koran, menjadi calo tiket bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah usaha mebel. Namun, kemelaratan tidak serta-merta membelenggu hasratnya untuk melakukan perlawanan. Sebaliknya, dia semakin berapi-api untuk menuntut keadilan.

Dia beberapa kali memimpin aksi massa untuk menyuarakan suaranya. Dia pernah ikut demonstrasi menentang pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT Sariwarna, sebuah perusahaan tekstil asli Solo.

Kisah Wiji Thukul diangkat dalam film Istirahatlah Kata-Kata yang disutradarai oleh Anggi Noen. Wiji Thukul diperankan oleh Gunawan Maryanto. Foto : Film Istirahatlah Kata-Kata

Thukul juga pernah memimpin aksi petani di Ngawi, yang kemudian berbuntut pada aksi pemukulan terhadap dirinya oleh aparat. Tidak hanya itu, Thukul juga harus mengalami luka parah di mata kanannya karena dihajar oleh aparat ketika memprotes PT Sritex bersama para karyawannya.

BacaJuga

Goresan Tinta Kamar 23

Goresan Tinta Kamar 23

April 18, 2026
Sebentar Lagi Kau Menuai

Sebentar Lagi Kau Menuai

April 4, 2026
Perempuan di Antara Musim

Perempuan di Antara Musim

Januari 31, 2026
Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Januari 11, 2026

Semua kekerasan yang dialamatkan padanya tidak lantas membuat Thukul menyerah. Dia terus melakukan perlawanan. Aksi protes, puisi kritik, dan karya-karya berani terus dia keluarkan. Hingga akhirnya, pada 27 Juli 1998, dia hilang dan tidak ditemukan sampai sekarang.

Jasadnya boleh hilang dan wujudnya boleh jadi tinggal sepotong foto dengan mata kanan yang terluka. Namun, semangatnya masih terus hidup bersama para sastrawan masa kini. Di zamannya, dia telah melakukan hal-hal besar yang seharusnya dilakukan oleh sastrawan kritis.

Puisi Thukul bukan melulu soal cinta yang menentramkan. Bukan pula soal Tuhan dan segala pertanyaan tentang-Nya. Puisinya adalah lambang perlawanan, keberanian, dan semangat untuk tidak tinggal diam dalam cengkeraman penguasa.

Redaksi Idenera

Yohanes Bryan Sabata, Fakultas Filsafat UKMW Surabaya

Redaksi Idenera

Tags: PuisiSastrawanWidji Thukul
SummarizeShare234Send
Previous Post

Eko Prasetyo : Perburuan Aktivis Harus Dihentikan

Next Post

PK Ditolak, Gubernur Jatim Salah dan Lalai Kelola Sungai Brantas

Redaksi Idenera

Redaksi Idenera

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kontribusi dalam bentuk tulisan opini, reportase, resensi dan cepen dapat dikirim ke: redaksi.idenera@gmail.com. Semua tulisan dikurasi sebelum dipublikasi.

Related Posts

Goresan Tinta Kamar 23
Cerpen

Goresan Tinta Kamar 23

by Acha Hallatu
April 18, 2026
0

Pah… Apa kabar? Di sini dingin. Di sini sunyi. Dan di sini sepi. Dennis merasa sangat kesepian. Namaku Dennis. Usiaku...

Read moreDetails
Sebentar Lagi Kau Menuai

Sebentar Lagi Kau Menuai

April 4, 2026
Perempuan di Antara Musim

Perempuan di Antara Musim

Januari 31, 2026
Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Sebulan Tak Ada Kabar dari Negeri Jiran

Januari 11, 2026
Pemilik Sepeda Tua

Pemilik Sepeda Tua

Januari 3, 2026
Narno

Narno

November 15, 2025
Pak Jajak Dibunuh Cita-citanya

Pak Jajak Dibunuh Cita-citanya

Januari 11, 2026
Next Post
PK Ditolak, Gubernur Jatim Salah dan Lalai Kelola Sungai Brantas

PK Ditolak, Gubernur Jatim Salah dan Lalai Kelola Sungai Brantas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IDENERA adalah media jurnalisme kepentingan publik yang berbasis di Surabaya. Kami tumbuh sebagai ruang jurnalisme berbasis komunitas yang menggabungkan semangat aktivisme, sukarela, kolaborasi, dan solidaritas warga.

Artikel Terbaru

Idenera Documentary

https://www.youtube.com/watch?v=TTzYdKzoHJk
  • Pedoman Hak Jawab
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Kebijakan Privasi
  • Diskusi
  • Mitra Karya

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Ide
    • Lingkungan
    • Filsafat
    • Eksplainer
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Foto
    • Telusur
  • Narasi
    • Warga
    • Kampus
    • Kampung Kota
  • Sastra
    • Novel
    • Cerpen
  • Kolaborasi
  • Redaksi
    • Tentang Idenera
  • Dukung Kami

© 2026 IDENERA BY NERA ACADEMIA